Proyek Menulis yang Realistis

Orang-orang yang nggak pernah nerbitin buku sering menggampangkan proses penulisan di baliknya. Mereka baca satu buku dan nggak ngerti kok bisa penulisnya ngabisin waktu setahun untuk kelarin itu. Mereka bilang sesuatu yang kira-kira gini: “Ini nggak keliatan kayak cerita yang susah ditulis. Mestinya bisa lebih cepet dari itu.”

Argumen mereka diperkuat dengan fakta bahwa ada penulis-penulis yang bisa nerbitin tiga buku dalam setahun. Ada lagi yang nggak pernah berencana nulis dan tau-tau ditawarin penerbit untuk nerbitin buku karena punya banyak pengikut di Twitter.

Pertanyaannya: apa bener nulis buku segampang itu?

Satu lagi: apa bener nulis buku sesusah itu?

Proyek Menulis yang Realistis | Controversy

Ekspektasi ketinggian tentang suatu proyek, baik soal lama pengerjaan maupun biaya, terjadi di berbagai bidang, nggak hanya kepenulisan. Contoh: pada Juli 1997, estimasi pembangunan gedung baru Parlemen Skotlandia di Edinburgh kira-kira 40 juta poundsterling. Juni 1999, naik jadi 109 juta. November 2001, naik lagi jadi 241 juta. Saat bangunan itu akhirnya jadi pada 2004, biayanya mencapai 431 juta, sepuluh kali lipat lebih besar daripada perkiraan awal.

Pada 2005 ada studi yang nganalisis proyek-proyek pembangunan rel untuk kereta atau trem atau metro di seluruh dunia dari 1969 sampe 1998. Dalam lebih dari 90% kasus, perkiraan jumlah orang yang akan gunain sistem itu terlalu tinggi—setelah dirata-rata, 106% lebih tinggi daripada jumlah orang yang beneran gunain sistem itu pas jadi. Biaya pembangunannya pun rata-rata membengkak sebesar 45%.

Orang-orang itu pasti mikir gini pas mau bangun sistem transportasi metro: “Ini ide bagus! Berguna buat semua orang. Selain itu, apa susahnya sih bangun metro dan rel? Udah ada banyak kok di negara-negara lain.” Mereka lupa lihat statistik proyek-proyek serupa di negara-negara lain. Kalaupun lihat, mereka nggak belajar apa-apa dari itu dan tetep terlalu optimistis. Mirip ama orang-orang nggak berpengalaman saat berencana nulis buku, kan? (Gue sendiri gitu pas mutusin jadi penulis, terlalu optimistis sampe tahap delusional.)

Jadi, kayak apa ekspektasi yang realistis untuk proyek nulis?

Lo mesti tau dulu lo pengen jadi penulis kayak apa. Kalo lo pengen jadi penulis yang nerbitin tiga buku dalam setahun, coba riset tentang penulis-penulis itu—gimana cara kerja mereka, gimana kualitas karya mereka, apa aja sumber daya yang mereka punya, dan lain-lain. Kalo lo sreg dengan semuanya dan punya hal-hal yang mereka punya, realistis bagi lo untuk punya ekspektasi nerbitin tiga buku dalam setahun—karena emang itulah yang umum terjadi dalam kasus penulis-penulis itu.

Kalo lo pengen jadi penulis yang dikerubutin penerbit karena punya banyak pengikut di Twitter, ya balik lagi, riset tentang penulis-penulis itu. Kalo lo punya hal-hal yang mereka punya, lo bisa kayak mereka. Tapi satu hal perlu diinget: mereka adalah pebisnis buku, bukan penulis. Kalo buku mereka nggak laku, mereka akan dengan gampang beralih ke jenis bisnis lain. Jadi, kalo lo penulis serius yang dikutuk untuk terus nulis, nggak tepat jadiin mereka acuan.

Lo mesti jadiin orang-orang yang senasib ama lo, mereka yang juga dikutuk untuk terus nulis, sebagai acuan. Gue pernah bahas di sini berapa lama waktu yang dibutuhin para penulis dunia untuk sukses. Naskah Carrie karya Stephen King ditolak belasan kali oleh penerbit. Naskah Lord of the Flies karya William Golding ditolak 20 kali. Naskah Lust of Life karya Irving Stone ditolak 16 kali. Lo bayangin sendiri aja berapa waktu yang dibutuhin untuk nulis-kirim-ditolak-revisi-kirim-ditolak-revisi dan seterusnya. Jangan mikir di Indonesia beda. Silakan riset sendiri.

Gue bisa kasih puluhan contoh, tapi tiga aja udah cukup. Haruki Murakami punya cerita berbeda tentang awal kariernya. Dia nulis naskah pertamanya dalam waktu, kalo nggak salah, sepuluh bulan, kirim ke sebuah kompetisi, dan menang. Tapi lo bisa lihat dia baru mulai menemukan dirinya pada buku ketiganya, A Wild Sheep Chase, dan kelas dia yang sebenernya baru keliatan di buku keempatnya, Hard-boiled Wonderland and the End of the World. Selama bertahun-tahun dia nolak buku pertama dan keduanya diterjemahin ke bahasa lain karena alesan ini: menurut dia, kualitas dua buku pertamanya belum memenuhi standar.

Yang gue jabarin di atas itu base rate. Base rate itu gini: kalo lo bakal kencan buta ama perempuan Perancis dan penasaran berapa tinggi badannya, hal terbaik yang bisa lo lakuin adalah cari tau berapa tinggi rata-rata perempuan Perancis. Kemungkinan besar tinggi dia nggak jauh-jauh dari itu. Kalo kemudian lo dapet informasi tambahan, yaitu bapak cewek itu mantan pemain basket berposisi center, lo bisa prediksi tinggi cewek itu di atas rata-rata.

Percayalah, karier nulis kita, gue dan lo, nggak akan jauh-jauh dari base rate. Apa juga yang bikin lo ngerasa lebih baik dari penulis-penulis sejenis lo? Mereka orang-orang pinter juga, nggak bego. Dalam dunia sepak bola, ada kasus spesial seperti Lionel Messi, tapi pemain kayak Messi cuma muncul 50 tahun sekali. Baik gue dan lo, nggak satu pun dari kita adalah Messi-nya sastra.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

4 comments

  1. Postingan ini membumi dan membuat orang yang ingin jadi penulis seperti saya tertantang dan tidak terlalu banyak berkhayal. Tapi bagaimana seseorang bisa tahu dirinya Messi-nya sastra atau bukan?

    1. Seperti kata Soren Kierkegaard (life can only be understood backwards, but it must be lived forwards), Messi-nya sastra atau bukan, kita bisa nilai setelah segala sesuatu terjadi. Tapi saat lagi menjalani, lebih baik kita mengacu pada base rate, karena kemungkinan kita Messi-nya sastra cuma 0,0000000001%. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *