Aktor Antagonis Bernama Media Sosial

Pada 1989 di Amerika ada sebuah kehebohan massal yang dikenal dengan Alar Scare. Alar adalah bahan kimia yang disemprotin ke apel untuk ngontrol pertumbuhannya dan memperbagus tampak luarnya.

Kehebohan itu berawal dari sejumlah artikel di media yang bilang bahwa Alar, kalo digunain dalam dosis terlalu besar, menyebabkan kanker pada tikus. Masyarakat jadi takut, dan ketakutan itu bikin media meliput hal itu secara lebih luas dan mendalam. Siaran-siaran berita mulai didominasi topik itu. Orang-orang terkenal, salah satunya aktris Meryl Streep, mulai bicara soal itu.

Aktor Antagonis Bernama Media Sosial | Controversy

Industri apel menuai kerugian demi kerugian karena apel dan produk apel dilihat sebagai objek ketakutan. Perusahaan-perusahaan apel dan produk apel narik jualan mereka dari pasaran. FDA Amerika (Food and Drug Administration) melarang itu untuk meredakan ketakutan masyarakat.

Yang menarik, berbagai penelitian setelah itu menyimpulkan bahwa Alar, kalo mau dilihat sebagai carcinogen (bahan kimia yang menyebabkan kanker), sebetulnya berisiko kecil banget, nggak ada apa-apanya dibanding rokok misalnya. Alar Scare, karena itu, adalah reaksi berlebihan pada β€˜masalah’ yang sebenernya minor.

Kita ambil contoh lain: aksi terorisme. Ada beberapa serangan besar yang terjadi, emang, salah satunya 9/11, tapi gimana dengan sebagian besar serangan? Seberbahaya apa? Bahkan di negara-negara yang sering jadi target teroris, jumlah korban saat serangan terjadi nggak ada apa-apanya dibanding jumlah korban kecelakaan lalu lintas hari itu di negara itu, bahkan di kota ituβ€”juga jumlah korban karena penyebab lain.

Mungkin salah satu penyebab gerakan terorisme masih ada sampe hari ini adalah liputan media. Banyak orang takut. Banyak orang pengen jadi sumber ketakutan. Banyak orang pengen diliput. Kalo kita cuekin aja, mungkin ada banyak orang yang nggak akan pernah gabung ke gerakan-gerakan itu, karena pada dasarnya nggak ada orang yang pengen jadi bagian dari sesuatu yang nggak penting.

Apa hubungannya ama media sosial? Jelas reaksi kita yang berlebihan pada sesuatu yang minor. Gue pernah kasih pertanyaan ini di artikel Intuisi yang Sempurna: kira-kira saat satu peristiwa besar terjadi, dari seluruh pembicaraan yang ada, berapa persen terjadi online?

Berdasarkan riset yang dibikin Keller Fay Group, sebuah firma yang bergerak dalam bidang riset pemasaran dan udah menangin banyak penghargaan, cuma 7%. Menurut gue sih mungkin lebih tinggi dari itu. Mungkin 15%. Tapi 7% atau 15%, dua-duanya tetep kecil.

Di masa depan persentasenya tentu bakal naik, tapi hari ini media sosial adalah sesuatu yang dinilai secara berlebihan. Tapi, kayak dalam kasus Alar Scare, lo liat orang-orang terkenal terlibat di media sosial. Mereka memuja inovasi baru ini karena berbagai alasan yang masuk akal. Sedangkan sejumlah seniman penggemar jalan kesunyian memilih meninggalkannya karena alasan-alasan yang nggak masuk akal (mereka lihat media sosial sebagai aktor antagonis dalam proses berkarya mereka)β€”dan semua itu diliput oleh media-media lain.

Seperti kita harus ngerti dulu apa itu Alar sebelum menilai Alar Scare, kita mesti ngerti dulu apa itu media sosial sebelum menilai dia protagonis atau antagonis. Media sosial hanya alat untuk nyebarin gagasan, sama kayak palu adalah alat untuk bangun rumah. Kalo media sosial dilihat sebagai tokoh antagonis dalam proses berkarya, maka itu adalah risiko yang kecil banget, sama kayak Alar berisiko kecil banget sebagai penyebab kanker.

Fenomena media sosial ini mirip banget ama Alar Scare. Menurut gue, aneh saat seorang seniman nyatain pendapat yang sangat subjektif dan nggak masuk akal. Karena seorang seniman adalah seorang intelektual. Suaranya didengar.

Saran gue: jangan telan bulet-bulet apa pun yang lo denger (termasuk artikel ini). Pertanyakanlah segala sesuatu, sebab mempercayai segala sesuatu adalah akar segala kebodohan.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

11 comments

  1. Demagogis…
    Jadi inget kasus narkoba sampe dikenain hukuman mati, padahal gula (penyebab diabetes) yang lebih ngebunuh banyak orang masih bebas-bebas aja hahaha.
    Ah iya, kadang saya suka bersifat sangat skeptis sama suatu hal, tapi lupa kadang ada hal-hal yang langsung di telan mentah-mentah. Suka kebablasan huahaha πŸ™‚

    1. Ah emang lebay itu. Berapa banyak sih orang pake narkoba di Indonesia? Cuma mainan segelintir orang kota besar aja itu. Jumlah kota besar di Indonesia aja keitung jari…. Selain itu, mana bisa kita ngarepin orang asing percaya sistem peradilan sini yang korup gini? Kita aja orang Indonesia gak percaya haha.

      Ngomong-ngomong tentang gula, gula itu sebenernya juga dibutuhin tubuh kita. Itu kan sumber energi cepat. Yang bahaya dan sampe membunuh itu kalo gula dikonsumsi berlebihan. Segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan kan emang gak bagus…. πŸ˜€

  2. Media memang paling bisa tuh nyebarin masalah sepele. πŸ™

    Terorisme kalo gak dianggap penting gak bakal booming dan seheboh sekarang mungkin ye πŸ˜€ bener juga kata bang El.. πŸ˜€

  3. Setuju, El!

    Sering kali kita percaya sama berita di internet, terutama hoax. Tentunya yang disertai berbagai bumbu biar banyak rasa πŸ™

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *