Rahasia Sukses Jadi Penulis

Cerita sukses seseorang atau perusahaan adalah jenis cerita yang disukai banyak orang. Alesannya jelas. Sebagian besar poin yang diberikan adalah dongeng, membuat kita berkhayal bahwa hidup ternyata lebih mudah ditebak dan dipahami daripada yang kita kira, bahwa kesuksesan bisa dirumusin dan siapa pun yang nerapin rumus itu bisa meraih hasil yang bagus.

Kita ambil contoh buku bisnis. Isinya paling hiperbola tentang kepemimpinan yang kuat, praktik-praktik manajerial yang efektif, budaya perusahaan yang baik, dan lain-lain. Sebuah perusahaan, intinya, akan lebih mungkin untuk sukses kalo punya semua itu. Tapi gimana kenyataannya?

Rahasia Sukses Jadi Penulis | Controversy

Ada cerita menarik saat psikolog Daniel Kahneman bertugas di ketentaraan Israel puluhan tahun yang lalu. Salah satu tugasnya adalah mengevaluasi kelayakan para kandidat untuk mengikuti pelatihan untuk pangkat yang lebih tinggi.

Salah satu tes bernama leaderless group challenge. Intinya, ada delapan kandidat per grup, yang nggak saling kenal dan hanya dikasih nomor sehingga pangkat masing-masing nggak bisa diketahui, yang diinstruksiin untuk nyelesain satu masalah yang mensyaratkan kepemimpinan alami dan kerjasama tim.

Kahneman ngawasin itu berdua ama rekannya. Mereka catet siapa yang berinisiatif mimpin saat situasi buntu, siapa yang bermaksud mimpin tapi ditolak, siapa yang mudah dan sulit bekerjasama dengan orang lain, dan seterusnya. Mereka lihat siapa yang keras kepala, penurut, arogan, sabar, pemarah, ngotot, dan gampang nyerah. Itu bukan tugas yang susah, karena dalam tekanan sifat-sifat para kandidat keliatan jelas, dan dari situlah mereka dinilai.

Setiap beberapa bulan setelah tes itu, Kahneman, rekannya, dan tentara-tentara papan atas ngadain rapat untuk bandingin hasil evaluasi Kahneman dengan penilaian para komandan tentang kualitas para kandidat berdasarkan pelatihan lanjutan yang mereka jalani.

Dan ini kata Kahneman:

“Penilaian kami itu sebetulnya tidak berguna. Lebih baik daripada tebakan buta, memang, tapi hanya sedikit saja. Tapi itu adalah ketentaraan. Berguna atau tidak, ada rutinitas untuk diikuti dan perintah untuk ditaati.”

Penilaian Kahneman dan rekannya tentang kualitas para kandidat itu sering kali nggak sejalan dengan kenyataan yang dilihat para komandan pada pelatihan berikutnya. Kandidat yang dinilai tinggi sering nunjukin performa nggak memuaskan, sedangkan mereka yang dinilai rendah justru mengejutkan.

Itulah kenapa cerita sukses itu nggak lebih dari dongeng. Semua cerita sukses ditulis dengan prinsip kausalitas—karena si tokoh utama lakuin ini dan itu, makanya dia sukses (dan itu bikin kita mikir kita udah belajar sesuatu tentang cara sukses).

Tapi ada berapa banyak poin di luar prinsip kausalitas itu yang nggak dimuat dalam buku karena dianggep nggak relevan dengan ide utama? Ada berapa banyak poin yang bisa menghadirkan hasil berbeda, yang nggak dimuat dalam buku, karena dianggep nggak penting—kalo nggak ada juga nggak ngaruh ama keseluruhan cerita? Penulisan sebuah buku itu terikat oleh aturan-aturan kepenulisan yang kadang menurut gue tolol karena mengekang dan membelokkan kebenaran.

Setahun setelah Google berdiri, para pendirinya bermaksud jual perusahaan itu dengan harga nggak sampe sejuta dolar, tapi nggak terjadi karena masih dianggep kemahalan oleh calon pembeli. Itu nggak selalu dibahas dalam cerita-cerita tentang Google. Kalaupun iya, pasti disambung-sambungin dengan kerangka kausalitas kesuksesan Google.

Coba lo googling tentang studi bernama Most Admired Companies yang dilakuin Fortune. Gini kesimpulan studi itu: perusahaan-perusahaan yang dinilai tinggi emang meraup keuntungan lebih besar pada tahun-tahun awal, tapi dalam rentang waktu dua puluh tahun, sering kali disusul oleh perusahaan-perusahaan yang awalnya dinilai rendah.

Terus apa rahasia sukses jadi penulis? Kalo lo tanya gue, gua bakal jawab: rahasia sukses jadi penulis itu nggak ada. Lo mungkin hebat hari ini, tapi dalam rentang waktu dua puluh tahun (mungkin malah sepuluh tahun aja), lo bisa disusul ama penulis yang sekarang menurut lo payah. Lo bisa payah hari ini, buku-buku lo gagal semua, tapi itu nggak berarti lo bakal gagal selamanya.

Lo bisa menang kompetisi besar. Terus kenapa? Lo bisa kalah kompetisi kecil. Terus kenapa? Lo bisa direbutin 20 penerbit. Terus kenapa? Lo bisa ditolak 200 penerbit. Terus kenapa? Hal terbodoh yang bisa lo lakuin adalah terlalu banyak libatin emosi lo. Karena kesuksesan nggak ada hubungannya ama emosi lo. Kegagalan mungkin iya.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

5 comments

    1. Tips-tips sukses itu sih bisa aja bener, tapi kesuksesan tentu gak bisa dijamin oleh apa pun. Kalo buku-buku success story baru menurut saya bullshit karena cuma nyajiin sebagian kejadian yang koheren dengan ide utama si penulis buku dan ngabaiin kejadian-kejadian lain yang gak kalah penting. Pembaca jadi nyusun formula sukses berdasarkan gambaran yang gak lengkap. Itu baru menyesatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *