Bukan Karya Seni Kalau Nggak Visual

Ini pendekatan yang gue suka dalam penulisan kreatif: pertama-tama, nulis itu kerja; setelah itu, kalo beruntung, hasil kerja kita disebut karya seni—kalo nggak beruntung, ya udah, dianggep buku biasa aja. Itu pas banget rasanya buat kita yang jadi bagian dari generasi milenial (orang-orang yang lahir antara awal 80-an sampe awal 2000-an).

Nggak bisa dipungkirin bahwa kita lebih menitikberatkan aspek estetis dalam penulisan kreatif daripada aspek-aspek lainnya, misalnya sosial dan politik. Generasi sebelum kita adalah generasi yang resah secara sosial dan politis. Yang selalu mereka bicarain hari ini adalah menolak lupa. Sementara kita, walaupun ikut berpartisipasi, sebenernya nggak sepeduli itu.

Bukan Karya Seni Kalau Nggak Visual | Controversy

Kita adalah orang-orang yang tumbuh besar ngerasain dampak revolusi teknologi. Kita punya seluruh informasi di dunia dalam genggaman tangan. Nggak ada yang kita nggak tau hari ini. Semua tinggal googling. Itu adalah sesuatu yang inheren pada diri kita dan itu terlihat dari hal-hal yang generasi kita ciptain: semuanya melambangkan obsesi pada masa depan. Kenapa? Karena saat kita punya seluruh informasi yang bisa kita dapet, cuma masa depan—atau bayangan tentang masa depan—yang menarik secara intelektual.

Dalam penulisan kreatif, ada banyak hal yang bisa dilakuin supaya hasil kerja kita layak disebut karya seni. Misalnya, kalo lo bangun cerita lo dalam struktur yang nggak normal, itu karya seni. Kalo lo ngembangin aturan-aturan baku kepenulisan, bukan semata-mata membeo atau menuruti, itu karya seni. Haruki Murakami mungkin contoh terbaik untuk kedua hal itu—itu juga salah satu alesan dia sangat populer di tengah generasi kita, kan?

Tapi karena perlu tingkat keahlian yang tinggi untuk lakuin itu, bukan itu yang mau gue bahas. Gue mau bahas hal yang bisa dilakuin semua orang aja: visualisasi. Kenapa tanpa visualisasi yang baik, hasil kerja lo bukan karya seni?

Mana yang lebih menakutkan dari dua kalimat di bawah ini?

Obat nyamuk memiliki risiko 0,001% untuk membuat Anda cacat permanen.

Satu dari 1000 orang cacat permanen karena obat nyamuk.

Kalo lo kayak kebanyakan orang, kalimat kedua jelas lebih nakutin. Kenapa? Dengan informasi yang kurang-lebih sama, kalimat kedua ngasih efek visual ke otak lo. Lo bayangin orang cacat permanen dan lo nggak mau kayak gitu, apalagi kalo lo tinggal ama orang-orang yang lo cintai. Sedangkan kalimat pertama terdengar abstrak.

Contoh lain:

Sejauh ini, wabah itu telah menjangkiti 1% populasi negara itu.

Sejauh ini, wabah itu telah menjangkiti 100 dari 10.000 orang di negara itu.

Lagi-lagi efek visual membuat informasi yang sama terasa lebih nakutin.

Pernah ada penelitian di suatu rumah sakit jiwa di Amerika. Ada pasien yang terkenal di antara para psikiater bernama Mr Jones. Para psikiater itu dikasih dua keping informasi oleh seorang ahli.

Info pertama:

Pasien seperti Mr Jones memiliki probabilitas 10% untuk melakukan tindak kekerasan kepada orang lain dalam beberapa bulan pertama setelah dibebaskan dari rumah sakit.

Info kedua:

10 dari 100 pasien seperti Mr Jones melakukan tindak kekerasan kepada orang lain dalam beberapa bulan pertama setelah dibebaskan dari rumah sakit.

Hasilnya, selama penelitian itu berlangsung, para psikiater yang dikasih info kedua lebih jarang bebasin pasien dari rumah sakit.

Itulah kenapa aspek visual penting banget dalam penulisan kreatif. Aspek visual merangsang pikiran kita, menyentuh hati kita, dan menggerakkan kita untuk lakuin sesuatu. Tanpa visualisasi yang baik, buku lo nggak lebih dari buku matematika. Yang lo masukin ke benak pembaca adalah ‘persentase’, ‘desimal’, dan hal-hal sejenis yang nggak dipeduliin siapa pun dan nggak ada efeknya secara emosional.

Buku kayak gitu jelas bukan karya seni. Dan ketika buku lo lemah secara estetis, bisa dibilang lo nggak punya masa depan di tengah generasi milenial yang kreatif dan menginginkan terobosan sepanjang waktu.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

  1. Tulisan ini menarik untuk membicarakan teknik menulis, tapi saya rasa ada soal dalam menyebut “visual”, apalagi jika ditambahkan bahwa “yang visual” artinya “nyeni”. Mari sedikit menengok tulisanmu. Saya setuju efeknya lebih mengena jika kita mengatakan “1 di antara 1000 manusia” daripada “0,001% kemungkinan”, tapi saya rasa itu tak ada hubungannya dengan “visual”. Tentu saja orang bisa membayangkan (memvisualkan?) satu di antara seribu manusia, tapi kita juga tak akan kesulitan membayangkan (memvisualkan) 0,001% (kita punya diagram, yang sangat visual). Hanya karena kasus pertama kita membayangkan manusia, kasus kedua kita membayangkan diagram (diagram kue, misalnya), tidak berarti yang pertama lebih viusal dari yang kedua. Saya ingin memberi contoh:
    1. Seratus gajah melintas di Jl. Sudirman,
    2. Seratus dua belas gajah melintas di Jl. Sudirman, disambut Presiden.

    Kita tak bisa membayangkan ada seratusan gajah melintas di Sudirman, tapi apa pun, kita bisa dengan mudah lebih percaya kepada kalimat kedua daripada kalimat pertama. Dan sekali lagi, itu tak ada hubungannya dengan “visual”. Contoh ini, dan contoh-contohmu, hanya menunjukkan dua hal yang sangat penting dalam menulis: “detail” dan “manusia”.

    Ketika kita mengatakan 1 manusia di antara seribu, kita bicara tentang detail (sekaligus wujud manusia). 0,001% bisa dibilang terlalu umum (kita hanya membayangkan kotak-kotak diagram). Kenapa detail penting? Sederhana saja menurut saya: detail yang tepat membuat sesuatu menjadi “bisa dipercaya”. Bandingan angka “seratus” dan “seratus dua belas”, menambahkan sedikit “dua belas” ke jumlah gajah menyiratkan penulis mengetahui detail. Lalu “manusia”? Kita tahu, pembaca adalah manusia. Membaca tulisan tentang apa pun, kita cenderung mengembalikan semua itu kepada manusia/diri kita sendiri. Kehadiran manusia dalam “1 di antara 1000 manusia”, membuat informasi itu lebih dekat dengan diri kita daripada “kemungkinan 0,001%”. Demikian juga kehadiran Presiden, selain menambahkan detail juga menghadirkan sosok manusia ke dalam seratus dua belas gajah di Jl. Sudirman.

    Saya mempergunakan “detail yang tepat”, karena detail juga bisa menjadi bumerang. Mengatakan “Ada dua ribu tiga ratus sebelas semut berderet di dinding” tak akan membuat pembaca mempercayai kalimatmu, sebab tak ada yang menghitung jumlah semut.

    Sekali lagi, contoh-contoh di tulisan ini hanya menunjukkan pentingnya detail yang tepat dan manusia, dan menurut saya tak ada hubungannya dengan visual. Keduanya tetap penting dalam teknik menulis yang cenderung “to show” (visual, deskriptif) maupun “to tell” (naratif, tidak visual). Dengan detail dan manusia, tulisan lebih mudah dipercaya dan dekat dengan pembaca, tapi tentu ini pun tak berhubungan langsung dengan nyeni atau tidak. Soal “nyeni” atau ‘tidak nyeni” saya rasa itu bahasan yang lebih luas dari pembiacaraan tentang teknik menulis ini.

    1. Terima kasih untuk komennya, Mas Eka. Mas adalah penulis yang menurut saya terbaik di Indonesia, jadi saya senang dan sejujurnya kaget tulisan saya dibaca dan direspons oleh Mas.

      Tanggapan saya kira-kira gini:

      Pertama, walaupun judul tulisannya ‘Bukan Karya Seni Kalau Nggak Visual’, di dalam artikel saya nggak bilang visual = nyeni. Saya bilang ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadikan hasil kerja penulis karya seni. Jadi, visual hanya satu dari banyak aspek. Kalau bahasan utamanya adalah ‘nyeni atau tidak nyeni’, memang perlu tulisan yang lebih mendalam dan menyeluruh. Tapi bahasan utama tulisan ini adalah aspek visual dan hubungannya dengan karya ‘nyeni’. Jadi, saya pikir sudah cukup memadai.

      Kedua, contoh-contoh yang saya berikan sebetulnya bukan karangan saya sendiri. Itu variasi dari contoh-contoh yang diberikan Daniel Kahneman dan Amos Tversky, dua psikolog pemenang Nobel ekonomi, saat menjelaskan prospect theory (teori behavioral economics bikinan mereka). Karena saya setuju dengan itu, saya pakai buat tulisan ini.

      Tentang bisa disebut visual atau tidak, saya pikir poin kedua dari setiap contoh di atas memicu gambar-gambar yang lebih nyata (atau vivid) di otak kita dibanding poin pertama. Menyebut ’10 dari 100 pasien seperti Mr Jones melakukan tindak kekerasan’ menghasilkan visualisasi yang langsung dan jelas di otak kita, tidak seperti frasa abstrak ‘pasien seperti Mr Jones memiliki probabilitas 10% untuk melakukan tindak kekerasan’. Diagram memang tampilannya visual, tapi efeknya tidak visual di otak kita, tidak pula emosional. Pada praktiknya, kita memang menggunakan diagram hanya saat ingin berpikir rasional dan cenderung mekanis.

      Tentang contoh 100 dan 112 gajah, saya kurang-lebih sependapat. Bedanya, saya berpikir dua-duanya adalah kalimat yang berefek visual di otak kita. Saat kita baca ‘100 gajah melintasi Jalan Sudirman’, otomatis kita langsung membayangkannya, bukan berpikir dalam kata-kata. Menurut saya, itu sesuatu yang bisa dibayangkan. Kenapa kita lebih mudah mempercayai kalimat kedua? Karena terdengar lebih meyakinkan–tapi keduanya tetaplah memproyeksikan gambar secara langsung ke otak kita.

      Kira-kira begitu tanggapan saya. Terima kasih karena telah membaca dan meninggalkan komen yang berkualitas dan memperkaya tulisan ini, Mas. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *