The Stranger dan Subjektivitas

“Have you no hope at all? And do you really live with the thought that when you die, you die, and nothing remains?”

“Yes,” I said.

Itu adalah sepenggal percakapan dalam The Stranger, salah satu novel kesukaan gue, yang terbit pertama kali tahun 1942 dalam bahasa Perancis. Ditulis oleh Albert Camus, buku hebat itu punya pengaruh besar dalam cara gue ngeliat dunia.

Kenapa gue suka Camus? Bukan karena dia jago bernarasi kayak Haruki Murakami. Bukan karena dia mahir merangkai plot kayak siapa pun penulis skrip di balik film-film Christopher Nolan. Gue suka Camus karena muatan filosofis yang melandasi karya-karyanya, yang sebagian besar gue setuju.

Camus emang lebih dikenal sebagai filsuf—lebih tepatnya, filsuf absurdis. Secara garis besar, absurdisme adalah pandangan bahwa hidup ini nggak punya makna inheren—pencarian kita terhadap makna inheren (atau bisa juga makna objektif) hidup ini akan gagal. Camus bilang, kita mesti meluk kenyataan bahwa eksistensi manusia itu absurd, sambil terus eksplor dan nyari makna yang subjektif.

Gue setuju banget sama itu. Hidup ini nggak kayak duit. Duit punya makna yang inheren—atau yang nggak terpisahkan. Lo nggak bisa pegang duit lima puluh ribu dan bilang menurut lo itu seratus ribu. Lo udah gila. Tapi hidup ini, semuanya serba subjektif. Hidup yang dianggep sampah sama sebagian orang bisa aja luar biasa bagi sebagian lainnya. Contohnya, hidup Christopher McCandless.

Tokoh utama dalam novel The Stranger, Meursault, adalah orang dengan kepribadian yang dingin. Dia nggak nunjukin emosi saat ibunya meninggal, pacarnya cinta dia, bahkan saat dia bunuh orang. Aspek lain dari diri dia adalah dia jujur. Dia selalu ngungkapin pikirannya dan nggak peduli gimana orang lain ngeliat dia. Dia inilah si orang asing, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, karena sikap abainya.

“I summarized The Stranger a long time ago, with a remark I admit was highly paradoxical: ‘In our society, any man who does not weep at his mother’s funeral runs the risk of being sentenced to death.’ I only meant that the hero of my book is condemned because he does not play the game.” Albert Camus

Jadi jelas bahwa Camus nggak bermaksud lo nggak perlu nangis kalo ibu lo meninggal atau lo mesti bunuh orang dan cuek aja. Dia cuma bawa ide subjektivitas sampe mencapai batas.

Salah satu bagian buku ini yang menarik buat gue adalah saat Meursault dipenjara. Hidup dia sejauh itu hanya tentang nyesuain diri dengan keadaan karena orang pada dasarnya bisa terbiasa dengan keadaan apa pun. Saat di penjara, Meursault ini kayak nggak sadar perbedaan hidupnya dulu semasih bebas dan sekarang ketika nggak ‘bebas’ lagi. Penjaga penjara sampe perlu nerangin kalo dia lagi dihukum dan bentuk hukumannya adalah kebebasannya diambil.

“At that time I often thought that if I had had to live in the trunk of a dead tree, with nothing to do but look up at the sky flowing overhead, little by little I would have gotten used to it.” –Meursault

Itu artinya Meursault banyak merenung juga di penjara, tapi merenungnya ya gitu—sesuai ama kepribadiannya yang dingin. Itu nggak berarti bahwa jadi absurdis adalah jadi dingin. Kebetulan aja si tokoh utama orangnya dingin dan hidup ini emang bisa jadi dingin. Tapi kita, seperti kata Camus, jangan sampe berenti eksplor dan cari makna yang subjektif.

Setelah baca buku itu, gue nyadarin kebenaran pemikirannya. Ada orang yang usaha sebaik-baiknya buat jadi orang baik, tapi matinya dibom. Ada juga orang yang bunuh sejuta orang, korupsi besar-besaran, dan setelah kematiannya ada wacana untuk jadiin dia pahlawan nasional. Eksistensi manusia dan kemanusiaan emang absurd. Hanya eksplorasi dan pencarian makna subjektif-lah yang ngasih kita gairah untuk tetap hidup.

Brave New World dan Tuhan

Gue baru kelar baca Brave New World, novel dahsyat dan visioner karya Aldous Huxley. Ini buku terbit tahun 1932, fiksi ilmiah, berlatar masa depan, tapi jelas banget semua yang ada saat ini—kehidupan kita dan, khususnya, kemanusiaan—berjalan ke arah sana. Ada hal-hal yang udah terjadi, malah.

Pendeknya, buku ini bercerita tentang dunia di saat science udah luar biasa maju dan manusia udah bisa ciptain manusia lainnya (dengan metode ilmiah, semacem gunain dan ngeracik unsur-unsur genetik dengan cerdas, bukan hubungan seks) dan itu hal yang biasa aja dan terjadi hari-hari.

Di saat bersamaan, manusia kayak kita-kita gini masih ada, tapi cuma sisa dikit dan tinggal di daerah pengasingan yang dibangun khusus untuk mereka. Karena berbagai alasan, mereka dianggap nggak beradab sehingga mesti dipisahin dari kehidupan yang beradab.

Dunia baru itu bergerak di dalam sistem yang memuja kestabilan sosial dan efisiensi kerja. Apa pun yang ngerusak itu, atau sekadar berpotensi ngerusak itu, disingkirin. Kita-kita ini, dengan segala unsur genetik dan hormonal yang kita punya, jelas nggak mungkin selalu stabil dan efisien. Makanya ada perang, ada yang terlampau berkuasa, ada yang tertindas, ada yang kelaparan, terusinlah sendiri.

Dunia baru nggak nerima hal-hal kayak gitu.

Setelah manusia diciptain, mereka jalanin bertahun-tahun untuk conditioning, baik secara sadar maupun bawah sadar. Mereka dirancang untuk nentang eksklusivitas. Karena eksklusivitas adalah akar perpecahan, yang jelas berdampak buruk terhadap kestabilan sosial dan efisiensi kerja.

Everybody belongs to everybody adalah salah satu moto mereka. Dan itu berlaku dalam hal apa pun, termasuk partner seksual. Nggak ada orang punya hubungan percintaan secara khusus ama seseorang karena itu bentuk eksklusivitas dan, walaupun indah, punya efek merusak kalo nggak berjalan baik. Dunia baru memihak kebahagiaan, pengen semua orang feel good, jadi nggak ada toleransi untuk yang kayak gitu. Dan itu mungkin terjadi—malah lumrah di tengah masyarakat mereka—berkat conditioning.

Dan karena semua orang beradab diciptain dari rekayasa genetik, nggak ada juga yang namanya keluarga. Keluarga juga bentuk eksklusivitas, nggak sejalan sama paham everybody belongs to everybody.

Yang menarik adalah peran Tuhan di sini.

Ketika manusia bisa ciptain manusia lainnya, ketika dunia cuma berisi manusia-manusia rekayasa genetik setelah lewat beberapa generasi, apa Tuhan masih dibutuhkan? Manusia-manusia itu kemungkinan besar nggak pernah denger tentang Tuhan. Tuhan adalah konsep yang sepenuhnya di luar wawasan apalagi pemahaman mereka.

Di Brave New World teks-teks kuno, termasuk kitab-kitab suci, emang dilarang—itu juga bikin manusia jadi eksklusif. Cuma world controllers, yang jumlahnya keitung jari, yang punya akses ke benda-benda itu.

Ada satu adegan di mana seorang world controller ngomong kira-kira begini: “Manusia masa lalu, yang belum beradab, percaya Tuhan karena mereka dikondisikan untuk begitu. Semua ini tentang conditioning. Itu pangkal peradaban.”

Begitu kelar baca buku itu, gue bengong. Aldous Huxley ini jelas seorang intelektual. Dia dateng dari era jadul, tapi pikirannya liar banget. Dia pacu daya nalar dan imajinasinya sampe batas maksimalnya.

Gimana pandangan pribadi dia tentang Tuhan, gue nggak tau. Dalam karya fiksi, pengarang bisa aja nyampein pandangan dia yang sebenarnya, tapi bisa juga nyampein sesuatu yang bener-bener bertolak belakang supaya pandangan dia makin keliatan bener. Kayak lampu baru berasa terang kalo keadaan gelap.

Apa pun yang Aldous Huxley percaya, jujur aja, gue nggak peduli. Yang jelas, Brave New World adalah buku yang gue rekomendasiin ke siapa pun untuk baca. Susah dapet itu buku karena ya emang jadul. Tapi kalo lo punya kesempatan, nggak usah pikir panjang. Baca. Itu karya fenomenal.