Apa yang Gue Pelajari dari Mengasuh Controversy Selama Februari

Karena ini adalah artikel terakhir bulan ini—Controversy, kayak anak sekolah, libur tiap Sabtu-Minggu—gue mau cerita dikit tentang apa aja yang gue pelajari selama sebulan pertama web ini berdiri. Lebih tepatnya tiga minggu, sih, karena artikel pertamanya di-publish minggu kedua Februari.

Dari hari pertama Controversy berjalan, gue punya konsep yang jelas: gue mau nulis tiap hari tentang travel, buku, new media, dan segala sesuatu yang membentuk kultur kita. Gue minta adek gue, Elizabeth, untuk desain t-shirt dan merchandise yang berhubungan ama misi web ini karena gue sendiri udah cukup sibuk.

Gue yang garap konten dan online/offline marketing. Kedengerannya sederhana, tapi kalo lo liat materi kayak apa yang disajikan di sini, itu mensyaratkan gue untuk selalu baca buku, baca dua puluh artikel per hari, dan nggak berenti traveling. Itu di luar kesibukan lain gue sebagai penulis (saat ini gue lagi siapin novel kedua).

Jadi, dengan kondisi yang ada, apa aja yang gue pelajari?

  1. Satu orang bisa buat perubahan

Di dunia sastra, Haruki Murakami adalah penulis favorit gue. Di dunia blog, Maria Popova adalah blogger favorit gue. Dia kerja 450 jam sebulan untuk maintain blognya yang terkenal itu, Brain Pickings. Dia nulis tiga sampe delapan jam per hari dan publish tiga artikel tiap hari. Taun 2012 dia dinobatkan oleh majalah Fast Company sebagai salah satu dari seratus orang paling kreatif di dunia bisnis. Pada taun yang sama dia juga dinobatkan oleh Forbes sebagai salah satu orang paling berpengaruh di media.

Sebelum memulai Controversy, gue sempet ceritain rencana gue ke seorang temen. Dia bilang, biasanya web semacam itu punya banyak kontributor karena susah banget buat satu orang untuk bisa update tiap hari. Tapi apa itu bener? Nyatanya Maria Popova update tiga kali per hari selama bertaun-taun dan nggak ada masalah. Dan blogger luar yang update tiap hari itu nggak cuma dia. Masih banyak lagi yang lain.

Suatu hari gue makan malem di satu restoran di Yogyakarta sama sodara gue dari Belanda. Restoran itu punya kurang-lebih sepuluh waiter. Sodara gue bilang, di Belanda restoran kayak gitu paling cuma punya tiga waiter. Tapi mereka kerja lebih keras, jalannya nggak santai-santai, selalu merhatiin para pengunjung supaya langsung siap dan gerak cepat kalo dipanggil (bukannya ngobrol-ngobrol ama temennya).

Gue tau itu bener. Pas dulu Euro trip, gue liat sendiri restoran-restoran di sana nggak punya banyak pelayan. Mereka digaji dengan pantas, jadi mereka diharapkan untuk nunjukin performa yang pantas juga.

Poinnya, anggapan kita tentang kapasitas satu orang itu sering kali terlalu rendah. Tapi karena di sekeliling kita semua orang begitu, kita kira itu normal. Nggak, itu nggak normal. Kita bisa jadi Murakami dan Popova baru kalo kita lebih menghargai kemampuan kita sendiri.

Maria Popova

Maria Popova

  1. Artikel panjang selalu lebih populer

Lebih tepatnya, artikel panjang yang menjawab pertanyaan ‘what’s in it for me?’ untuk pembaca. Mungkin itu juga alesan kenapa mempopulerkan blog pribadi lebih susah daripada blog yang bergenre spesifik.

Blog pribadi nggak menjawab pertanyaan ‘what’s in it for me?’-nya pembaca. Pada dasarnya, kita nggak tertarik baca cerita keseharian seseorang—dia bangun jam berapa, makan apa, gimana situasinya di kantor, gimana masalahnya ama temennya yang itu. Yang kayak gitu itu bukan urusan kita dan boring banget. Jujur aja, blog pribadi yang gue baca cuma blog temen-temen gue aja, dan karena gue udah punya cukup temen, nggak ada lagi ruang untuk blog pribadi lainnya.

Beda dengan blog yang bergenre spesifik. Blog travel, misalnya, menjawab keingintahuan kita tentang tempat-tempat yang belum kita kunjungi—masyarakatnya, budayanya, makanannya, dan lain-lain. Blog buku sering kali mengulas buku-buku yang belum kita baca. Kalopun udah baca, kita tetep bisa bandingin persepsi kita dengan persepsi si reviewer tentang suatu buku.

Kenapa gue bilang artikel panjang yang menjawab pertanyaan ‘what’s in it for me?’ selalu lebih populer? Karena artikel panjang umumnya lebih padat dan berisi, sehingga lebih banyak bagian yang layak di-share. Kalo bagian A nggak menarik buat lo, mungkin aja bagian B atau C menarik.

  1. Bullshit seputar SEO

Sebelum memulai Controversy, gue sempet baca-baca tentang SEO. Sampe hari gini ternyata masih banyak yang nyaranin untuk submit URL kita ke direktori-direktori blog. Itu aneh menurut gue. Tanpa pengetahuan tentang SEO pun, cukup dengan logika, mestinya kita bisa nyimpulin Google nggak mandang direktori-direktori blog kayak gitu. Siapa sih pengguna internet yang buka direktori dulu sebelum ngunjungin sebuah website? Jelas banget bahwa orang yang submit URL blog-nya ke direktori adalah mereka yang lagi link building, dan itu nggak ada nilainya di mata Google, juga nggak ningkatin traffic.

(Pas gue googling lebih lanjut, ternyata ada banyak orang yang nanya kenapa traffic mereka nggak naik-naik padahal udah submit URL ke direktori ini-itu. Yaa… harusnya dari awal mereka udah ngira itu nggak akan ngaruh.)

Orang yang tau dikit, apalagi banyak, tentang SEO pasti pernah denger juga tentang dofollow dan nofollow backlinks. Singkatnya, nofollow backlinks itu katanya nggak dianggep ama Google karena bukan indikator kualitas konten sebuah web. Nofollow backlinks diperoleh antara lain dari banyaknya share di media sosial dan komen yang lo tinggalin di web-web orang lain. Sedangkan dofollow backlinks, yang paling digembar-gemborin ama orang-orang SEO, diperoleh saat ada web-web yang nge-link ke web atau entri lo. Makin berpengaruh web-web tersebut (authority websites), makin bagus, nilainya makin besar.

Ini yang sekarang dibisnisin ama orang-orang SEO. Dan itu bisnis panas karena kebanyakan perusahaan nggak tau apa-apa tentang ini.

Tapi coba pikir, kalo ada entri lo yang di-share seribu kali di media sosial dan di-bookmark ratusan kali di web-web social bookmarking, apa Google akan mengabaikan itu gitu aja karena itu semua nofollow? Kalo iya, berarti hasil pencarian di Google bakal jelek banget dan orang-orang akan beralih ke mesin pencari lain.

Faktanya, jumlah nofollow backlinks secara alami akan selalu berkali-kali lipat lebih banyak daripada dofollow, karena nge-share itu gampang, tinggal klik satu tombol. Bahkan saat ada kontes menarik berhadiah jutaan rupiah, selalu lebih banyak orang yang nge-share daripada beneran ikutan dan ngasih trackback (dofollow backlink) ke web penyelenggara.

Google sendiri sebenernya pernah bilang tentang nofollow backlinks yang nggak terlalu berarti dibanding dofollow, tapi kalo menurut gue, itu bertujuan untuk ngecewain spammers dan ngurangin jumlah mereka. Google tetep akan ngasih nilai yang nggak jauh beda antara nofollow dan dofollow backlinks.

Jadi, gimana cara gue link building? Gue nggak mikirin itu. Gue nggak baru-baru amat di internet dan satu hal selalu sama: konten yang bagus selalu menang. Dengan traffic yang gue dapet sebulan pertama, Controversy ada di jalur yang benar.

Please Leave a Review on TripAdvisor

Kalo lo makan di daerah-daerah wisata di Bali, satu hal jelas banget: mereka sangat ngandelin TripAdvisor. Hampir di tiap restoran atau kafe, ada tulisan yang intinya minta lo cerita ke temen lo atau tinggalin ulasan di situs itu kalo lo punya kesan dan pengalaman positif.

Dan itu strategi yang jitu.

Area Kuta, Bali

Bali adalah tempat yang penuh turis dan traveler—orang-orang yang hari ini ada, besok belum tentu. Beriklan secara konvensional nggak ada gunanya. Mereka nggak nonton program TV lokal, nggak baca koran atau majalah setempat.

Selain itu, sebagian besar mereka adalah anak muda. Generasi internet. Generasi yang liat Google Maps saat mau pergi ke suatu tempat, ngecek TripAdvisor saat mau cari makan, nongkrong, atau party.

Gue jadi inget buku Purple Cow karya Seth Godin. Di situ Godin bicara tentang era Before Advertising, During Advertising, dan After Advertising.

Before Advertising, there was word of mouth. Products and services that could solve a problem got talked about and eventually got purchased. The best vegetable seller at the market had a reputation, and her booth was always crowded.

During Advertising, the combination of increasing prosperity, seemingly endless consumer desire, and the power of television and mass media led to a magic formula: if you advertised directly to the consumer (every consumer), sales would go up. A partnership with the right ad agency and the right banker meant you could drive a company to be almost as big as you could imagine.

After Advertising, we’re almost back where we started. But instead of products succeeding by slow and awkward word of mouth, the power of our new networks allows remarkable ideas to diffuse through segments of the population at rocket speed.

Buku Seth Godin

Salah satu poin yang Godin sampein dalam buku itu adalah kita udah tiba di era After Advertising. Iklan emang belum bener-bener mati, tapi giginya udah keropos. Dan itu terlihat jelas di daerah-daerah turistik di Bali, yang crowd-nya didominasi generasi muda—generasi kita. Restoran burger favorit gue di Bali, misalnya, rame hanya karena TripAdvisor, padahal lokasinya nggak ideal, agak susah dicari.

Di masa depan nanti generasi orangtua kita, Generasi TV, bakal lewat. Generasi kita akan sepenuhnya dominan. Mungkin segalanya bisa dibangun di atas prinsip itu: please tell your friends or leave a review on TripAdvisor (dan media sosial secara umum, tentu saja).