Waktunya Berhenti Jadi Penulis

Manusia, dengan segala proses pertimbangannya yang sering menghadirkan hasil paradoksal, adalah topik yang selalu menarik dibahas. Buat lo penggila sepeda: kalo gue minta lo sebutin tiga kejadian saat lo bersepeda dengan bergairah, pasti lo bisa sebutin dengan gampang, dan lo bakal yakin seratus persen lo cinta bersepeda.

Tapi kalo gue minta lo sebutin sepuluh kejadian, lo bakal tersendat setelah poin kelima atau enam, dan lo bakal tanya ke diri lo: apa mungkin gue sebenernya nggak segila itu dalam bersepeda? Masa sebutin sepuluh momen aja susah. Mungkin banyak banget yang lebih gila dan gue belum seberapa.

Waktunya Berhenti Jadi Penulis | Controversy

Buat kita semua: saat masa pemilu datang, kita dukung seorang kandidat biasanya karena dua-tiga hal utama aja, yang emang selalu digembar-gemborin. Tapi kalo gue minta lo sebutin dua belas nilai plus dari kandidat itu, lo akan kesulitan dan sadar bahwa dia mungkin nggak sespesial yang lo pikir sebelumnya. (Dua belas nilai plus harusnya nggak banyak buat seorang calon pemimpin negara. Apa gue kurang informasi atau kandidat ini emang nggak punya dua belas nilai plus?)

Pada awal 90-an, sebuah grup psikolog Jerman yang dipimpin Norbert Schwarz bikin penelitian dan ngasih dua soal ini ke sebuah kelompok partisipan:

Sebutin enam kejadian ketika lo bersikap atau berlaku tegas.

Menurut lo, sebagai manusia, lo setegas apa?

Ke kelompok partisipan lainnya dia ngasih dua soal ini:

Sebutin dua belas kejadian ketika lo bersikap atau berlaku tegas.

Menurut lo, sebagai manusia, lo setegas apa?

Hasil penelitian itu mudah ditebak: para partisipan yang diminta nyebutin enam kejadian menilai diri mereka jauh lebih tegas daripada mereka yang diminta nyebutin dua belas kejadian. Dan itu jelas kenapa. Nggak susah buat siapa pun untuk nyebutin enam contoh kejadian ketika mereka berlaku tegas. Mereka nggak tersendat. Karena itu, mereka yakin mereka tegas. Tapi kalo lo tersendat, kesulitan ngasih contoh, lo akan mulai meragukan diri lo. Mungkin gue sebenernya nggak gini, nggak gitu, dan lain-lain.

Kita semua ngerasa yakin saat cuma punya data sedikit, atau nggak punya data sama sekali. Saat kita punya data yang banyak atau lengkap, kita jadi banyak mikir, bertanya-tanya, dan ragu. Contoh kecil: walaupun nggak punya data, gue yakin banyak penulis mutusin jadi penulis karena cinta, bukan alesan lain. (Dari mana gue tau itu? Gue nggak pernah meneliti alasan para penulis mutusin jadi penulis.)

Gue sendiri mutusin jadi penulis karena alasan itu: cinta. Itu hanya satu alasan, kan? Bayangin kalo dulu gue bikin daftar berisi dua belas hal tentang kenapa gue mau jadi penulis. Mungkin gue nggak akan pernah jadi penulis. Gue akan tersendat. Terus gue sadar bahwa jadi penulis lebih banyak nggak enaknya daripada enaknya. Banyak banget tantangannya. Kadar ketidakpastiannya melebihi normal. Dan seterusnya.

Kecuali lo penulis besar, lo pasti pernah, setidaknya sekali, mempertimbangkan untuk berhenti nulis. Kenapa? Karena sekarang lo punya data lebih banyak tentang dunia tulis-menulis. Dan lo mungkin udah ngalamin sebagian di antaranya. Lo ngerasa industri ini tai banget. Waktunya berhenti jadi penulis.

Banyak orang bilang, masalah mendasar di dunia ini adalah orang-orang bodoh begitu yakin, sedangkan orang-orang cerdas begitu ragu. Orang-orang bodoh itu jelas yakin karena perspektif mereka sempit saat ngeliat segala sesuatu. Tapi khusus untuk dunia tulis-menulis, saran gue cuma satu: tetaplah bodoh. Sejak awal, di dunia yang kacau ini, cinta emang sesuatu yang bodoh. Tapi lebih baik hidup dengan cinta dan dedikasi daripada kehilangan harapan dan menyerah.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

  1. Kalo baca artikel di controversy, saya selalu tebak-tebak dulu endingnya bakal mengarah kemana, tapi selalu gagal 🙁
    Saya suka yang satu ini, bikin merinding. Endingnya juga jauh dari perkiraan awal saya hahaha. Good job Bang Elia 😀

  2. tampaknya saya masuk kategori bodoh yg begitu yakin dengan perspektif diri sendiri, dan karena contohnya adalah bersepeda, baiklah mari catat 10 momen menggairahkan yang diingat2
    1. belajar sepeda waktu kecil ama sepeda onthel punya siapa lupa
    2. naik sepeda butut bekas yang nekat dibawa sampai banjarmasin saking pengennya punya sepeda
    3. pake sepeda singe speed pinjeman sepupu demi mengunjungi seseorang puluhan kilo,
    4. perjalanan lumayan rutin ke pakem
    5. mengelilingi merapi pada suatu waktu
    6. ke tawang mangu lewat jalur alternatif
    7. kurang kerjaan ke parangtritis
    8. ke kampus
    9. ke ponorogo itu tentu
    10. waktu ke sermo via
    11. cinomati yg legendaris
    sisanya liat di http://auk.web.id/?page_id=3733 *malah ngiklan haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *