Jika Suatu Hari Nanti Lo Jadi Legenda

Nggak ada yang bisa mastiin hal itu. Kita semua bisa jadi kreator gagal, berakhir medioker, atau dihargai tinggi tapi nggak setinggi itu sampe jadi legenda. Sekeras apa pun lo kerja dan sebesar apa pun dedikasi lo, ada banyak faktor yang nentuin penilaian orang tentang lo, ide-ide lo, dan karya-karya lo.

Jika Suatu Hari Nanti Lo Jadi Legenda | Controversy

Gue ajak lo kenalan ama Richard Thaler, tokoh besar di balik behavioral economics—mungkin kalo diterjemahin jadi ‘ekonomi perilaku’. Pada awal 70-an, pas masih jadi mahasiswa pascasarjana di University of Rochester, dia punya pikiran-pikiran yang menyimpang dari teori standar ekonomi yang rasional.

Praktik ekonomi yang wajar itu misalnya gini: saat lo beli sepatu di sebuah toko, lo nggak ngerasa kehilangan uang lo pas bayar dan si penjual juga nggak ngerasa kehilangan sepatunya pas jual. Lo ngerasa nilai sepatu itu sesuai dengan jumlah uang yang lo keluarin. Si penjual juga mikir nilai uang lo sesuai dengan kualitas sepatunya.

Tapi itu nggak bisa jelasin apa yang Thaler bilang the endowment effect—entahlah apa terjemahan yang pas. Efek anugerah, mungkin? Bayangin lo penggemar fanatik sebuah band, band itu bakal konser di Indonesia, lo beli tiketnya seharga sejuta, dan dalam waktu singkat seluruh tiket habis terjual. Banyak orang pengen dateng, tapi nggak kebagian tiket. Ada yang nawar tiket lo sejuta setengah. Lo lepas atau nggak? Ada yang nawar dua juta. Lo lepas atau nggak? Mendekati hari h, banyak orang stres dan tiket lo ditawar dua juta setengah. Lo lepas atau nggak? Kalo lo penggemar fanatik band itu, lo nggak akan lepas.

Pas lo mau beli, lo ngerasa sejuta adalah nilai yang pantas untuk tiket itu. Tapi begitu lo punya, lo menghargai tiket itu di atas dua setengah juta—itu bisa naik terus sampe entah berapa jumlah yang bisa luluhin pikiran lo. Sepuluh juta, mungkin?

Efek kayak gini bisa lo liat juga pada kolektor wine. Dia mungkin beli satu botol dengan harga 500 ribu. Tapi lo tawar sejuta pun nggak dilepas. Harga lukisan pun naik terus seiring waktu, apalagi kalo pelukisnya punya ide-ide istimewa dan sekarang dia udah mati. Seperti bisa lo liat dari contoh-contoh di atas, endowment effect banyak bekerja buat barang-barang yang unik, langka, dan nggak diperjualbelikan secara reguler.

Apa yang bisa dipelajari dari itu? Kalo lo penulis, misalnya, buku-buku lo beredar di toko-toko buku. Kalo cetakan pertama abis bakal dicetak ulang. Artinya, buku-buku lo itu nggak unik, nggak langka, dan diperjualbelikan secara reguler. Pembaca yang punya buku lo akan dengan senang hati menjualnya dengan harga yang sama dengan harga pas dia beli, apalagi dua kali lipat. Toh dia bisa beli lagi di toko.

Ada cerita menarik dari pelukis Affandi. Pas muda dulu, dia pernah bilang gini ke temennya: kamu sebaiknya beli lukisan saya karena ketika tua nanti saya akan jadi legenda. Temennya itu betul-betul beli lukisannya dan Affandi betul-betul melegenda. Dan tentu saja hari ini harga lukisan Affandi itu bisa seratus kali lipat lebih tinggi daripada saat transaksi itu terjadi—jumlah itu pun belum tentu bisa bikin si pemilik lukisan menjualnya.

Sebagai penulis, buku-buku lo mungkin nggak unik. Saat ini. Tapi ada hal-hal yang bisa bikin sebuah buku unik: tahun terbit, sampul, penerbit, dan lain-lain. Lo juga selalu bisa bangun penilaian orang tentang lo dengan hidup dan ide-ide istimewa lo. Contoh: gue punya kumpulan cerpen Anton Chekhov yang diterbitin The New American Library, Inc. pada 1960, dengan sampul yang masih jadul dan label harga yang udah kusam dari sebuah toko buku di Amerika. Kalo lo mau beli buku itu dari gue, silakan. Bayar sejuta.

Jadilah unik dan langka dari perspektif masa depan dan milikilah ide-ide istimewa. Dan kalo lo yakin suatu hari nanti lo bakal jadi legenda, anjurkanlah orang-orang untuk beli karya lo, supaya di kemudian hari mereka punya sesuatu untuk dibanggakan.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *