Pop Versus Indie

Banyak kreator milih jalur pop atau indie karena alasan emosional atau malah tanpa tau kenapa. Misalnya, banyak penulis stres karena ditolak terus oleh penerbit-penerbit mayor dan beralih ke penerbit indie. Ada juga yang milih jalur pop karena alesan sesepele pengen bukunya ada di Gramedia, tanpa bisa jawab pertanyaan ini: emang kenapa kalo bukunya ada di Gramedia? Apa ada di Gramedia = laku (atau sukses)?

Padahal dua jalur itu punya fungsi berbeda, juga keunggulan dan kelemahan masing-masing. Ada karya yang lebih cocok dipromosiin lewat jalur indie. Ada juga yang lewat jalur pop. Kalo ketuker, hasilnya nggak akan optimal.

Pop Versus Indie | Controversy

Bayangin dua buah kamus:

Kamus A

Tahun publikasi           : 1990

Jumlah kosakata        : 20000

Kondisi                         : sempurna

Kamus B

Tahun publikasi           : 1990

Jumlah kosakata        : 40000

Kondisi                         : sampul depan robek, tapi selebihnya sempurna

Sekarang bayangin lo dateng ke toko buku bekas, lagi butuh kamus, dan liat dua kamus itu. Mana yang lo pilih? Lo kemungkinan akan pilih kamus B karena jumlah kosakata yang dua kali lipat lebih banyak jelas lebih berarti daripada sampul yang robek.

Tapi gimana kalo lo hanya liat satu kamus sehingga nggak punya perbandingan? Kalo lo hanya liat kamus A, lo kemungkinan akan beli itu, kan? Kenapa nggak? Tapi kalo lo liat kamus B, belum tentu. Sampulnya rusak, keliatannya jelek. Kalaupun beli, lo pasti ragu awalnya dan nimbang-nimbang. Poin gue, keraguan yang lo rasain saat lo hanya liat kamus B lebih besar daripada kalo lo hanya liat kamus A.

Dari contoh di atas lo bisa liat bahwa cara terbaik menjual kamus A adalah dengan menempatkannya sendirian, membuatnya ‘seunik’ mungkin, sehingga pengunjung nggak bisa membandingkannya dengan apa pun dan mengevaluasi dengan objektif. Sedangkan cara terbaik menjual kamus B adalah justru dengan menempatkannya dengan kamus-kamus lain supaya pengunjung bisa mengevaluasi dengan objektif dan terlihat jelas superioritasnya.

Kalo kita bicara cacat, dua-duanya sebenernya punya. Cacat kamus A adalah kualitasnya yang nggak seberapa, sementara cacat kamus B adalah sampulnya.

Terus apa hubungannya ama pop dan indie?

Terserah lo akui atau nggak, kualitas sebagian besar karya indie itu nggak sebaik karya pop—sebagian besar, bukan semua. Makanya indie identik dengan unik. Emang disuruh gitu ama pebisnis-pebisnis di baliknya. Kenapa? Karena makin unik karya lo, makin sulit dicari pembandingnya. Hasilnya: kecacatan kualitas karya lo tertutupi, nilai jualnya meningkat.

Sedangkan karya pop akan selalu dipromosiin besar-besaran. Saat lo bisa bikin musik sebagus Coldplay, lo bakal bermimpi naklukin dunia. Saat lo punya karya dengan kualitas tinggi, terlepas dari itu unik atau nggak, lo nggak akan ragu bersaing. Justru lo harus masuk ke dalam persaingan supaya jelas superioritas lo. Cacat yang sering kita temuin dalam karya pop sebenernya itu-itu aja: terlalu banyak kepentingan di baliknya, sehingga kadar keasliannya sering kali menurun. Tapi kalo bicara kualitas, jelas lebih bagus karena biasanya dikerjakan dengan profesionalisme tinggi dan quality control yang ketat.

Itu aja perbedaan mendasar dari jalur pop dan indie. Jangan salah pilih. Karya lo mungkin berhak dapet nasib yang lebih baik, tapi itu nggak terjadi karena penciptanya, lo, emosional dan asal-asalan.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

5 comments

  1. Ketika membuat produk kita harus punya USP (unique selling proposition), yaitu keunggulan/kelebihan yang dianggap penting oleh konsumen dan hanya kita yang memilikinya. Persaingan itu pasti ada, yang penting tahu cara menempatkan diri agar tampak “berbeda” dan “unggul” dari para pesaing. Nice article, I like it 🙂

    1. Thanks Mas! Sampai suatu titik saya setuju itu (tentang USP), tapi saya memang bukan penggemar teori-teori pemasaran, yang sering kali menurut saya adalah versi simpel dari segalanya hehe 😀

      1. Konsep pemasaran memang cenderung analitik dan sistematis. Sepintas tampak monoton dan seolah terjebak dalam satu dimensi semata. Tapi kalau area pengamatannya diperluas, kontroversi para pakarnya sangat bervariasi dan saling melengkapi. Bisa sangat menarik, asal mau terbuka mencerma beberapa mahzab yg saling bertentangan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *