Nilai Sebuah Karya

Kalo lo ngikutin blog ini, lo pasti tau gue udah nulis beberapa kali tentang topik ini. Ini emang topik yang menarik bagi gue—gimana suatu karya ditolak selama puluhan tahun dan tau-tau dianggep penemuan besar, gimana suatu karya dicuekin sampe penciptanya mati dan tau-tau dihargai tinggi banget, dan lain-lain.

Itu bikin gue pengen mempelajari segala sesuatu yang terjadi di balik fenomena-fenomena itu. Hal lain yang bikin gue penasaran: sebenernya proses mental seperti apa yang kita lalui sampe menetapkan nilai sesuatu.

Nilai Sebuah Karya | Controversy

Coba jawab tiga pertanyaan ini:

Mana yang menurut lo lebih enak: rendang atau opor?

Mana yang menurut lo lebih enak: pisang atau apel?

Mana yang menurut lo lebih enak: rendang atau pisang?

Pertanyaan pertama dan kedua gampang dijawab karena ada di kategori yang sama, yaitu lauk dan buah. Pertanyaan ketiga aneh dan lo nggak tau gimana jawabnya karena terkesan nggak nyambung. Padahal ada banyak situasi dalam hidup yang mengharuskan kita menjawab pertanyaan ketiga.

Contoh: sebuah yayasan ngontak lo. Mereka ceritain lo tentang orangutan yang terancam punah, seberapa drastis penurunan populasinya, lingkungan di mana mereka tinggal, tempat-tempat pelestarian yang kurang memadai, dan alat-alat penanganan yang terbatas jika hal buruk terjadi. Mereka lagi menggalang dana. Berapa jumlah dana yang menurut lo tepat untuk lo sumbangin?

Kalo lo lagi susah duit, lo jelas nggak akan nyumbang. Tapi kalo duit bukan masalah, berapa? Itu pertanyaan yang susah, kan?

Itu susah karena pertama-tama lo harus tau sepeduli apa lo ama hal itu. Abis itu, lo mesti menerjemahkan kepedulian lo itu ke dalam bentuk dana. Dua kategori berbeda.

Hal yang sering kita lakuin dalam situasi itu adalah cari pembanding—kita inget-inget terakhir kali kita nyumbang, untuk apa, dan berapa. Katakanlah sebelumnya lo nyumbang untuk pelestarian penyu. Lo akan tanya: lo lebih peduli ama orangutan atau penyu, atau sama? Kalo lo lebih peduli ama orangutan, jumlah sumbangan lo bakal lebih besar. Kalo penyu, lebih kecil. Sama, sama. Itulah nilai yang lo tetapkan untuk sebuah kepentingan.

Mana yang menurut gue lebih enak: rendang atau pisang? Rendang. Gue nggak akan nuker rendang dengan pisang, tapi gue nggak masalah nuker rendang dengan duren karena dua-duanya setara enaknya.

Contoh lain dari proses berpikir serupa, yang lebih melekat dengan keseharian: secinta atau sepeduli apa lo ama karier menulis lo? Setelah lo jawab itu, bukankah lo harus menerjemahkan kadar kecintaan lo dengan jumlah waktu yang akan lo alokasiin untuk nulis setiap hari? Kalo lo cuma sedikit cinta, lo akan kasih sedikit waktu. Kalo lo cinta banget, nggak ada waktu pun bakal lo sempet-sempetin.

Ini sangat terlihat di dunia seni: dalam jangka panjang kita kasih nilai tinggi untuk para seniman yang berdedikasi tinggi. Itu semua berawal dari penilaian si seniman sendiri tentang seninya—gimana dia menukar hidupnya dengan seninya, gimana dia ngorbanin segalanya untuk seninya, gimana dia rela susah dan lapar untuk seninya, dan seterusnya. Itu terjadi karena si seniman sendiri memandang mahal seninya. Semuanya bisa disimpulkan begini: pada akhirnya, orang nggak masalah ngasih lo rendang kalo lo ngasih mereka duren.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

9 comments

    1. Nah itu dia masalahnya Om…. Semua hal yang saya suka gak praktis dan gak bisa jadi duit, misalnya psikologi, sastra, filsafat. Dulu saya inget pas lagi mau kuliah, saya bilang tiga fakultas itu ke orangtua saya & mereka gak setuju hahaha

      1. barangkali itu salah satu kesulitannya. saking cintanya kita sama suatu pekerjaan, kita ga peduli itu ada bayarannya atau ga. yang penting kita bisa selalu ngerjain itu. padahal kebanyakan orang mikir “kerja” itu ya yang ada bayarannya. jadinya pekerjaan yang kita lakuin itu pun dianggap seolah2 bukan “pekerjaan”, hahaha.

        sori ujuk2 nimbrung. saya salah satu yang suka ngikutin blog ini, tapi selama ini jadi silent reader aja.

        salam kenal 🙂

        1. Tapi mungkin orangtua saya bener juga karena dalam hidup ini kan semuanya pake uang…. Mereka gak pengen liat anaknya kesulitan atau lapar. Mereka pengen anaknya bisa hidup nyaman gitu, atau setidaknya berprospek ke arah sana.

          Salam kenal juga. Thanks kamu sering mampir yah 😀

          1. iya. memang orang tua cuma pengin anaknya bisa jaga diri dan baik-baik aja, apalagi kalau kelak mereka udah enggak ada… *lah jadi suram gini

            mongomong soal uang, pernah mampir ke situs ini: http://www.moneylessmanifesto.org atau seenggaknya baca bukunya yang sebelumnya (judulnya The Moneyless Man, terbitan Serambi)? saya sendiri penasaran itu kira2 gimana kalo diterapin di Indonesia, misalkan oleh rekan2 penulis yang konon penghasilannya enggak pasti, hehe. minimal, hidup seminimal mungkin dengan uang tapi di sisi lain bebas ngelakuin apa yang diinginkan dan menyadari kalau sebenernya banyak hal dl hidup ini yang bisa diperoleh scr cuma2–itu sih poinnya.

            sama2, semoga sukses selalu 🙂

          2. Saya udah baca The Moneyless Man hehe…. Bisa itu sebenernya diterapkan, tapi perlu orang yang sangat ekstrem buat lakuin itu. Selain itu, butuh energi luar biasa untuk melawan seluruh sistem yang ada. Sukses juga 😀

  1. Hari gini, ditengah ramahnya media, sarana dan prasarana, cukup banyak memunculkan pekarya baru dalam berbagai bidang. Ke depan, urusannya bukan tentang siapa yang hari ini lebih populer atau tidak populer. Tapi tentang siapa yang kuat bertahan. Saya salut dengan para pekarya seperti Bob Dylan, Iwan Fals dan lain-lain yang sejak muda sampai hari ini, hampir tidak ada tahun yang kosong tanpa merilis karya.

    1. Setuju, tapi (gak) populer hari ini bukan berarti (gak) akan kuat bertahan pada masa depan. Dua hal itu sebenernya gak terlalu berhubungan, ya? Bisa aja seseorang populer hari ini dan kemudian hilang, bisa juga terus-menerus berkarya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *