Seni Meramal Masa Depan #1

Setiap orang berhak memiliki definisinya sendiri tentang ‘sukses’. Ada yang bilang sukses itu saat lo lakuin apa yang lo mau dari bangun sampe tidur, saat lo bahagia dengan apa yang lo miliki, dan semacamnya. Tapi bukan definisi filosofis tentang sukses yang mau gue bahas. Menurut gue, itu basi. Yang mau gue bahas adalah sukses dalam arti sebenernya, yaitu mencapai—bahkan melampaui—target.

Beberapa tahun yang lalu, John Brockman, editor sebuah majalah online, minta para ilmuwan untuk ngasih formula favorit mereka. Inilah yang Daniel Kahneman kasih:

Success = talent + luck

Great success = a little more talent + a lot of luck

Seni Meramal Masa Depan #1 | Controversy

Konsep keberuntungan masih diperdebatkan oleh banyak orang karena ada yang setuju dan nggak setuju dengan itu. Tapi Kahneman punya penjelasan bagus. Dia ngasih contoh turnamen golf profesional—karena turnamen golf sering kali dilakuin dalam dua hari, sehingga hasil hari pertama dan kedua bisa dibandingin.

Karena banyak dari kita nggak akrab dengan istilah-istilah dalam golf, gue akan coba nyederhanain penjelasan Kahneman.

Anggaplah kita bandingin dua pemain dalam sebuah turnamen olahraga. Pemain pertama hebat banget dan cetak angka 60 pada hari pertama, sedangkan pemain kedua payah dan cuma cetak angka 10. Apa yang bisa kita simpulin dari kedua pemain itu?

Above-average score on day 1 = above-average talent + lucky on day 1

Below-average score on day 1 = below-average talent + unlucky on day 1

Berdasarkan informasi itu, apa yang bisa kita prediksi tentang kedua pemain itu pada day 2? Pertama-tama, talent (atau bakat atau kemampuan) mereka nggak berubah. Yang hebat tetep hebat, yang payah tetep payah. Tapi gimana kita memprediksi keberuntungan mereka? Susah. Hal terbaik yang bisa kita lakuin adalah nempatin keberuntungan mereka pada level rata-rata. Dan hasilnya akan beda dari hari pertama. Kira-kira gini:

Pemain yang hebat itu akan tetep hebat pada hari kedua, tapi nggak sehebat pada hari pertama, karena keberuntungan besar yang dia peroleh pada hari pertama memiliki kemungkinan yang kecil untuk terulang.

Sedangkan pemain yang payah itu akan tetep payah pada hari kedua, tapi nggak sepayah pada hari pertama, karena kesialan yang dia peroleh pada hari pertama memiliki kemungkinan yang kecil untuk terulang.

Itu teori expected value, yang pernah gue bahas dalam artikel Keputusan Terburuk dalam Hidup. Jadi, katakanlah pemain hebat itu mencetak angka 60 pada hari pertama dan 40 pada hari kedua, sedangkan pemain payah mencetak angka 10 pada hari pertama dan 20 pada hari kedua. Awalnya, skor mereka 60 berbanding 10. Setelah dua hari, kalo dirata-rata, performa mereka jadi gini:

Pemain pertama (100 : 2 = 50)

Pemain kedua (30 : 2 = 15)

Perbedaan rata-rata performa mereka menyempit dari 50 (hari pertama) jadi 35 (setelah dua hari). Pada akhirnya, pemain hebat itu akan tetep menang karena emang punya talent lebih besar. Tapi poinnya, keberuntungan dan kesialan itu ada dalam hidup semua orang.

Kalo lo masih bingung kenapa keberuntungan pemain hebat itu lebih mungkin untuk menurun daripada meningkat pada hari kedua, bayangin angka-angka keberuntungan lo dalam bentuk sebuah dadu. Saat keberuntungan lo ada di angka 5, kemungkinannya meningkat ke angka 6 hanya 1/6, sedangkan kemungkinannya untuk menurun ada 4/6.

Bukannya nggak mungkin si pemain hebat itu akan main lebih hebat lagi pada hari kedua. Mungkin. Tapi kecil kemungkinannya (hal sebaliknya berlaku buat si pemain payah). Kita emang bicara probabilitas, bukan kepastian. Yang pasti dalam hidup itu nggak ada, tapi yang lebih mungkin terjadi jelas ada.

Kemungkinan terakhir: mungkinkah kedua pemain itu main pada level yang sama pada hari kedua? Bisa aja, tapi dengan analogi dadu, kemungkinannya hanya 1/6. Sekarang coba jawab ini: apa lo bisa buat dua tanda tangan yang sama persis? Nyaris mustahil, kan? Tanda tangan kedua lo pasti lebih bagus atau lebih jelek—atau lebih tepat atau nggak tepat. Jadi, apa lo percaya sukses adalah kombinasi talenta dan keberuntungan?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

7 comments

    1. Kalo talent saya justru percaya banget, meski gak dalam segala sesuatu hehe. Dalam hal-hal tertentu, antara lain musik, dengan kerja keras yang sama orang yang lebih talented akan lebih jago daripada orang yang gak talented. Menurut saya sih itu genetik. Sama kayak mau pake whitening lotion sebanyak apa pun, orang berkulit gelap gak akan pernah jadi lebih putih daripada orang kulit putih.

      Konsep keberuntungan emang lebih sulit diterima karena kita secara alami lebih percaya kausalitas–ini terjadi karena itu, itu terjadi karena ini, dst. Padahal banyak juga hal yang terjadi tanpa proses sebab-akibat itu huehe…. 😀

      1. Iya, yang saya maksut lingkungan yang menjadikan talent itu muncul haha #ngeles. Kalo yang genetik itu saya jelas percaya hehehe.
        Nah kalo yang masalah keberuntungan, apa sebenarnya kita suka ga sadar aja kalo yang kita lakukan sekarang bisa jadi mengarah ke suatu hal nanti yang disebut beruntung itu? (ngomong apa saya ini).

        1. Bisa jadi sih.. Saya juga gak ahli soal ini 😛 Itu kan dari buku-buku yang saya baca haha

          Yang jelas, keberuntungan lebih bisa diukur kalo kita selalu kasih kemampuan terbaik. Karena kalo kita nyontek, ndompleng sama orang, atau yang kayak gitulah, kita nebeng nasibnya orang lain jatohnya. Kalo gitu ya keberuntungan kita sendiri gak bisa dinilai….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *