Apakah Orang Berumur Pendek Tidak Bahagia?

Kalo lo ditanya apa orang berumur pendek nggak bahagia, lo bakal jawab belum tentu, tergantung gimana kehidupannya. Bisa aja seseorang jalanin hidup yang secara keseluruhan menyenangkan, tapi nggak dianugerahi umur panjang.

Tapi kalo lo ditanya apa mati muda itu tragis, lo kemungkinan bakal jawab iya, atau setidaknya itu sesuatu yang nggak diinginkan. Kalo bisa milih, orang bahagia yang mati muda akan milih umur yang lebih panjang.

Apa bener gitu?

Apa bener kita mengevaluasi hidup seperti yang kita kira?

Apakah Orang Berumur Pendek Tidak Bahagia? | Controversy

Gue kasih lo tiga skenario.

Skenario pertama:

Wisnu adalah pria menikah yang memiliki seorang anak, pekerjaan yang baik, waktu untuk berlibur dan melakukan hobinya, dan sahabat-sahabat yang akrab. Pernikahannya stabil dan anaknya tumbuh menjadi seorang manusia yang pantas. Wisnu meninggal dengan tenang pada usia enam puluh.

Apa Wisnu menjalani kehidupan yang bahagia? Lo akan bilang iya. Tentu itu nggak berarti dia bahagia setiap menit, karena itu nggak mungkin, tapi secara keseluruhan kehidupannya baik dan dia bahagia.

Skenario kedua:

Seluruh deskripsi tentang Wisnu dan kehidupannya sama dengan skenario pertama. Yang beda cuma dia meninggal, juga dengan tenang, pada usia empat puluh.

Apa Wisnu jalanin kehidupan yang bahagia? Lo mungkin mikir dua detik, tapi pada akhirnya lo akan bilang dia jalanin kehidupan yang baik dan bahagia. Satu-satunya hal yang disayangkan adalah dia meninggal terlalu cepat, tapi tentu saja itu nggak bikin kehidupannya jadi sengsara.

Kalaupun dia meninggal umur tiga puluh (juga dengan tenang), kesimpulannya tetep sama: sangat disayangkan dia mati secepat itu, tapi itu nggak bikin kehidupan yang dia jalanin sengsara—tetep aja dia jalanin kehidupan yang bahagia, walau pendek. Dengan deskripsi kehidupan seperti pada skenario pertama, lo bisa mati umur 30, 40, 60, atau 80, dan kesimpulan akhirnya tetep sama.

Skenario ketiga:

Sampai Wisnu berusia enam puluh, seluruh deskripsi tentang dia dan kehidupannya sama dengan pada skenario pertama. Dia akhirnya meninggal pada usia enam puluh lima. Tapi lima tahun terakhir hidupnya ada kemerosotan signifikan. Dia bercerai dengan istrinya. Kesehatannya memburuk dan dia mesti bolak-balik ke rumah sakit dan itu ngabisin banyak duit sehingga dia jual rumahnya dan tinggal sendirian di rumah kontrakan.

Pertanyaannya: apa Wisnu jalanin kehidupan yang bahagia? Apa Wisnu bahagia? Inget, kemerosotan itu hanya terjadi lima tahun terakhir dan dia hidup enam puluh lima tahun. Mana yang menurut lo lebih bahagia: Wisnu dalam skenario kedua atau ketiga?

Itulah yang disebut the peak-end rule, yang juga gue bahas pada artikel Pengalaman, Kenangan, dan Bagaimana Kita Menilai Sesuatu. Saat mengevaluasi sesuatu, kita hanya ngasih bobot pada momen-momen ekstrem (terbaik, terburuk, tertinggi, terendah, dan semacamnya) dan gimana semuanya berakhir, bukan berapa lama waktu berjalan. Sebuah cerita adalah tentang saat-saat signifikan dan pantas dikenang, bukan durasi.

Kalo lo penulis, yang salah satu kerjaannya adalah merancang takdir karakter-karakter lo, pemahaman ini tentu berguna. Apakah karakter yang lo rancang bahagia bener-bener bahagia? Apakah karakter yang lo rancang sedih bener-bener sedih?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *