Pengalaman, Kenangan, dan Bagaimana Kita Menilai Sesuatu

Setelah lo baca artikel Nilai Sebuah Karya dan Mungkin Karya Lo Emang Nggak Bernilai, gue harap lo belum bosen karena kali ini, walaupun dengan pendekatan berbeda, gue akan bahas topik itu lagi: nilai, atau bagaimana kita memberi nilai untuk sesuatu.

Gue akan ajak lo kenalan ama dua sisi diri lo, yaitu diri lo yang mengalami (the experiencing self) dan diri lo yang mengenang (the remembering self). The experiencing self adalah diri lo yang menjawab pertanyaan: “Apa yang lo rasain sekarang?” Sedangkan the remembering self menjawab pertanyaan: “Apa yang lo rasain dari hal itu setelah udah berlalu?”

Pengalaman, Kenangan, dan Bagaimana Kita Menilai Sesuatu | Controversy

Don Redelmeier adalah dokter dan peneliti dari University of Toronto. Pada awal 90-an, dia bikin penelitian yang melibatkan 154 pasien. Mereka semua mesti laluin kolonoskopi (prosedur untuk memeriksa dan mengevaluasi usus besar). Setiap menit mereka mesti kasih tau tingkat rasa sakit yang mereka alami, dari skala 0 sampe 10—0 artinya nggak sakit sama sekali, sementara 10 adalah rasa sakit yang nggak bisa ditoleransi. Durasi penelitian itu beda-beda—yang paling sebentar adalah 4 menit dan yang paling lama 69 menit.

Berdasarkan informasi itu, lo pasti mikir apes banget mereka yang diperiksa lama.

Tapi apa bener begitu?

Tujuan penelitian itu adalah untuk cari tau mana yang lebih baik antara lakuin pemeriksaan yang sebentar tapi konstan sakit dan lakuin pemeriksaan yang lama tapi rasa sakitnya naik-turun.

Ada seorang pasien yang diperiksa empat menit dengan tingkat rasa sakit 6-8-8-7. Ada pasien lain yang diperiksa dua belas menit dengan tingkat rasa sakit 3-5-6-8-6-4-3-6-8-5-3-2. Pasien kedua diperiksa lebih lama dan ngalamin kesakitan yang juga lebih lama. Tapi kalo lo jadi salah satu pasien dalam eksperimen itu, mana yang lo pilih?

Setiap kali seorang pasien kelar diperiksa, Redelmeier minta dia menilai tingkat sakit yang dia rasain secara keseluruhan dalam pemeriksaan itu. Dan inilah yang dia temuin:

Pertama, seluruh pasien yang diperiksa sebentar, tapi dengan tingkat rasa sakit yang tinggi dan berakhir juga dengan tingkat rasa sakit tinggi, ngasih nilai tinggi—artinya, pemeriksaan itu sakit banget.

Kedua, seluruh pasien mengabaikan durasi. Artinya, walaupun pemeriksaan yang lama berarti rasa sakit yang lebih lama, pasien-pasien itu justru ngasih nilai rendah sampe sedang—artinya, itu pemeriksaan yang wajar.

Di sini lo liat konflik antara the experiencing self dan the remembering self. Total rasa sakit yang dilalui pasien kedua lebih banyak daripada pasien pertama. Kalo bicara tingkat rasa sakit, coba cek beberapa paragraf di atas: baik pasien pertama maupun kedua sama-sama melalui rasa sakit bernilai 8 dua kali. Kenapa pasien kedua kasih nilai rendah?

Menurut Redelmeier, dalam kasus itu, the remembering self bekerja menurut aturan yang disebut the peak-end rule—artinya, mereka inget momen tersakit dalam pemeriksaan itu dan gimana semuanya berakhir. Untuk pasien pertama, yang dia inget adalah nilai 8 dan 7—rata-ratanya adalah 7,5. Sedangkan buat pasien kedua, nilainya adalah 8 dan 2—rata-ratanya adalah 5.

Pasien pertama—dan pasien-pasien lain yang bernasib sama—adalah orang-orang yang kapok dengan pemeriksaan itu. Sedangkan pasien kedua mah biasa aja. Menurut mereka, semuanya wajar-wajar aja.

Konflik antara the experiencing self dan the remembering self terjadi dalam banyak hal. Kalo lo orang bertato, lo pasti tau kenapa kita semua takut bikin tato di perut, walaupun kecil aja. Karena rasanya sakit banget dari awal sampe akhir. Padahal kalo lo bikin tato besar di punggung—nggak ada orang takut lakuin itu—total rasa sakitnya mungkin lebih banyak. Ada bagian-bagian yang sakit banget, tapi lo nggak takut karena banyak juga bagian yang nggak sakit. Nilai rata-rata rasa sakitnya lebih rendah.

Coba bayangin hubungan cinta lo yang sangat buruk dan gagal. Lo kebayang momen terburuknya. Kalo itu berakhir juga dengan buruk, keburukannya jadi berlipat ganda. The peak-end rule. Padahal kalo lo bikin hubungan yang awet dengan seseorang—lima tahun, sepuluh tahun—bukankah hal-hal buruk yang terjadi secara keseluruhan lebih banyak?

Nulis pun menurut gue sama. Saat lo lagi baca sebuah buku, lo bisa ngerasa bosen, mikir penulisnya terlalu sering mengulang informasi yang udah dia kasih, dan lihat kekurangan-kekurangan lainnya.

Tapi pada akhirnya, apa yang membuat lo berpendapat sebuah buku bagus atau jelek? Lo nggak inget setiap adegan, apalagi setiap halaman. Lo cuma inget beberapa momen ekstrem—yang paling seru, imajinatif, liar, romantis, dan semacamnya. Kalo buku itu berakhir dengan cara yang spesial, itu melipatgandakan kekerenannya. Hal sebaliknya berlaku buat buku jelek.

Kesimpulannya, yang sesungguhnya membuat penilaian adalah diri kita yang mengingat (the remembering self), bukan yang mengalami. Lo bisa kasih seseorang pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, tapi yang lebih penting dari itu: kasih dia sesuatu untuk diingat.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

3 comments

  1. Setuju sekali. Tetapi pengalaman pembaca juga tak bisa diabaikan sepertinya, karena bagaimana mungkin buku akan habis dibaca kalau pengalaman pembaca buruk dari halaman pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *