Bagaimana Menjadi Penulis Terkenal pada Era Internet

Di Indonesia ada seorang penulis muda yang terkenal dan lumayan kontroversial. Namanya diawali dengan huruf D. Banyak orang benci dan mengkritik dia, tapi banyak pula yang memuja-muja sampe tergila-gila.

Semua bukunya bergenre teenlit. Pada awal kiprahnya sampe sekarang, teenlit emang masih jadi genre fiksi yang paling dicari penerbit. Walaupun persaingannya makin keras, tetep aja peluang mempopulerkan buku teenlit lebih besar daripada buku-buku bergenre lain.

D tau itu. Yang menarik, dia nggak sekadar bikin satu naskah dan ngajuin ke penerbit-penerbit. Kalo kayak gitu, dia mesti baku-hantam ama ribuan penulis lain yang mungkin aja kualitas tulisannya lebih bagus daripada dia. Modal utama D adalah melek internet dan mata yang tajam. Dia lakuin sesuatu yang mustahil dilakuin sebelum era internet.

  1. Dia beli 100.000 followers Twitter

Banyak orang beli pengikut Twitter. Lo bisa bilang itu nggak fair, tapi dalam konteks ini, sepenting itukah menjadi fair? Lo lakuin itu buat kemajuan diri lo dan lo juga nggak nyakitin siapa-siapa. Terus, apa masalahnya?

Tapi banyak orang beli pengikut dalam jumlah yang tanggung—2000, 5000, 10000, 20000. Padahal kalo lo udah milih ngambil jalan pintas, mestinya jangan tanggung. Jangan takut. Bablas sekalian. Aksi tanggung menghasilkan orang tanggung dengan karya tanggung.

Kalo pengikut lo 100.000, jelas tweets lo akan menjangkau jauh lebih banyak orang daripada kalo lo berpengikut 10.000. Jumlah RT, fav, dan segala macem yang lo dapet juga akan jauh lebih banyak. Hasilnya, pertambahan jumlah pengikut lo bakal berkali-kali lipat lebih tinggi. D dapet sejuta pengikut dalam waktu relatif singkat—kurang-lebih dua taun.

  1. Dia kasih apa yang calon pembacanya minta

Walaupun pengikut lo seratus ribu, kalo lo nggak pernah ngetwit atau twit lo nggak menarik dan ketinggalan jaman, nggak akan ada hal besar yang terjadi. D ngetwit galau. Pada saat itu, tuntutan terhadap twit galau emang lagi tinggi-tingginya—sekarang mungkin udah rada basi. Tweets galau dia simpel aja sebenernya, tapi sebagian besar pengguna Twitter emang orang-orang pop. Mereka butuh sesuatu yang sederhana, mudah dipahami, terasa personal, dan mereka bisa relate. D kasih itu. Buku-buku dia kemudian adalah semacam aksi follow-up dan bentuk besar dari tweets-nya selama sekitar dua taun.

  1. D bikin sensasi online secara berkala

Bukan rahasia kalo D, dengan kemampuan photoshop-nya yang cukup bagus untuk menipu mata awam, ngambil foto cewek-cewek langsing dan ganti muka mereka dengan muka dia sendiri (yang tentu nggak luput dari proses pengeditan). Aksi dia itu jelas memicu obrolan atau perdebatan atau gosip seputar dirinya di dunia online maupun offline.

Baru-baru ini dia juga bikin sensasi lagi di Twitter. Dia dikritik ama seorang penyair karena tweets-nya nyontek syair-syair si penyair. Plagiat. Itu jelas datengin sorotan buat si D. Apa itu akan berefek buruk buat dia? Gue rasa justru akan lebih banyak efek positifnya daripada negatif. Yang D perlu lakuin hanya minta maaf dan keluarin buku baru.

  1. D yang sebenernya mudah menerima masukan

Kebetulan editor D itu temen gue. Dia cerita kalo D itu aslinya nggak aneh atau arogan. Dia bukan jenis penulis yang sok tau dan susah diatur padahal nggak punya skill. Pas proses editing, dia mau dengerin dan kerja sesuai tuntunan editornya. Dia mau proses editing itu ningkatin kualitas karyanya. Dan dia nggak masalah kerja lebih keras untuk itu.

 

Setelah gue ngeliat bener-bener langkah-langkah yang diambil si D untuk karier menulisnya, terutama setelah denger cerita editornya, gue nyimpulin bahwa D ini bukan selebtwit tipikal yang nerbitin buku mumpung namanya lagi kedengeran. Dia lebih cerdas daripada itu dan dia tau apa yang dia lakuin. Dia bangun kariernya di atas fondasi yang dia rancang secara sadar.

Pada artikel ini gue nulis bahwa buku-buku untuk generasi internet masih ditulis dengan cara yang sama dengan buku-buku untuk generasi prainternet. Itu bener. Tapi cara-cara meraih kesuksesan sebagai penulis pada era internet udah banyak berubah. Masih bisa, emang, untuk sukses dengan cara-cara prainternet, tapi kesempatan itu makin kecil dan akan makin kecil. Sebagai penulis generasi internet, tanpa ragu gue akan bilang, saat ini D ada di garis terdepan.

Penulis Populer dan Penulis Cult

Di Indonesia, industri apa pun yang berhubungan langsung dengan masyarakat, terutama seni, adalah industri yang nggak berkepribadian. Hari ini genre A bisa terkenal banget, tapi besok mati dan berganti dengan genre B. Di musik, misalnya, pas Melayu lagi merajalela, musisi-musisi bergenre lain nggak punya tempat. Di buku, pas teenlit naik daun, penulis-penulis bergenre lain, kecuali yang udah bernama besar, tersisih.

Kadang kita bandingin industri kita dengan, misalnya, industri di Amerika. Kita bilang di sana selalu ada pasar untuk genre apa pun. Selalu ada pendengar rock, pop, jazz, blues, country, dan seterusnya. Selalu ada pembaca romance, fiksi ilmiah, fantasi, dan lain-lain. Seniman bisa fokus berkarya aja karena karyanya pasti bisa dipasarin.

Tapi apa itu sepenuhnya bener?

Kita ambil contoh John Mayer. Arguably, keterkenalan John Mayer saat ini adalah hasil dari album-album pertamanya yang bergenre pop cewek. Kalo dia main blues dan musik yang eksperimental dari awal, apa dia bakal terkenal? Tetep iya, gue rasa, tapi mentok di level Dave Matthews Band, band yang musiknya sebelas-duabelas ama Mayer.

Kita akan ngeliat dia dengan cara berbeda. Kita akan ngeliat dia sebagai musisi yang bagus tapi sempit. Dia nggak akan punya karisma sebesar yang dia punya sekarang.

Poinnya, mendobrak ke mainstream itu pilihan, di mana pun lo berada.

Kita semua tau Norwegian Wood adalah buku pop Haruki Murakami. Karya-karya dia sebelum dan setelah itu nggak kayak gitu. Tapi buku itulah yang bikin dia jadi superstar di dunia sastra Jepang. Ini kata dia tentang Norwegian Wood dalam sebuah wawancara:

Murakami: My style, what I think of as my style, is very close to Hard-Boiled Wonderland. I don’t like the realistic style, myself. I prefer a more surrealistic style. But with Norwegian Wood, I made up my mind to write a hundred percent realistic novel. I needed that experience.

Interviewer: Did you think of that book as an exercise in style or did you have a specific story to tell that was best told realistically?

Murakami: I could have been a cult writer if I’d kept writing surrealistic novels. But I wanted to break into the mainstream, so I had to prove that I could write a realistic book. That’s why I wrote that book. It was a best-seller in Japan and I expected that result.

Interviewer: So it was actually a strategic choice.

Murakami: That’s right. Norwegian Wood is very easy to read and easy to understand. Many people liked that book. They might then be interested in my other work, so it helps a lot.

Banyak penulis baru nulis dengan pikiran ‘yang penting terbit; apa pun jadi’. Tapi mereka yang lebih cerdas dan melek industri mikir apa yang harus dilakuin, apa yang terbaik dalam jangka pendek dan panjang. Dan pada akhirnya, pilihannya selalu cuma dua: jadi penulis populer atau penulis cult (atau populer dulu, terus berubah jadi cult).

Saran yang paling gue suka dateng dari Chuck Palahniuk.

“Write something that people might not ‘enjoy’ but will never forget. Our tastes change with time, and something that persists has a chance of getting appreciated more in the future.” –Chuck Palahniuk

Apa kesimpulannya? Di mana pun lo berada, lo selalu bisa jadi penulis populer atau penulis cult. Secara teori sama aja. Dan nggak ada strategi yang pasti bener. Semuanya soal pertimbangan dan pilihan. Populer atau cult, tulislah sesuatu yang nggak akan dilupakan pembaca.

Murakami, Hemingway, dan Proses Menulis

“When I’m in writing mode for a novel, I get up at four a.m. and work for five to six hours. In the afternoon, I run for ten kilometers or swim for fifteen hundred meters (or do both), then I read a bit and listen to some music. I go to bed at nine p.m. I keep to this routine every day without variation. The repetition itself becomes the important thing; it’s a form of mesmerism. I mesmerize myself to reach a deeper state of mind.” Haruki Murakami

Bukan rahasia kalo para penulis punya rutinitas yang nggak bisa diganggu gugat saat nulis novel. Nulis novel emang bukan kerjaan ringan. Lo mesti duduk berbulan-bulan, ada yang bertaun-taun, untuk nyelesain semuanya. Banyak penulis ngerasa mesti lakuin sesuatu yang lebih, semacam trik, untuk ngasih mereka energi ekstra. Sering kali, trik itu bernama rutinitas.

Ini filosofi Murakami di balik rutinitasnya:

“To hold such repetition for so long—six months to a year—requires a good amount of mental and physical strength. In that sense, writing a long novel is like survival training. Physical strength is as necessary as artistic sensitivity.”

Nggak semua penulis punya pendekatan dan trik yang sama, tentu saja. Gue sendiri hanya mentingin tidur cukup, makan teratur, dan nggak nunda pemenuhan hasrat seksual (atau at least nundanya jangan kelamaan). Kenapa?

Ada semacam senyawa, namanya dopamine, yang diproduksi otak kita untuk bikin kita ngerasa baik, santai, dan percaya diri. Senyawa itu diproduksi saat kita tidur cukup, makan makanan yang kita suka (dan teratur), dan punya kehidupan seksual yang baik. Ada beberapa faktor lain yang bisa memproduksi dopamine, misalnya dengerin rock ‘n’ roll. Tapi itu jarang gue lakuin karena musik mempengaruhi mood, sehingga dengerin rock ‘n’ roll nggak cocok kalo gue lagi nulis adegan yang, misalnya, sedih.

“When I am working on a book or a story, I write every morning as soon after first light as possible. There is no one to disturb you and it is cool or cold and you come to your work and warm as you write. You read what you have written and, as you always stop when you know what is going to happen next, you go on from there. You write until you come to a place where you still have your juice and know what will happen next and you stop and try to live through until the next day when you hit it again. You have started at six in the morning, say, and may go on until noon or be through before that. When you stop you are as empty, and at the same time never empty but filling, as when you have made love to someone you love.” Ernest Hemingway

Itu trik-trik Hemingway pas lagi nulis buku. Sama seperti Murakami dan gue yakin sebagian besar penulis fiksi lainnya, kedengerannya puitis sekaligus pragmatis. Hemingway juga terkenal karena nulis di mesin ketiknya sambil berdiri. Untuk yang satu itu gue nggak sepenuhnya percaya, sih. Susah aja bayangin lo selalu nulis sambil berdiri seumur hidup lo. Sesekali mungkin iya, tapi pasti ada variasi.

Dan, kata Hemingway, ini salah satu hal tersulit dalam proses menulis:

“Nothing can hurt you, nothing can happen, nothing means anything until the next day when you do it again. It is the wait until the next day that is hard to get through.”