Please Leave a Review on TripAdvisor

Kalo lo makan di daerah-daerah wisata di Bali, satu hal jelas banget: mereka sangat ngandelin TripAdvisor. Hampir di tiap restoran atau kafe, ada tulisan yang intinya minta lo cerita ke temen lo atau tinggalin ulasan di situs itu kalo lo punya kesan dan pengalaman positif.

Dan itu strategi yang jitu.

Area Kuta, Bali

Bali adalah tempat yang penuh turis dan traveler—orang-orang yang hari ini ada, besok belum tentu. Beriklan secara konvensional nggak ada gunanya. Mereka nggak nonton program TV lokal, nggak baca koran atau majalah setempat.

Selain itu, sebagian besar mereka adalah anak muda. Generasi internet. Generasi yang liat Google Maps saat mau pergi ke suatu tempat, ngecek TripAdvisor saat mau cari makan, nongkrong, atau party.

Gue jadi inget buku Purple Cow karya Seth Godin. Di situ Godin bicara tentang era Before Advertising, During Advertising, dan After Advertising.

Before Advertising, there was word of mouth. Products and services that could solve a problem got talked about and eventually got purchased. The best vegetable seller at the market had a reputation, and her booth was always crowded.

During Advertising, the combination of increasing prosperity, seemingly endless consumer desire, and the power of television and mass media led to a magic formula: if you advertised directly to the consumer (every consumer), sales would go up. A partnership with the right ad agency and the right banker meant you could drive a company to be almost as big as you could imagine.

After Advertising, we’re almost back where we started. But instead of products succeeding by slow and awkward word of mouth, the power of our new networks allows remarkable ideas to diffuse through segments of the population at rocket speed.

Buku Seth Godin

Salah satu poin yang Godin sampein dalam buku itu adalah kita udah tiba di era After Advertising. Iklan emang belum bener-bener mati, tapi giginya udah keropos. Dan itu terlihat jelas di daerah-daerah turistik di Bali, yang crowd-nya didominasi generasi muda—generasi kita. Restoran burger favorit gue di Bali, misalnya, rame hanya karena TripAdvisor, padahal lokasinya nggak ideal, agak susah dicari.

Di masa depan nanti generasi orangtua kita, Generasi TV, bakal lewat. Generasi kita akan sepenuhnya dominan. Mungkin segalanya bisa dibangun di atas prinsip itu: please tell your friends or leave a review on TripAdvisor (dan media sosial secara umum, tentu saja).

Pantai Terburuk di Bali

Pantai terburuk di Bali adalah surga empat puluh tahun yang lalu. Paradise. Putih pasirnya, bersih, sepi, dan dilatarbelakangi lautan pohon kelapa. Gue bisa bayangin enaknya nongkrong di situ—berenang, berbaring sambil baca buku, berenang lagi, duduk sambil main gitar.

Kalo lo lagi sedih, nggak akan susah untuk bikin lo bahagia lagi. Kalo lo lagi cari inspirasi, nggak akan susah untuk bikin kepala lo penuh ide. Kalo lo lagi cari cinta, sepanjang pantai itu adalah cinta.

1975

1975

 

Pantai terburuk di Bali masih surga tiga puluh tahun yang lalu. Masih bersih, sepi, dan dilatarbelakangi lautan pohon kelapa. Belum ada hype yang over lebay di dunia tentangnya. Belum ada crowd yang lebih over lebay lagi di sana. Belum didatengin turis-turis modern yang tipikal, yang nggak punya taste, nggak punya cinta sama alam, nggak ada respek sama budaya setempat, dan ngertinya cuma teriak-teriak dan pesta pora.

Anak-anak kecil masih bisa main bola dengan lega—nggak kesenggol turis, nggak kepleset sampah plastik, dan suara tawanya nggak ditelen ama musik dari bar-bar dan klub-klub malam. Mereka bener-bener tinggal di surga—bukan surga buat gila-gilaan, melainkan surga dalam arti yang indah.

1985

1985

 

Kadang gue mikir, apa Bali layak kehilangan tempat-tempat surgawinya satu demi satu? Apa yang tersisa nanti? Resor? Klub malam? Pemabuk tidur di got? Kita semua emang cari duit. Kita semua juga berhak usaha sebaik-baiknya dan seneng-seneng. Tapi apa itu mesti dilakuin dengan jalan merusak?

Lo mungkin udah bisa nebak dari garis pantainya. Ya, pantai terburuk di Bali, yang dulunya adalah surga, adalah Pantai Kuta.

 

*Foto pertama milik Geoff Mitchell. Foto kedua milik Joanne Suseto. Gabung ke grup FB Lost Bali untuk liat udah seberapa jauh kita mengubah surga jadi neraka.

Pantai Terbaik di Bali

Ini bukan tulisan tentang tiga atau lima atau sepuluh pantai terbaik di Bali. Ini adalah tulisan tentang pantai terbaik di Bali. Foto-foto yang gue punya mungkin nggak menyajikan setiap sisi dan sudut pantai itu, tapi foto lo selalu bisa googling.

Jujur aja, gue mikir sepuluh kali sebelum nulis entri ini. Sebagai orang yang cinta Bali, gue nggak pengen pantai ini diketahui banyak orang, dikunjungin banyak turis, dan jadi kotor, bising, dan nggak asik lagi.

Tapi, setelah gue pikir-pikir, cepet atau lambat pantai ini pasti bakal kedengeran juga beritanya. Pemerintah daerah dan penduduk setempat usaha promosiin itu. Ini juga bukan tulisan pertama di internet tentang pantai itu. Selain itu, gue nggak mungkin kekepin pantai itu buat diri sendiri dan segelintir orang aja. Kita semua tau, segala usaha untuk masukin suatu tempat ke dalam kapsul waktu selalu berakhir dalam kegagalan.

Dua puluh taun lalu, Pantai Kuta masih indah, Jalan Legian belum semrawut, Lovina belum ada yang tau. Sekarang Pantai Kuta overcrowded, Jalan Legian punya atmosfer yang nggak menyenangkan, dan Lovina kotor.

Alesan lain, pantai itu nggak deket dari bandara. Sampe kapan juga area Kuta akan selalu jadi yang paling rame karena lokasinya yang mudah dijangkau turis dan infrastruktur pariwisatanya yang baik. Turis modern yang tipikal—mereka yang ke Bali cuma untuk seneng-seneng dan nggak punya rasa lapar untuk petualangan aneh dan ribet—nggak akan pernah nyampe ke pantai terbaik di Bali ini. (Itu alesan kenapa utara Bali jauh lebih sepi daripada selatan, kan? Padahal alam di utara secara umum lebih indah.)

Dua tahun lalu, sebagian jalan ke arah pantai itu belum beraspal, bolong-bolong dan berbatu-batu. Belokannya lumayan banyak dan nggak ada tanda jalan. Untuk sampe ke sana lo mesti punya penciuman sekuat anjing pelacak.

Sekarang jalannya udah bagus. Belokannya tetep banyak, tapi tanda jalannya nggak kalah banyak. Selain itu, lo selalu bisa gunain GPS. Untuk sampe ke sana lo cuma mesti bisa bawa motor dan pegang ponsel dengan koneksi internet. Hidung lo lagi mampet pun nggak masalah karena penciuman lo nggak dibutuhin.

Tapi kalo lo nggak bisa bawa motor, cuma satu hal yang bisa dilakuin: sewa mobil. (Kalo lo nggak bisa bawa motor, salah besar lo ke Bali.) Nggak ada shuttle bus berangkat ke sana. Nggak ada angkutan umum. Nggak ada taksi di daerah sana, jadi ya judulnya lo bisa berangkat tapi nggak bisa pulang. Supir ojek juga males nganterin lo ke sana karena jaraknya yang jauh.

Begitu sampe di parkiran motor, lo mesti nurunin sekitar tiga ratus anak tangga (pantai itu emang persis di bawah bukit). Kalo lo mau bawa sesuatu—buku, misalnya—jangan sampe kelupaan. Karena kalo udah di bawah, lo pasti males ke atas lagi buat ngambil buku lo, sesuka apa pun elo baca.

Kenapa gue bilang ini pantai terbaik di Bali? Karena nggak hanya indah, pantai ini juga sepi dan bersih—sesuatu yang sekarang makin susah didapet di pantai-pantai di Bali (ada lagi sebenernya pantai yang sama-sama indah dan sepi di deket Padang Bai, tapi favorit gue masih pantai ini).

Gue ke sana bareng beberapa sodara dan temen pas lagi high season. Jumlah orang di sana totalnya paling cuma lima belas. Pas lagi low season bisa nggak ada orang sama sekali. Kalo lo ke sana, pantai itu, lengkap dengan pemandangannya yang luar biasa, serasa milik lo sendiri. Lo bisa seneng-seneng, bisa juga menyendiri tanpa harus khawatirin ‘gangguan-gangguan’ yang bisa lo dapet di pantai semacam Pantai Kuta.

Kalo lo udah pernah ke sana, lo pasti tau dari tadi gue ngomongin pantai apa. Ya, pantai terindah di Bali. Pantai Gunung Payung.