Kenapa Kenyataan Lebih Aneh daripada Fiksi

Kita semua pernah denger kutipan truth is stranger than fiction. Siapa yang bilang gitu? Banyak. Nggak pentinglah siapa yang pertama kali ngomong. Pertanyaannya, lo setuju atau nggak dengan itu?

Kalo nggak—kalo menurut lo fiksi lebih aneh daripada kenyataan—baca artikel lain aja. Artikel ini bukan buat lo. Tapi kalo lo setuju, silakan lanjut baca.

Kenapa Kenyataan Lebih Aneh daripada Fiksi | Controversy

Gue akan kasih lo sebuah profil:

Naomi berusia tiga puluh, lajang, mandiri, dan cerdas. Ketika kuliah dulu, dia mengambil sastra, menunjukkan minat dan bakat kepenulisan yang tinggi, sangat peduli dengan isu-isu diskriminasi dan kesetaraan gender, dan merancang sebuah gerakan mahasiswa yang mengusung hak-hak perempuan.

Sekarang jawab pertanyaan ini:

Mana yang lebih mungkin dari Naomi yang sekarang (yang berusia tiga puluh):

Pertama, dia adalah seorang penulis.

Kedua, dia adalah seorang penulis yang feminis.

Jawab dulu.

Jangan lanjut baca.

Kalo lo jawab yang kedua, lo secara nggak sadar lagi menyalahi logika mendasar. Jawaban lo bakal langsung patah kalo Naomi ternyata udah nggak feminis lagi. Tapi kalo lo jawab yang pertama, selama Naomi adalah seorang penulis, terlepas dari dia feminis atau nggak, jawaban lo bener. (Kalo Naomi bukan penulis dan juga nggak feminis, ya nggak ada jawaban yang bener, tapi itu di luar konteks.)

Artinya, lo akan lebih deket dengan kebenaran kalo milih jawaban pertama.

Itulah kenapa kenyataan lebih aneh daripada fiksi.

Penulis sering kali terlalu terperangkap dalam prinsip kausalitas dalam merancang karakterisasi dan alur cerita—dia begini karena begitu, ini terjadi karena itu, dan seterusnya. Padahal, soal karakterisasi, bukankah sifat manusia adalah sesuatu yang acak? 50% emang karena gen, tapi selebihnya karena lingkungan, budaya, dan lain-lain. Saat seseorang lahir, dia bisa lahir di Indonesia, Eropa, atau mana aja (dengan lingkungan dan budaya berbeda). Artinya, sifat dia nanti gimana, itu sebagian besar ditentuin oleh keberuntungan—atau kebetulan.

Soal alur, coba lihat diri lo. Apa siapa lo dan di mana lo hari ini adalah hasil prinsip kausalitas? 50% mungkin iya, tapi selebihnya adalah hasil keberuntungan—atau kebetulan—atau faktor-faktor yang ada di luar kendali lo dan nggak lo prediksi sebelumnya.

Menurut gue, cerita yang ideal adalah yang nggak pake alur. Artinya, bisa aja ada hal-hal yang terjadi dan nggak mengarah ke mana-mana. Cerita yang ideal adalah yang karakterisasinya nggak kaku dan mengabaikan faktor keberuntungan. Hanya dengan begitu fiksi bisa seaneh kenyataan.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

3 comments

    1. Iya, saya juga mikir gitu. Kalo kita masukin lebih banyak ‘kenyataan’ di dalam karya fiksi, jadinya bakal lebih aneh dan unik, walau akan lebih sulit dimengerti juga. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *