Individualitas Seorang Penulis

Ada diskusi Twitter menarik dengan beberapa orang yang gue hormati setelah gue publikasiin Menulis adalah Cinta. Pada artikel itu, gue kasih contoh gimana angsa Kanada bermigrasi jarak jauh dalam formasi V untuk memudahkan penerbangan mereka dan memungkinkan migrasi itu. Kita para penulis bisa nerapin pendekatan serupa untuk mencapai tujuan. Itu bakal ningkatin level bertahan hidup kita. Gitu poin gue.

Richard Oh menanggapi dengan sederet balasan yang intinya hal itu alami bagi burung-burung, tapi penulis dan seniman memiliki individualitas. Ada teori-teori ilmiah dan filosofis yang memperkuat pandangan itu. Beliau juga bilang, sudah sejak dulu seniman dan pemasar nggak berjalan bersama—mungkin karena formasi seperti itu dilihat sebagai langkah pemasaran. Bernard Batubara dan Dewi Lestari juga terlibat dalam obrolan itu.

Individualitas Seorang Penulis | Controversy

Yang membedakan pandangan gue dengan itu cuma satu: benar bahwa formasi itu alami bagi burung-burung, benar bahwa penulis dan seniman memiliki individualitas, tapi seindividualistis apa pun, manusia tetaplah makhluk sosial dan kelompok.

Pada esainya yang berjudul Reality is a Shared Hallucination, Howard Bloom bilang bahwa bayi berusia enam bulan punya telinga yang mampu mendengar dan memahami seluruh bahasa manusia. Tapi dalam empat bulan aja, karena perubahan dalam jaringan otak, nyaris dua per tiga dari kemampuan itu hilang.

Sel-sel otak bertahan hidup hanya jika terbukti diperluin untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik dan sosial si bayi, misalnya merangkak di karpet, memahami kata-kata dan bahasa tubuh ibunya, mempersepsikan sekitar, dan lain-lain. Setengah sel-sel otak, yang ada pas kita lahir, mati karena dianggep nggak penting buat kelangsungan hidup, terutama dalam konteks pengalaman sosial.

Saat baru keluar dari perut, bayi secara alami berusaha memahami dan beradaptasi dengan petunjuk-petunjuk sosial di sekitarnya. Sampe umur empat bulan, seorang bayi akan musatin pandangannya ke wajah-wajah manusia, jauh lebih banyak daripada ke hal-hal lain.

Ada sebuah keadaan yang disebut micro-coordination, ketika seorang bayi ngikutin mimik wajah ibunya dan ibunya gantian ngikutin mimik wajah si bayi. Bayi yang lagi lakuin itu sebenernya lagi belajar gimana memancarkan emosi yang dipancarkan juga oleh sekitarnya.

Bayi di bawah setahun yang ngeliat bayi lainnya sakit nunjukin tanda-tanda dia ngalamin sakit yang sama. Lewat salah satu studinya, D. Bischof-Kohler nyimpulin bahwa saat bayi di bawah dua tahun lihat bayi lainnya sakit, dia nggak cuma ngikutin ekspresi sakitnya, tapi bener-bener berempati.

Contoh-contoh di atas lebih banyak nunjukin bahwa manusia adalah makhluk sosial daripada kelompok. Itu karena gue udah ngasih banyak banget contoh bahwa kita adalah makhluk kelompok. Kalo lo baca artikel ini, di situ aja ada beberapa contoh.

Tapi kita pikir gampangnya aja, dengan contoh-contoh yang kita semua tau. Bayangin kalo lo dibuang dari keluarga lo, diremehin dalam pekerjaan, dianggep nggak berguna ama pacar lo, dipalakin pas dulu sekolah, dianggep culun ama temen-temen lo, dan nggak pernah bener-bener diterima di komunitas mana pun. Bisa dijamin lo bakal atau udah sakit jiwa.

Argumen lain: kalo kita bukan makhluk kelompok, kenapa kita besar-besarin kekaguman kita pada para pencipta ‘tunggal’—Steve Jobs-nya Apple, Bill Gates-nya Microsoft, dan lain-lain? Kenapa film-film aksi selalu ngangkat tokoh tunggal yang hebat nyaris nggak terkalahkan? Makhluk individualistis, seperti kucing, nggak terobsesi ama individualitas semacam itu. Kita lebih mirip kera yang belain temennya yang diserang atau anjing yang sedih saat tuannya nggak pulang. Argumen terakhir: kalo kita bukan makhluk sosial dan kelompok, nggak akan ada satu pun tren di dunia ini.

Bener bahwa kita semua punya individualitas. Lo nggak sama ama orang yang lagi duduk di sebelah lo. Tapi dilihat dari perspektif yang lebih luas, sebagai ras secara keseluruhan, kita adalah makhluk sosial dan kelompok. Apa pun kerjaan kita—penulis, seniman, pengusaha, dan seterusnya—gampang banget untuk bikin kelompok atau formasi dalam bentuk apa pun. Karena semua orang sadar: dua—apalagi dua puluh atau tiga puluh—lebih baik daripada satu.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

4 comments

  1. Perbedaannya memang hanyalah perspektif. Jika kita zoom-in maka manusia memiliki individualitas. Zoom-out jadi makhluk kelompok. Anjing pun begitu, kalau dizoom-in akan punya individualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *