Saran Menulis yang Menyesatkan

Kalo gue bilang salah satu hal tersulit di dunia ini adalah mengetahui realitas—jangankan memahami; mengetahui aja dulu—lo mungkin nggak setuju. Kita adalah generasi yang punya seluruh informasi dalam genggaman. Tiap hari kita baca atau lihat berita, bisa di internet, TV, koran, dan seterusnya.

Kalo gue bilang dunia di kepala kita sering kali berbeda dari dunia yang sebenernya, lo mungkin juga nggak setuju. Kita semua memperoleh informasi dari sumber-sumber yang kurang-lebih sama—walaupun ada banyak media di dunia, media yang kita jadiin acuan hampir selalu media yang besar dan punya reputasi, dan mereka tentu nggak beritain sesuatu asal-asalan. Ada standar jurnalistik yang mesti dipenuhi.

Saran Menulis yang Menyesatkan | Controversy

Tapi inilah yang terjadi: di Amerika pernah ada survei tentang penyebab-penyebab utama kematian. Para peneliti bandingin jawaban publik ama data yang ada. Gini poin-poinnya:

Kematian karena kecelakaan dianggap lebih mungkin terjadi daripada kematian karena stroke, padahal jumlah kematian karena stroke hampir dua kali lipat lebih tinggi daripada jumlah kematian karena seluruh jenis kecelakaan digabung jadi satu.

Tornado dianggap lebih banyak bunuh orang dibanding asma, padahal asma membunuh orang dua puluh kali lipat lebih banyak.

Kematian karena sambaran petir dianggap lebih jarang terjadi dibanding kematian karena botulisme (keracunan makanan akibat bakteri bernama botulinum yang tumbuh dalam makanan kaleng karena nggak disterilisasi dengan benar), padahal sambaran petir membunuh 52 kali lebih banyak daripada botulisme.

Kematian karena kecelakaan dianggap lebih mungkin terjadi daripada kematian karena diabetes, padahal jumlah kematian karena kecelakaan hanya seperempat dari jumlah kematian karena diabetes.

Kesimpulan penelitian itu gini: perkiraan masyarakat tentang penyebab-penyebab kematian sangat dipengaruhi oleh pemberitaan media. Tapi pemberitaan itu sendiri bias, sangat bergantung pada hal-hal yang baru terjadi dan sering diomongin orang. Media emang membentuk opini publik, tapi opini publik juga membentuk pemberitaan media. Kalo publik lebih pengen denger tentang botulisme daripada sambaran petir, mendadak botulisme jadi isu besar dan berbahaya, sedangkan sambaran petir jadi nggak bahaya lagi, terlepas dari gimana kenyataan yang sebenernya.

Apa hal semacam itu terjadi dalam dunia tulis-menulis? Kalo lo tanya gue, gue bakal bilang iya. Banyak saran ngawur diucapin entah karena publik seneng denger gituan atau karena si pemberi saran pengen terlihat keren sehingga ngucapin hal-hal keren, nggak peduli bener atau ngaco.

Satu contoh (ini lo sering banget denger): tanpa rasa cinta pada profesi, menulis mustahil dilakukan. Itu nggak sepenuhnya ngawur sebenernya. Jelas penulis cinta menulis. Tapi menulis adalah proyek jangka panjang. Dan seperti semua proyek jangka panjang di dunia ini, yang terpenting adalah komitmen. Komitmen melahirkan disiplin. Saat nulis novel berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, penulis nggak selalu ngerasa pengen nulis. Tapi dia tetep nulis. Komitmen, bukan cinta, menggerakkannya. Jadi, cinta lo itu nggak usah dibesar-besarin. Jadilah pragmatis dan kelarin tugas lo.

Contoh lain: menulis itu seperti terapi. Terapi, emang, kalo bagi lo itu cuma hobi. Buat lo yang serius, menulis itu kerjaan. Lo nggak lakuin itu untuk nyeneng-nyenengin jiwa lo dan manjain pikiran lo. Lo garap tanah gersang, nyangkul tiap hari, entah gimana caranya bikin itu jadi subur, tabur benih, siramin, besarin entah tanaman apa yang lo tanam itu, dan seterusnya. Menulis itu meras pikiran dan emosi. Terapinya adalah nongkrong dan traveling.

Itu dua dari sederet kenyataan yang sebenernya tentang menulis. Nggak terdengar artistik atau romantis. Tapi prinsipnya emang selalu ini: kalo lo mau punya karya magis, jauhilah segala pikiran magis. Ambil cangkul lo dan garap tanah lo.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

14 comments

  1. Keren, setuju. Di socmed beberapa penulis kebanyakan cincong mengagung-agungkan proses yang sedang dijalaninya sebagai penulis. Galau DL lah, perlu kopi lah, lagi mentok lah, laptop disabot anak lah, menulis untuk keabadian lah bla bla bla. Teruuus…. mana karya yang membuatnya abadi itu? Masih di pikiran, masih di laptop, masih di penerbit, atau sudah dikunyah kritikus?

  2. Very well said. Can’t agree more 🙂

    Ini berlaku juga di bisnis. Banyak orang menganggap “enak jadi pebisnis”. Duit lancar, bisa atur waktu sesukanya. Faktanya, setahun mulai bisnis, capeknya ngalahin 5 tahun kerja 😀 Tapi kuncinya itu dia…. “Komitmen” 🙂

    Nice article 🙂

    1. Thanks! Orang yang gak pernah bisnis emang gak ngerti itu, Mas. Apalagi di sini budayanya pengusaha besar dibilang hebat, pengusaha kecil yang masih merintis dibilang orang gak jelas. Banyak cibiran yang mesti dihadapi. Itu juga ujian buat komitmen kita. 😀

  3. Bahahah.. Iya, El. Temen ku ada tuh yang sering koar-koar sibuk, eh ngga taunya seringan leyeh-leyeh. Goplaaaa, kalok bahasa Medannya 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *