Tentang Kepuasan Hidup

Seberapa puas lo dengan hidup lo? Itu bukan pertanyaan sesimpel berapa umur lo atau di mana alamat rumah lo. Kadang kita heran ada orang yang ceria dan hidupnya terlihat baik-baik aja, tapi ternyata nggak puas dengan banyak hal. Sebaliknya, ada orang yang terlihat pendiam dan hidupnya banyak tantangan, tapi ternyata justru puas.

Apa yang sebenernya bikin kita puas dengan hidup kita?

Apa yang bikin kita kecewa?

Tentang Kepuasan Hidup | Controversy

Untuk meneliti hal itu, psikolog Mihaly Csikszentmihalyi ciptain suatu metode yang disebut experience sampling. Sederhananya kira-kira gini: katakanlah lo peneliti. Seribu orang mau jadi partisipan. Minta mereka untuk install sebuah aplikasi (yang lo bikin untuk penelitian itu) di ponsel mereka. Pada waktu-waktu yang acak dalam sehari—anggeplah tiga kali sehari—aplikasi itu akan ngasih mereka dua sampe tiga pertanyaan yang harus dijawab, misalnya lagi ngapain, lagi sama siapa, lagi senang atau sedih (tenang atau khawatir, dan sebagainya).

Kalo lo lakuin itu dalam setahun, lo bakal punya data yang sangat lengkap dan kaya pada akhir penelitian lo. Lo bisa tau seseorang lebih banyak ngalamin emosi positif atau negatif sepanjang tahun. Lo bisa lihat korelasi emosi-emosi itu dengan aktivitas mereka dan seberapa sering mereka bersosialisasi. Karena jumlah partisipan lo banyak—bisa seribu, dua ribu, berapa aja—penilaian lo bisa objektif.

Tapi bukan penelitian itu yang menarik buat gue.

Yang menarik dan selalu terjadi: setelah penelitian-penelitian semacam itu selesai dan para partisipan ditanya seberapa puas mereka dengan hidup mereka secara keseluruhan, jawaban mereka sering nggak sinkron. Orang yang lebih banyak ngalamin emosi positif dan punya kehidupan sosial yang baik belum tentu puas dengan hidup mereka secara keseluruhan. Sebaliknya, orang yang banyak ngalamin emosi negatif dan nggak terlalu sosial bisa aja jawab puas—atau cukup puas.

Kok bisa gitu?

Psikolog Daniel Kahneman punya penjelasan (yang gue sederhanain): bayangin lo pernah kecelakaan dan kaki lo buntung sebelah. Lo pasti marah, stres, dan suasana hati lo buruk. Tapi setelah sekian lama berlalu—katakanlah satu-dua tahun—hidup lo udah kembali normal. Lo udah kerja lagi kayak biasa. Kendala yang ada karena kaki lo buntung udah ada solusinya. Poinnya, lo udah beradaptasi dengan itu dan kebuntungan lo nggak lagi mendominasi isi pikiran lo. Lo bisa seneng seperti orang lain.

Tapi saat lo ditanya apa lo puas dengan hidup lo, lo kayak diingetin lagi soal kecelakaan itu dan kebutungan kaki lo. Terlepas dari sebanyak apa emosi positif yang lo alami sepanjang tahun—atau bertahun-tahun—ada kemungkinan yang cukup besar bagi lo untuk jawab nggak puas atau kurang puas, atau memberi hidup lo nilai yang nggak tinggi dalam suatu skala, misalnya hanya 5 atau 6 dari skala 1 sampe 10.

Pada akhirnya, seperti yang juga gue bahas di artikel Pengalaman, Kenangan, dan Bagaimana Kita Menilai Sesuatu dan Apakah Orang Berumur Pendek Tidak Bahagia?, saat kita mengevaluasi sesuatu, yang sebetulnya mengevaluasi adalah diri kita yang mengingat (the remembering self), bukan diri kita yang mengalami (the experiencing self).

Kita cenderung ngasih bobot lebih berat pada kejadian-kejadian ekstrem yang hanya berlangsung sekejap. Dan itu nggak selalu bijaksana. Kaki lo toh udah buntung, nggak bisa diapa-apain, dan setelah itu sebenernya lo lebih banyak ngalamin hal-hal menyenangkan dan emosi positif. Bukankah hidup harus terus berjalan dan yang terpenting adalah hari ini dan sejarah nggak lagi relevan dalam kasus ini?

Kaki buntung mungkin contoh yang terlalu ekstrem, tapi lo ngerti maksud gue. Lo tau ‘kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan kaki buntung’ dalam hidup lo, yang mempengaruhi tingkat kepuasan lo terhadap hidup lo sampe hari ini. Bukankah udah saatnya untuk lupain masa lalu?

Gue rasa penulis mana pun di dunia suka dengan topik ini. Ini membantu kita untuk memahami karakter-karakter kita dan pergulatan-pergulatan pikiran mereka. Lo bahkan bisa bikin buku hanya dari artikel ini. Tentang seseorang yang kecewa dengan hidupnya sampe dia mutusin bahwa hidup harus tetap berjalan dan sejarah nggak lagi relevan. Tapi sebelum itu, apa lo sendiri udah mutusin bahwa hidup harus tetap berjalan dan yang terpenting adalah hari ini?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

  1. 2 alinea terakhir menarik. Dulu saya pernah membaca buku yang saya lupa judulnya. Dia menganalogikan taman bermain. Saat ke taman bermain dan memutuskan untuk naik beberapa wahana misal roller coaster, merry go round, boom boom car, dll.. Di akhir perjalanan,orang tersebut lebih akan bercerita mengenai betapa ketakutannya mereka dan terpacunya adrenalin di beberapa permainan tertentu daripada menceritakan wahana “bahagia”. Mungkin rasa sakit,takut,kecewa lebih mendominasi otak ketimbang rasa bahagia betapapun besar jumlahnya.

  2. sejarah tinggal sejarah…. the scar might be still there, tapi hanya untuk mengingatkan bahwa DULU emang sakit, tapi sekarang toh sudah tidak terasa apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *