Seni Meramal Masa Depan #2

(Baca dulu Seni Meramal Masa Depan #1 supaya nangkep konteks keseluruhan dan teori dasarnya. Artikel ini adalah lanjutan dari yang sebelumnya.)

Kalo lo mikir meramal masa depan adalah kerjaan paranormal, atau kalo lo mikir masa depan nggak boleh diramal karena itu bukan bagian kita, lo mesti mikir ulang. Dalam hidup ini kita dituntut untuk meramal masa depan setiap waktu.

Ahli ekonomi meramal inflasi dan tingkat pengangguran, analis finansial meramal tingkat pendapatan, penerbit dan produser meramal audiens dan potensi penjualan. Dalam kehidupan pribadi, kita meramal reaksi pasangan kita terhadap langkah pindah kerja yang kita ambil dan konsekuensinya terhadap kelangsungan hidup. Meramal masa depan bukan bagian siapa pun selain diri kita sendiri.

Seni Meramal Masa Depan #2 | Controversy

Berdasarkan teori yang udah dibahas pada artikel sebelumnya, gimana cara kita meramal, misalnya, kerjaan kita sendiri? Gue akan kasih contoh yang pernah dikemukakan oleh Max Bazerman.

Katakanlah lo itu manajer sebuah grup department store. Setiap toko sama dalam hal ukuran dan barang-barang yang dijual, tapi jumlah penjualannya beda-beda. Lo dikasih hasil penjualan pada 2014 dan diminta memprediksi penjualan pada 2015. Lo dikasih tau prediksi para ahli ekonomi bahwa pada 2015 penjualan akan naik 10% secara keseluruhan. Gimana lo selesaiin masalah ini?

Toko                2014                2015

1                      40 juta             ________

2                      30 juta             ________

3                      20 juta             ________

4                      10 juta             ________

Total                100 juta           110 juta

Cara paling gampang adalah dengan tambahin aja 10% pada tiap angka—tambahin 4 juta pada 40 juta, 3 juta pada 30 juta, dan seterusnya—tapi lo boleh tanya manajer department store mana pun, prediksi kayak gitu meleset jauh (itu yang ahli-ahli statistik bilang).

Prediksi paling akurat selalu gunain teori probabilitas yang dibahas pada artikel sebelumnya. Artinya, lo tambahin lebih dari 10% ke cabang yang penjualannya rendah dan kurang dari 10% ke cabang yang penjualannya tinggi. Kenapa gitu? Bacalah artikel sebelumnya. Gue males jelasin lagi.

Di Amerika ada semacam ‘kutukan’ yang dikenal dengan sebutan ‘Sports Illustrated jinx’. Intinya, atlet yang fotonya jadi sampul majalah itu selalu menurun penampilannya pada musim berikutnya. Banyak orang coba jelasin itu dengan prinsip kausalitas. Atlet itu pasti jadi terlalu percaya diri, atau tertekan karena ekspektasi yang begitu tinggi, dan segala macem.

Tapi teori probabilitas (atau expected value) punya penjelasan lain. Atlet yang jadi sampul majalah itu jelas tampil luar biasa sepanjang musim. Dengan analogi dadu, saat level permainan dan keberuntungan lo ada di angka 5, kemungkinan lo untuk naik hanya 1/6, kemungkinan lo untuk mempertahankan level itu hanya 1/6, sementara kemungkinan lo untuk turun ada 4/6.

Nggak ada orang yang bisa tampil luar biasa sepanjang waktu. Bahkan pesepak bola seajaib Lionel Messi nggak bisa cetak gol pada setiap pertandingan (meski di akhir musim jumlah golnya tetep banyak). Novelis sekelas Haruki Murakami nggak bisa mempertahankan level yang sama pada tiap karyanya (meski secara keseluruhan dia makin hebat, bukan main jelek). Traffic blog lo nggak mungkin selalu naik, walaupun lo kasih konten bagus secara konsisten—ada saatnya naik, ada saatnya turun, meski secara keseluruhan nunjukin pertumbuhan dan bukan pengerdilan.

Dalam hidup ini nggak semua hal perlu dijelasin dengan kausalitas. Messi tetep main serius saat nggak cetak gol. Murakami tetep nulis serius saat kualitas karyanya menurun. Hal itu hanya konsekuensi alami dari probabilitas, yang emang dibuktiin oleh statistik, bukan kausalitas. Kausalitas ngasih kita cerita yang bisa dimengerti. Tapi bisa dimengerti bukan berarti akurat. Bisa dimengerti bukan berarti tepat.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *