Kenapa Orang Nggak Suka Backpacker

Hampir segala sesuatu tentang kehidupan gue di Bali adalah tentang couchsurfing. Gue jadi host untuk para traveler di kosan gue. Gue jalan-jalan ke sisi lain pulau dewata itu dan di-host ama sesama anggota situs itu. Semua travel buddy gue diperoleh dari situ. Gue juga dateng ke meet-up mingguan mereka di daerah Kuta.

Suatu malam, gue ngobrol-ngobrol tentang backpacker sama salah satu host di komunitas itu. Anggeplah namanya Bob. Dia lebih lama di Couchsurfing dibanding gue, jadi pengalamannya lebih banyak. Dia cerita kenapa dia nggak pernah lagi nerima backpacker di kosannya.

“Bukannya gimana-gimana, El,” katanya, “backpacker itu nyusahin. Mereka nggak mandiri. Mentalnya numpang, nebeng, ngambil. Tiap kali gue nge-host satu aja backpacker di kosan gue, stok Indomie sebulan abis, cemilan abis, semuanya abis. Apa abis itu diganti—nggak usah semuanya, deh, seperempat aja? Nggak. Apa abis itu gue ditraktir bir tanda terima kasih udah bolehin dia tinggal gratis di tempat gue? Nggak. Cabut ya cabut aja. Itu belum termasuk kalo mereka minta anterin ke tempat-tempat wisata. Apa mereka patungan bensin? Nggak. Apa gue dibeliin makan atau minum? Nggak. Mereka kan mestinya ngerti, itu semua bukan tempat baru bagi gue. Gue ke sana khusus nganterin mereka.”

“Namanya juga backpacker, bro,” bales gue, sok menghibur, padahal cuma mancing dia supaya ngomong lebih banyak. “Duit pas-pasan, tapi pengen pergi ke sebanyak-banyaknya negara. Mungkin mereka ngiterin Asia Tenggara juga hitchhiking. Ada lagi yang ke mana-mana bawa tenda. Kalo mau tidur, main pasang aja gitu di taman kota.”

“Ya mestinya nggak gitu-gitu amat. Traveler normal nggak gitu, kok. Lo nggak ngerasa dimanfaatin. Mereka emang tertarik sama lo sebagai penduduk lokal. Mereka numpang di tempat lo ya untuk neken budget juga, tapi selama tinggal, mereka peduli ama kebutuhan lo. Lo bisa punya hubungan teman, sesama manusia. Lo nggak diliat cuma sebagai orang yang bisa bantuin proyek traveling pribadi mereka supaya berhasil.”

Gue ngerti penjelasan dia. Gue pernah punya pengalaman yang mirip-mirip. Emang nggak enak rasanya berhubungan ama orang yang butuh kita, tapi sebenernya nggak tertarik ama kita. Apalagi kalo abis itu dia ngambil ini-itu tanpa rasa peduli.

Hubungan gue dengan para traveler—traveler normal, bukan backpacker—sejauh ini sih baik-baik aja. Mereka yang udah balik ke negara mereka masih chatting ama gue, ngobrol via Skype, dan berbalas komentar di Facebook. Itu terjadi karena kita temen. Gue tertarik ama mereka, mereka tertarik ama gue.

Gimana dengan backpacker?

Gue pernah nge-host satu backpacker asal Jerman di Jakarta. Perempuan 24 tahun. Sekali makan, jatah tiga orang abis. Cemilan gue dihajar tuntas. Pas gue ajak duduk-duduk di Anomali Coffee, dia nggak mau karena menurut dia kemahalan. Jadi, gue dibawa muter-muter di jalan sampe ketemu kopi lima ribu perak. Sebagai orang bermata uang euro, harusnya dia lebih berharga diri karena dengan lima ribu perak dia nggak bisa beli apa-apa di negaranya.

Terus hujan turun, jadi kita berteduh di Setiabudi One. Sambil nunggu, dia beli takoyaki yang harganya lima belas ribu perak. (Jadi, dia ini sebenernya punya duit, tapi pelit banget karena setelah Indonesia dia mau ke Myanmar.)

Pada hari lainnya, dia berniat ngakalin satu kafe. Kita pesen bir satu tower. Kebetulan pelayan bikin kesalahan: dia kasih kita menu normal dan menu promosi yang tanggalnya udah lewat. Di menu promosi, harga satu tower bir lebih murah lima puluh ribu.

Dia bilang ke gue, “Elia, nanti pas mau bayar, bilang aja kita pesen berdasarkan apa yang kita liat di menu promosi. Itu kan salah mereka, taruh menu yang udah nggak berlaku lagi.

Ya gue jelas nolak ide itu. Nggak keren banget. Akhirnya, jumlah uang yang dia kasih ke gue pun kurang dari yang mestinya dia bayar karena dia kekeh dengan hitungan harga promosi.

Gimana hubungan gue ama dia sekarang?

Nggak ada. Kayak nggak pernah kenal.

Dan seperti Bob, setelah itu gue mikir dua kali buat nge-host backpacker lagi.

Bule-bule Bali dan Generalisasi

Kalo lo pernah tinggal di Bali, lo pasti tau bahwa bule yang paling nggak disukain adalah yang berasal dari Australia. Mungkin cuma dua macam orang yang suka ama mereka: sesama orang Australia dan penduduk lokal yang kerjaannya erat dengan pariwisata. Di luar itu, nggak ada.

Ada temen gue, orang Polandia, yang ngalamin cultural shock ngeliat bule-bule dari negara kanguru itu di Kuta. Dia bilang, di Eropa nggak ada orang yang nongkrong di kafe atau keliling kota naik motor dengan telanjang dada atau cuma pake bikini. Begitu keluar dari pantai, mereka akan berbusana normal.

Temen gue dari Belanda pernah berkomentar dengan nada agak sinis: “Orang-orang Indonesia di sini mungkin mikir semua orang kulit putih itu nggak tau aturan, padahal yang kayak gitu cuma orang-orang Australia itu aja.”

Kelakuan mereka jelas banyak datengin efek buruk. Misalnya, orang jadi nggak suka area Kuta karena crowd-nya nggak asik. Yang lebih buruk lagi, orang jadi nggak suka Bali seolah-olah Bali itu cuma Kuta.

Tapi apa bener semua orang Australia itu annoying?

Kayaknya kita sebagai manusia, karena nggak mau repot-repot mempelajari dan berusaha mengerti, makin terbiasa dengan generalisasi. Banyak orang nggak suka orang Amerika karena mereka dianggap identik dengan arogansi, terlalu ngerasa kalo mereka dateng dari negara nomor satu di dunia—padahal orang Amerika yang nggak gitu juga ada. Banyak orang nggak suka orang Perancis karena mereka dianggap nggak ramah, sama sekali nggak mau bantu orang lain kecuali kalo elo juga ngomong bahasa Perancis—padahal orang Perancis yang nggak gitu ya juga ada.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, gue bikin satu teori tentang orang-orang Australia di Bali. Di negara kanguru itu, harga rokok tinggi banget, tempat umum yang boleh ngerokok susah dicari. Orang baru bisa beli minuman beralkohol, termasuk bir, setelah—kalo nggak salah—umur 21. Dan itu aturan yang strict, nggak bisa seenaknya dilanggar kayak di Indonesia ini.

Makanya nggak heran kalo sebagian besar orang Australia di Kuta itu masih abege—di bawah umur 21. Mereka emang dateng ke Bali khusus buat ngerokok tanpa kontrol, mabok-mabokan, berpesta liar, dan ngelanggar aturan. Mereka ngeliat Bali, yang adalah bagian dari negara Indonesia yang aturan-aturannya nggak lebih dari sekadar lelucon, sebagai tempat yang pas untuk lampiasin hasrat muda yang menggelegak. Mereka ngeliat Bali sebagai paradise—dalam pengertian yang nggak indah.

Kata orang, orang-orang Australia di Australia nggak kayak di Bali. Mereka normal. Dan sering terjadi bahwa orang-orang Australia yang lebih dewasa, saat pergi ke Bali, ngerasa malu liat kelakuan abege-abege negaranya sendiri.

Di Bali kadang kita ngerasa males begitu tau seseorang berasal dari Australia. Tapi kita perlu ngingetin diri sendiri bahwa orang itu beda-beda, nggak bisa dipukul rata. Kita juga nggak akan seneng kalo dianggep payah, dapet perlakuan sinis, atau dianggep teroris hanya karena kita orang Indonesia—seolah nggak ada orang Indonesia yang hebat dan cinta damai.

Baru-baru ini gue pergi ke satu restoran dan nanya pelayannya apa makanan terenak yang mereka punya. Sambil nunjuk satu tulisan di daftar menu, dia bilang, “Biasanya kalo lokal pesan yang ini.”

Lo pasti bisa nebak kelanjutannya. Ya, gue nggak pesen makanan yang dia tunjuk. Kalaupun itu satu-satunya makanan yang tersisa saat itu, gue mendingan pindah ke restoran lain. Poinnya, orang nggak suka dipukul rata. Orang nggak suka saat individualitasnya nggak dihargai. Seolah kita nggak punya kepribadian sendiri. Seolah semua orang Australia itu sama.