Apalah Arti Sebuah Kata

Ada film pendek Spanyol yang berjudul The Story of a Sign. Durasinya nggak sampe enam menit, ceritanya simpel banget, dan nggak ada teknik perfilman macem-macem. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada kekuatan yang membuat film itu membekas dan bibir penontonnya, setidaknya gue, tersenyum.

Ceritanya gini: di suatu kota ada seorang pengemis yang buta. Dia duduk di pinggir jalan dengan sebuah kaleng dan tanda kertas yang bertuliskan kasihanilah saya, saya buta. Kebanyakan orang lewat gitu aja. Cuma sedikit yang masukin duit ke kaleng itu.

Apalah Arti Sebuah Kata | Controversy

Beberapa lama kemudian lewat seorang pria berjas. Dia berhenti dan jongkok di depan si pengemis. Si pengemis megang sepatu kulit pria berjas. Pria berjas ngambil tanda kertas si pengemis, nulis sesuatu, terus cabut.

Setelah itu lebih banyak orang masukin duit ke kaleng itu. Si pengemis seneng sekaligus bingung. Setelah beberapa lama, anggaplah dua jam, pria berjas balik dan liat kaleng itu penuh.

“Apa yang Anda lakukan dengan tanda saya?” tanya si pengemis setelah megang sepatu kulit pria berjas.

“Saya mengatakan hal yang sama dengan yang Anda katakan sebelumnya, tapi dengan kata-kata berbeda.”

Terus kamera perlahan beralih ke tanda kertas si pengemis. Tulisannya udah berubah jadi gini: hari ini hari yang indah, namun saya tak dapat melihatnya.

Film abis.

Tentu saja pilihan kata kita sangat penting. Otak kita bekerja dengan pola asosiasi dan setiap kata selalu diikuti oleh gambaran tertentu dan segala hal yang melekat dengannya—itu artinya hal-hal yang terjadi (dan terbentuk) dari satu generasi ke lain generasi sebelum kita.

Kata ‘propaganda’, misalnya, nggak punya konotasi negatif sebelum Perang Dunia II. Dulu kata itu hanya berarti penyebaran informasi atau semacam itu. Baru sejak Perang Dunia II kata itu jadi sejenis tabu karena dikaitkan dengan Jerman dan semua hal buruk yang mereka lakuin.

Coba lo tanya orang-orang hubungan kemasyarakatan. Ada buku terkenal yang jadi panduan mereka. Judulnya Propaganda, ditulis oleh Edward Bernays, anggota Creel Commission, suatu badan yang tugasnya mengubah pandangan mayoritas orang Amerika dari nggak ngerasa perlu terlibat dalam Perang Dunia I jadi semangat perang buat bunuhin tentara Jerman. Itu buku yang sukses dari awal terbit pada 1920-an, juga nggak menuai kontroversi, karena ya itu tadi: propaganda nggak berkonotasi negatif sebelum Perang Dunia II.

Contoh lain: kata ‘laki-laki’ dan ‘perempuan’. Kita hidup di dunia yang, walaupun gerakan feminis makin marak dan kenceng teriakannya, tetep belum adil bagi perempuan. Dari jaman entah kapan laki-laki punya hak lebih banyak, baik hak sosial, politik, dan terusin aja sendiri. Dari generasi ke generasi laki-laki identik dengan dominasi, kekuatan, dan semacamnya.

Pada esainya yang berjudul Reality is a Shared Hallucination, Howard Bloom nyebut suatu eksperimen di suatu universitas. Dua kelompok mahasiswa diminta kasih penilaian buat karya tulis yang sama. Satu kelompok dikasih tau kalo penulis karya itu John McKay, sedangkan kelompok lain dikasih tau itu tulisan Joan McKay. Hasilnya, mereka, termasuk para mahasiswi, ngasih penilaian lebih tinggi buat John McKay.

Poin yang mau gue sampein adalah kita hidup di dunia yang bias. Suatu hari nanti, kalo katakanlah terjadi perubahan dramatis dan dunia ini jadi komunis, kita bisa aja buang emas dan beli tai karena emas identik dengan eksklusivitas dan tai identik dengan kesamarataan dan kestabilan. Apalah arti sebuah kata? Itu berarti masa lalu, masa kini, dan masa depan—keabadian.