Keserasian Intensitas

Dalam psikologi ada topik bahasan yang gue suka, yaitu keserasian intensitas. Bayangin ini: lo lagi makan di kaki lima dan ada pengamen nyanyi. Berapa uang yang lo kasih ke dia? Seribu, paling besar dua ribu. Sekarang bayangin lo menghadiri acara di sebuah gedung dan dimintai sumbangan untuk pelestarian alam atau hewan yang terancam punah. Berapa uang yang lo kasih? Mungkin 50 ribu, 100 ribu, 200 ribu, bergantung pada kondisi keuangan lo.

Dua-duanya bersifat sukarela, tapi kenapa lo ngasih jauh lebih kecil buat si pengamen? Apa kelangsungan hidup dia nggak seberapa penting dibanding kelangsungan hidup orangutan? Dari seluruh jenis binatang, apa orangutan lebih penting daripada manusia? Kenapa lo nggak ngasih 100 ribu buat dia dan seribu buat orangutan?

Keserasian Intensitas | Controversy

Jawabannya adalah, entah gimana, kelestarian alam dan orangutan dipersepsikan lebih tinggi daripada hidup pengamen, sehingga jumlah seribu rupiah nggak memiliki intensitas yang serasi dengan kasus pertama—tapi serasi dengan kasus kedua.

Tapi ada yang menarik. Gimana kalo pengamen itu laper? Orang yang sensitif akan beliin dia makanan (yang harganya paling sepuluh ribu), tapi sebagian besar dari kita tetep cuma ngasih seribu atau dua ribu. Poinnya, keadaan pengamen itu—laper, haus, capek, dan lain-lain—sebenernya nggak terlalu mempengaruhi pertimbangan kita. Pertimbangan kita tetep paling besar dipengaruhi oleh persepsi kita bahwa pengamen yaa… ‘cuma’ pengamen.

Pernah ada eksperimen di Amerika yang dibuat saat kasus tumpahan minyak Exxon Valdez lagi marak—tumpahan minyak itu menenggelamkan banyak burung yang lagi migrasi. Para partisipan ditanya tentang kesukarelaan mereka dalam menyumbang uang untuk pembuatan jaring yang akan nutupin tumpahan minyak itu dan mencegah burung tenggelam. Sebuah grup dikasih tau jaring itu akan nyelametin 2000 burung. Grup lain dikasih tau jaring itu akan nyelametin 20.000 burung. Grup lain 200.000 burung.

Setelah jumlah sumbangan ketiga grup itu dirata-rata, hasilnya gini: grup pertama (80 dolar), grup kedua (78 dolar), grup ketiga (88 dolar). Jumlah burung yang akan diselamatkan nggak gitu ngaruh ama nilai sumbangan. Kenapa? Karena pertimbangan partisipan lebih dipengaruhi oleh bayangan burung tenggelam di kepala mereka akibat kelalaian Exxon Valdez dan mereka mikir nilai sumbangan yang intensitasnya mewakili itu. Berapa burung yang akan diselamatkan, terserah lo, deh—yang penting gue udah nyumbang, jadi bikin yang sebaik-baiknya dengan uang gue. Kira-kira gitu.

Apa yang bisa kita pelajari dari itu? Orang sebenernya nggak terlalu musingin faktor-faktor yang berhubungan ama logika saat mutusin sesuatu. Gue akan tetep beli buku Haruki Murakami walaupun nggak ada satu pun ulasan di internet atau nggak ada sinopsis di sampul belakang. Kenapa? Gue merasa terhubung dengan karya-karyanya. Berapa pun uang yang mesti gue keluarin, itu jumlah yang serasi intensitasnya dengan perasaan terhubung gue ama karya-karya si penulis.

Di media sosial banyak kreator berusaha menjangkau dan memperluas audiensnya. Mereka nunjukin karya-karya mereka, pamerin apa yang mereka bisa lakuin, dan seterusnya. Tapi satu hal nggak bisa dilupain: setelah kita tau apa yang lo bisa, lo nggak perlu terus-menerus cekokin kita dengan itu, karena kita udah tau. Kita pengen lihat lo dalam konteks emosional supaya kita dapet gambaran menyeluruh tentang lo dan bisa menetapkan nilai yang serasi intensitasnya dengan itu.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

  1. Menarik itu.. bagaimana kita melihat kelangsungan hidup pengamen terlalu rendah dan hewan-hewan dengan begitu tinggi. Itu barangkali persepsi yang tercipta karena masyarakat berpendapat begitu.

    1. Ya, padahal kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup itu penting. Dan jujur aja, mungkin ini kontroversial, tapi kalo harus milih mana yang hidup dan mati, saya akan milih kelompok saya sendiri. Kita semua sama-sama manusia. Pengamen itu cuma kerjaan, yang kebetulan gak terlalu dihargai.

  2. aku ngebacanya, kalo pengen ngasih sesuatu, gak usah pake mikir panjang, kadang tak harus pake alasan yg rumit, tapi yaa manusia itu ya begitu itu..

    kebetulan soal ngasih dan nerima ini yg kepikiran dari kemarin2, ternyata ditulis dgn sudut pandang yg beda disini, asik..

    tadi salah masukin email, jd komenku masuk moderasi hehe

    1. Oh, itu karena blog saya pake engine WordPress dan blog Mas Blogspot. Kalo komen di sesama blog Blogspot emang otomatis muncul fotonya. Tapi kalo di blog WordPress, mesti diatur dari gravatar.com. Jadi, pemilik blog Blogspot masukin di Gravatar alamat email yang biasa dipake buat komen, trus upload fotonya. Nanti otomatis muncul deh fotonya pas komen. Kira-kira gitu hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *