Penyesalan dan Takdir

“Life can only be understood backwards, but it must be lived forwards.” Soren Kierkegaard

Kecuali lo penulis, penyesalan dan takdir adalah dua hal yang nggak perlu terlalu dipikirin. Sebaik apa pun lo lakuin segala sesuatu dalam hidup, lo akan tetep punya penyesalan (dan kepuasan). Sengotot apa pun lo berusaha ngontrol masa depan lo, banyak kejutan bakal terjadi. Itu karena hidup, nggak kayak permainan catur atau permainan apa pun, memiliki banyak skenario yang nggak mungkin diprediksi apalagi dipelajari sebelumnya.

Penyesalan dan Takdir | Controversy

Tapi penulis berurusan dengan penyesalan dan takdir setiap hari, baik penyesalan dan takdirnya sendiri maupun karakter-karakternya. Penulis, mau nggak mau, mesti mikirin dan ningkatin pemahamannya tentang kedua hal itu. Gimana lo bisa bikin cerita yang bagus kalo lo nggak bisa merancang takdir karakter-karakter lo? Gimana lo bisa ciptain karakter yang nyata kalo lo nggak bisa jelasin penyesalan-penyesalannya secara mendalam?

Kita mulai dengan dua skenario ini:

Wisnu adalah pengemudi yang sabar dan nggak pernah ngebut. Kemarin dia ngebut dan kecelakaan.

Jelita adalah pengemudi yang nggak sabaran dan sering ngebut. Kemarin dia ngebut dan kecelakaan.

Pertanyaan pertama: dari kedua orang itu, mana yang menurut lo ngerasain penyesalan lebih besar? Lo akan jawab Wisnu. Dia biasanya nggak pernah ngebut. Mungkin dia mikir itu tindakan bodoh atau itu risiko yang nggak perlu diambil dalam hal sesepele menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Tapi kemarin, sekalinya ngebut, dia langsung kecelakaan. Bisa dijamin dia nggak bakal ngebut lagi dalam hidupnya.

Pertanyaan kedua: dari kedua orang itu, mana yang menurut lo lebih ditakdirkan untuk kecelakaan? Lo akan jawab Jelita. Dia nggak sabaran. Dia ngebut melulu. Cuma masalah waktu aja sampe dia kecelakaan. Gimana dengan Wisnu? Lo akan bilang dia lagi nggak beruntung. Shit happens.

Tapi kalo lo pikir lebih mendalam, khusus untuk skenario di atas, bukankah Wisnu adalah orang yang lebih mungkin untuk kecelakaan? Dia nggak pernah ngebut biasanya. Artinya, dia lagi lakuin sesuatu yang di luar kebiasaannya. Keahliannya dalam hal ngebut jelas di bawah Jelita. Kemampuannya berpikir cepat dan ngambil keputusan tepat dalam kecepatan tinggi juga di bawah Jelita. Pengalamannya juga di bawah. Nalurinya apalagi. Bukankah orang yang sebetulnya nggak beruntung, dalam konteks peristiwa kecelakaan itu aja secara khusus, adalah Jelita?

Wisnu nggak pernah mikir bahwa walaupun ngebut itu nggak perlu, akan ada situasi-situasi dalam hidupnya ketika dia mesti ngebut. Misalnya, istrinya melahirkan, atau dia mesti ngejar pesawat, atau dia kebelet pup. Tiap kali dia harus ngebut, dia membahayakan dirinya. Itulah takdirnya.

Gimana dengan penyesalan? Dari contoh di atas, ini formula penyesalan: lakuin sesuatu di luar ‘default’-nya lo + hasil buruk. Kalo hasil buruk itu libatin orang-orang yang lo cintai, lo lebih nyesel lagi. Kita bisa aja nyesel karena sesuatu yang nggak kita lakuin, emang, tapi berbagai penelitian dalam dunia psikologi buktiin kalo hal itu secara umum memiliki bobot penyesalan yang lebih ringan dibanding formula tadi.

Bayangin dua skenario ini:

Wisnu berhenti kerja kantoran dan mulai bisnis. Enam bulan kemudian, dia nggak bisa bayar sewa rumah dan keluarganya telantar di jalanan.

Jim adalah penganggur. Enam bulan kemudian, dia nggak bisa bayar sewa rumah dan keluarganya telantar di jalanan.

Mana di antara kedua orang itu yang rasain penyesalan lebih dalam?

Lo tentu tau jawabannya.

Setiap penulis bebas punya persepsi atau formula sendiri tentang penyesalan dan takdir. Gue cuma lagi berbagi formula yang gue pake, yang gue simpulin dari berbagai studi. Kalo menurut lo formula ini ngaco, silakan pake formula lo sendiri. Kalo menurut lo formula ini tepat, silakan terapin juga dalam proyek menulis lo. Mudah-mudahan hidup ini ngasih kita takdir yang baik dan penyesalan yang sedikit.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

11 comments

  1. menurut gue sih, kalo sudah percaya ama takdir, yg mana hakjikatnya adalah sesuatu yg telah ditetapkan, otomatis mustinya sesuatu bernama ikhlas akan menyertainya, jadinya penyesalan harusnya tak ada, paling tidak, kalaupun ada juga tak berlangsung lama. toh semua hal, apapun punya resikonya, walau sehati2 apapun menjalaninya. intinya saya setuju sekali dengan kalimat paling akhir tulisan ini..

    etapi kalo dikaitkan dengan proyek menulis, usaha sekuat2nya, macam ente ini, terkait dengan persepsi seorang manusia, yang tentu sangat berwarna warni, tugas kita sih cuma berusaha memahaminya, atau memakluminya. mungkin demikian

    *belajar komen pake kata pengganti -gue disini ehehehe

    1. Iya, saya kaget awalnya kok tumben Om ngomongnya pake gue haha….

      Kalo takdir diartikan sebagai sesuatu yang telah ditetapkan, sebetulnya saya kurang percaya. Yang saya maksud ‘takdir’ lebih mirip dengan ‘keberuntungan’ atau ‘kebetulan’–tiga kata itu kan sebetulnya artinya sama aja, atau mirip-mirip. Intinya, ada banyak faktor selain diri kita yang menentukan siapa dan di mana kita hari ini. Itu karena dunia ini kan isinya gak kita doang. Ada banyak orang yang punya tujuan dan kehendak masing-masing, yang secara langsung atau gak langsung membentuk realitas dunia kita hari ini.

      Banyak lah Om yang usahanya lebih besar daripada saya huehe….

      1. ya begitulah, soal takdir ini terkait keyakinan, beda orang beda pula menyikapinya hehe

        lhaa ini mbales komen saya malah pake kata ganti : saya haha baru nyadar pula

  2. persepsi yang bagus, dengan dua penjelasan tentang wisnu dan jelita yang kecelakaan itu sudah membuat pembaca merasakan dua hal: merasa punya persepsi sama sekaligus dapat kejutan, ternyata ada persepai lain yang masuk akal.

    kejutan memang selalu menjadi hal paling menarik dari sebuah bacaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *