Kekuatan Seorang Penulis

Semua ilmuwan pasti setuju apa yang gue bilang ini: otak kita udah dibentuk oleh evolusi untuk terus-menerus nganalisis masalah-masalah yang mesti kita hadapi buat bertahan hidup. Apa keadaan baik-baik aja? Adakah ancaman atau kesempatan besar? Apa semuanya normal? Kita harus deketin atau jauhin?

Dibanding dulu pas manusia masih hidup secara primitif dan tanpa hukum yang jelas, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin nggak terlalu mendesak buat kita yang tinggal di lingkungan perkotaan. Tapi poinnya: kita mewarisi otak model gitu, lengkap dengan mekanismenya, untuk nganalisis kesempatan dan ancaman. Suasana hati yang baik dan ketenangan pikiran, misalnya, adalah sinyal keamanan dan familiaritas.

Kekuatan Seorang Penulis | Controversy

Alex Todorov adalah akademisi yang mempelajari akar biologis di balik penilaian kita saat berhadapan ama orang asing. Dia bilang, lewat tatapan singkat, kita bisa mengevaluasi dua hal dari seorang asing: seberapa dominan (dan karena itu berpotensi mengancam) dan apa dia bisa dipercaya.

Salah satu petunjuk adalah bentuk wajah. Rahang yang kuat sering kali diartikan sebagai sifat dominan. Ekspresi wajah sering kali diartikan sebagai petunjuk tentang niat si orang asing. Kombinasi rahang kuat dan bibir cemberut diterjemahin sebagai orang ini bakal bawa masalah. Kombinasi rahang lemah dan bibir senyum mulu atau gerak-gerik grogi diterjemahin sebagai orang ini bukan ancaman—kalo di sekolahan, bisa jadi gini: palak aja.

Akurasi pembacaan wajah yang selalu kita lakuin secara otomatis sebenernya jauh dari sempurna. Bisa aja orang berahang kuat ternyata plin-plan dan orang berahang lemah tau-tau tegas. Senyum juga bisa dipalsuin saat seseorang ada maunya. Tapi tetep aja, orang yang tau gimana baca wajah dan bisa mainin wajahnya sendiri punya keuntungan dalam hal pertahanan hidup.

Percaya nggak percaya, hal itu punya dampak dalam dunia modern, misalnya pemungutan suara. Todorov pernah nunjukin ke murid-muridnya foto-foto beberapa laki-laki dan minta mereka menilai orang-orang itu dalam hal kompetensi dan kepribadian mudah disukai. Penilaian murid-muridnya ternyata mirip satu dengan yang lain. Dan itu bukan foto-foto ngasal. Itu foto-foto para politisi yang terlibat dalam pemilu di sebuah negara.

Abis itu, Todorov bandingin hasil pemilu yang sebenernya ama penilaian tentang kompetensi yang dibuat murid-muridnya. Hasilnya, sekitar 70 persen pemilihan untuk kursi senator, anggota dewan, dan gubernur dimenangi oleh orang-orang yang mukanya dapet nilai paling tinggi dalam hal kompetensi.

Penelitian yang sama dilakuin di Finlandia, Inggris, Australia, Jerman, dan Meksiko. Hasilnya sejalan ama penelitian Todorov. Itu cukup mengejutkan, kan? Saat penelitian itu dibuat, orang-orang nggak dikasihin konteks politik—visi, misi, janji, pesan, atau apa pun. Cuma foto aja. Dan hasilnya buktiin bahwa kita ternyata sangat terpengaruh ama bentuk dan ekspresi wajah. Penelitian itu juga nunjukin bahwa wajah yang mengesankan sifat mudah disukai ternyata nggak ngaruh saat orang-orang mesti menetapkan pilihan.

Terus apa hubungannya ama penulis? Jelas hubungannya adalah penulis bergerak di dunia yang cara kerjanya kurang-lebih sama ama politisi. Lo berusaha meraih (kepercayaan) pembaca. Di awal tadi gue bilang kita menilai dua hal dari seorang asing: seberapa dominan dan apa dia bisa dipercaya. Dominan dan kompeten serta bisa dipercaya dan kepribadian mudah disukai sebenernya sama aja, kan?

Poin gue: saat pembaca menilai seorang penulis, dia nggak peduli apa lo senyam-senyum mulu atau banyak ketawa. Dia mau tau lo bagus atau nggak, dia bakal dapet sesuatu atau nggak dari tulisan lo, dia rugi atau nggak ngeluarin duit buat beli buku lo, dan semacamnya. Akan lebih bagus kalo foto-foto lo—hari gini avatar mungkin yang terpenting—mancarin kompetensi sekaligus kepribadian mudah disukai. Tapi kalo lo nggak jago gaya, pilihlah kompetensi (atau kekuatan).

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

  1. Jadi penulis juga harus punya gaya gitu?
    Benar juga sih, kalau saya menerjemahkannya: harus punya personal branding yang kuat, karakter dan style yang kuat. Itu merupakan pondasi seorang penulis.

    1. Saat ini kan semua penulis aktif di media sosial. Di satu sisi, itu memudahkan penulis untuk memperkenalkan karyanya ke publik. Di sisi lain, ada aturan main yang gak selalu menyenangkan untuk dilakuin huehe….

  2. baca ini inget banget ketika gue nonton Divergent ngerasa Shailene Woodley gak cocok sebagai pemainnya. Pokoknya orang bertampang lembut dan melankolis gitu gak cocok masuk faksi Dauntless, itu bikin gue nyinyir. Itu yang bikin poin film Divergent agak jatuh di mata gue.
    Padahal tiap ada filmnya di tv sih gue tonton juga :)))

    1. Orang bertampang lembut dan melankolis ya cocoknya main drama hehe…. Sama kayak menurut gue aneh Tom Cruise main film aksi. Aktor aksi itu kayak Jason Statham. Baru pas. 😀

    1. Karakter wajah itu mungkin semacam gebrakan awal dalam pergaulan. Sama kayak ijazah dan portfolio bagus pas ngelamar kerja. Bicara nanti kerjanya bagus atau gak, mana tau….

      1. bukan gitu, saya pas liat wajah seseorang suka nebak2, ini orang kayaknya gini deh, sukanya gitu deh, namanya juga sok2 tau aja gan hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *