Ketajaman Penilaian Para Pakar: Mitos atau Fakta?

Tanpa megang instrumen, hanya dengan dengerin sebagian kecil lagu, musisi handal bisa nebak dengan akurasi tinggi gimana lagu itu akan berjalan, termasuk kord-kordnya. Pecatur kelas dunia bisa memprediksi manuver lawannya berlangkah-langkah ke depan dan bikin keputusan jitu gimana memenangi pertandingan. Semua itu melibatkan prediksi dan penilaian tajam.

Tapi kita juga udah berkali-kali denger ramalan para politisi atau akademisi politik tentang keadaan dunia tahun depan dan ternyata melenceng. Sebelum nulis, dulu gue main musik dan pas nongkrong ama orang-orang label, gue sering denger mereka memprediksi industri tahun depan, yang ternyata nggak pernah terjadi. Orang-orang penerbit juga sering lontarin prediksi yang nggak akurat tentang industri.

Pertanyaannya: kapan kita bisa mempercayai prediksi para pakar dan kapan kita mesti cuekin aja?

Ketajaman Penilaian Para Pakar: Mitos atau Fakta? | Controversy

Gary Klein adalah psikolog yang pro ketajaman intuisi para pakar. Daniel Kahneman adalah psikolog yang skeptis dengan itu. Yang menarik, mereka bikin proyek bareng, tukar pikiran, dan hasilnya dijadiin artikel berjudul Conditions for Intuitive Expertise: A Failure to Disagree.

Salah satu poin artikel itu gini: ada perbedaan mendasar antara dua tipe pakar yang disebutin di atas—tipe pecatur dan tipe ilmuwan politik. Seluruh skenario yang mungkin terjadi dalam permainan catur itu jelas dan bisa dipelajari. Dengan latihan bertahun-tahun—banyak penelitian yang bilang 10.000 jam, yang artinya latihan lima jam tiap hari selama enam tahun—pecatur profesional tau seluruh skenario itu luar kepala. Herbert Simon bilang, intuisi nggak lebih dan nggak kurang dari pengenalan cepat terhadap suatu tanda atau situasi.

Itu sama kayak belajar baca. Anak kecil yang baru belajar akan lihat huruf per huruf untuk memahami sebuah kata. Tapi orang gede nggak pake mikir. Lo bisa baca sengebut yang lo mau. Kenapa belajar catur jauh lebih lama daripada belajar baca? Karena catur memiliki jauh lebih banyak ‘alfabet’, ‘variasi kata’, dan ‘variasi kalimat’.

Kita ambil contoh yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari: intuisi pemadam kebakaran. Seluruh skenario yang mungkin terjadi dalam kebakaran juga jelas. Semua udah dipelajari dalam masa pelatihan. Kalo komandan punya ‘intuisi’ yang jauh lebih kuat daripada anggota, itu karena jam terbangnya emang lebih tinggi—sama kayak dalam kasus pecatur dan pembaca.

Gimana dengan tipe ilmuwan politik? Wajar kalo prediksi mereka sering melenceng karena dunia ini pada dasarnya emang nggak bisa diprediksi. Gimana lo bisa meramal kemunculan orang seperti Hitler misalnya? Kalo kita tarik ke tahap yang mungkin agak terlalu jauh ke belakang, saat kedua orangtua Hitler bercinta, bukankah ada kemungkinan 50 persen bahwa anak mereka akan cewek? Kalo itu terjadi, dunia ini nggak akan pernah mengenal sosok Hitler.

Poinnya, hal-hal yang coba diprediksi oleh para politisi dan orang-orang label atau penerbit memiliki terlalu banyak faktor di luar dugaan, yang nggak mungkin diketahui apalagi dipelajari sebelumnya. Dari mana mereka tau tren akan atau nggak akan berubah? Raisa sukses di saat solois wanita lagi nggak jaman di Indonesia. Andrea Hirata memutarbalikkan tren. Bullshit kalo mereka bilang mereka udah prediksi itu.

Artinya, ketajaman penilaian pakar cuma bisa diperoleh kalo ada dua kondisi ini:

Permainan yang menyediakan situasi-situasi reguler

Kesempatan untuk mempelajari situasi-situasi reguler itu melalui proses panjang

Kalo lo penulis, lo perlu dengerin editor lo saat dia ngomongin aspek-aspek teknis naskah lo. Karena dia tau seluruh skenario yang mungkin terjadi dalam sebuah naskah. Tapi kalo dia—atau bahkan orang-orang besar dalam dunia sastra—ngomongin industri bakal gini-gitu, tuntutannya akan jadi gini atau gitu, cuekin aja. Nggak ada orang yang bener-bener tau itu. Mereka nggak lebih tau daripada lo. Kalo terjadi, itu kebetulan.

Pada akhirnya, ketajaman penilaian para pakar itu mitos sekaligus fakta. Yang terpenting bagi kita adalah jangan sampe ketuker—jangan memperlakukan mitos sebagai fakta dan fakta sebagai mitos. Nanti keputusan kita sendiri jadi ngawur.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *