Orang-orang Berhati Dingin

Belakangan ini gue mikir gue mungkin kurang sensitif terhadap kesulitan orang lain. Saat ada temen penulis curhat, misalnya, walaupun nggak selalu gue ucapin, gue sering mikir: yaelah, semua penulis laluin itu kali, bagian dari proses, nggak lo doang, jadi nggak usah dramatis gitu. Gue rasa, apa pun bidang kita, kita sering ngasih reaksi sejenis ke orang lain.

Yang kita lupa: dalam hidup ini kita nggak memulai dari titik yang sama. Saat ini lo bisa aja ada di titik yang sama dengan seseorang, tapi kalo titik awal dia jauh di belakang lo, perjalanan yang udah dia tempuh pun lebih jauh daripada lo. Artinya, dia lebih layak dapet simpati daripada lo.

Orang-orang Berhati Dingin | Controversy

Perhatiin persoalan ini:

Lo punya tugas nentuin jumlah kompensasi untuk seorang korban tindak kejahatan. Tangan dia cacat permanen akibat kena tembak saat dia masuk ke toko kelontong di deket rumahnya, yang ternyata lagi dirampok.

Ada dua toko kelontong di deket rumahnya—yang satu sering dia kunjungin, yang lain jarang. Sekarang pertimbangin dua skenario ini:

(i) Dia kena tembak di toko kelontong dia yang biasa.

(ii) Toko kelontong dia yang biasa lagi tutup saat itu, jadi dia pergi ke toko yang satu lagi, di mana dia kena tembak.

Pertanyaannya: haruskah toko di mana dia kena tembak mempengaruhi jumlah kompensasi untuknya?

Mungkin lo mikir gini: uang kompensasi itu kan untuk tangannya yang cacat, jadi lokasi penembakan mestinya nggak ngaruh dan nggak relevan. Seseorang bisa kena tembak di mana aja kalo lagi apes, bahkan di depan rumahnya sendiri. Gue mikir gitu pas pertama kali baca persoalan di atas (dan banyak orang juga mikir gitu). Itu adalah bahan penelitian yang dibuat psikolog Dale Miller dan Cathy McFarland.

Dua psikolog itu kemudian bikin penelitian lanjutan dengan sedikit perubahan. Mereka kasih satu skenario ke sekelompok partisipan dan skenario lainnya ke kelompok yang berbeda. Hasilnya, kelompok yang dikasih liat skenario kedua netapin jumlah kompensasi yang lebih tinggi daripada kelompok yang baca skenario pertama.

Dan itu jelas kenapa. Skenario pertama nunjukin si korban bernasib sial, tapi skenario kedua ningkatin kesialannya dua kali lipat. Mereka mikir ‘seandainya si korban pergi ke toko dia yang biasa’ atau ‘seandainya toko dia yang biasa nggak tutup saat itu’. Dan kali ini mereka nggak bandingin pengalaman si korban dengan pengalaman-pengalaman atau skenario-skenario lain yang mungkin terjadi. Mereka ngasih simpati secara khusus buat si korban dan kesialannya.

Berdasarkan contoh di atas, lo bisa lihat bahwa dampak yang sama (tangan cacat permanen) bisa menghasilkan simpati yang berbeda, bergantung pada hal-hal yang membuat itu terjadi dan pola pikir yang nggak abai terhadap hal-hal itu.

Sebagai penulis (atau sebagai apa pun), lo bisa aja dapet banyak kemudahan untuk mencapai suatu tahap, sementara temen lo mesti jungkir balik untuk mencapai tahap itu. Walaupun sekarang lo berdua ada di tahap yang setara, lo dan dia nggak sama dan nggak bisa disamain. Dia lebih layak dapet simpati daripada lo. Dan lo nggak layak mikir: yaelah, yang lo hadapi ini juga gue hadapi kali—sama aja, nggak usah lebay.

Banyak orang kerja lebih keras daripada kita, menghadapi kesulitan yang lebih besar daripada kita, dan lebih tangguh daripada kita. Nggak bijaksana kalo kita bersikap dingin hanya karena saat ini mereka ada di tahap yang sama dengan kita. Mereka layak dapet simpati lebih. Dan mungkin mereka lebih layak sukses daripada kita.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

  1. .. dalam hidup ini kita nggak memulai dari titik yang sama ..

    nah itu gue setuju, eh dan titik akhirnya pun tak ada yg sama. eh tampaknya makin hari hakin filosofis sekali lo..

    *skarang nambah, belajar pake ganti: lo.. haha

    1. Hahaha…. Ah gak filosofis itu mah. Sama kayak ngomong orang-orang di Eropa punya banyak kemewahan yang kita gak punya, mulai dari pendidikan yang lebih baik sampe jaminan sosial. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *