Metode Buruk Bernama Brainstorming

Semua orang brainstorming. Pas penerbit dapet naskah yang menarik untuk diakuisisi, mereka brainstorming. Ketika ada naskah bagus tapi dikhawatirkan bisa berdampak buruk atau memicu kontroversi, kadang penerbit bikin focus group discussion. Dalam sayembara sastra atau sayembara apa pun, para juri brainstorming untuk nentuin pemenang.

Semua orang, apa pun bidang mereka, percaya brainstorming adalah cara terbaik untuk mencapai keputusan terbaik. Pertanyaannya: apa bener begitu? Secara intuitif, lo akan bilang iya, karena itu logis. Tapi gimana kenyataannya?

Metode Buruk Bernama Brainstorming | Controversy

Dalam buku The Wisdom of Crowds, James Surowiecki nulis tentang sebuah penelitian yang menarik. Banyak orang secara terpisah dikasih tunjuk sebuah kaleng kaca berisi koin-koin dan diminta ngira-ngira berapa jumlahnya. Itu adalah tugas yang biasanya menghasilkan jauh lebih banyak jawaban ngawur daripada mendekati tepat.

Banyak orang nyebut angka yang terlampau tinggi. Banyak yang terlampau rendah. Cuma sedikit yang perkiraannya mendekati tepat. Yang mengejutkan, atau mungkin sekarang nggak mengejutkan lagi, jika jumlah itu dirata-rata, maka hasilnya cukup akurat. (Ini mirip teori expected value yang pernah gue bahas di artikel Keputusan Terburuk dalam Hidup.)

Prinsip ini hanya bisa bekerja dalam dua kondisi: pertama, orang-orang itu tentu saja harus lihat sesuatu yang persis sama; kedua, penilaian mereka harus independen, dibuat sendiri-sendiri, nggak terpengaruh oleh siapa pun. Kalo mereka bisa berkomunikasi satu sama lain, penilaian mereka akan jadi bias, mereka akan cocok-cocokin pendapat—kesalahan yang dibuat satu orang akan dibuat juga oleh orang-orang lainnya, sehingga hasil akhirnya justru nggak akurat sama sekali.

Sekarang coba lo pikir: kenapa dalam prosedur kepolisian, para saksi mata sebuah kejadian nggak dibiarin berkomunikasi satu sama lain sebelum ngasih kesaksian? Lo bakal bilang, supaya mereka nggak bisa kongkalikong. Itu bener. Tapi ada juga alasan lain: supaya persepsi dan penilaian mereka nggak bias—itu bisa bikin jumlah total informasi yang polisi peroleh nggak optimal.

Ini situasi yang lazim terjadi dalam rapat: ketika pendapat lo berseberangan ama orang yang karismatik, dominan, pandai bicara, dan punya reputasi hebat, lo akan memperhalus pendapat lo dan penyampaiannya. Kalo lo orangnya inferior, lo mungkin nggak akan ngutarain seluruh isi pikiran lo.

Brainstorming juga ngasih banyak keuntungan buat pendapat yang disampein pertama kali, apalagi kalo pendapat itu kuat. Orang-orang yang bicara setelah itu akan menyampaikan pendapat yang udah disesuaikan dengan pendapat pertama itu, bukan seratus persen pendapat pribadi lagi. Itu berhubungan ama the halo effect, yang gue bahas di artikel sebelumnya.

Pada akhirnya, kumpulan pendapat pribadi yang disampaikan secara terpisah bakal bawa lo pada hasil akhir yang lebih akurat dan lengkap. Nggak ada bias. Nggak ada yang ngerasa inferior dan takut ngomong. Lo bisa lakuin itu dengan, misalnya, minta semua orang nulis pendapatnya dulu sebelum bikin pertemuan. Jadi, saat pertemuan itu dilakukan, pendapat semua orang udah jelas.

Brainstorming adalah metode yang dipopulerin oleh seorang praktisi periklanan jaman dulu yang gue lupa namanya siapa (silakan googling sendiri). Orang seni. Dan orang seni selalu terperangkap oleh segala sesuatu yang ‘seksi’. Mereka lebih milih jadi pemilik bar (walaupun abis itu bangkrut) daripada pengusaha bolpen (yang berpotensi sukses). Orang-orang kayak gitu, walaupun bikin hidup ini berwarna, nggak harus selalu didengarkan.

Tantangan terhadap Prakonsepsi

Tantangan terhadap Prakonsepsi | Controversy

Ada hal menarik yang dikatakan Frans Johansson lewat bukunya The Medici Effect. Pada salah satu bagian, dia jelasin tentang tendensi bawaan kita untuk berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu dan gimana ngakalinnya.

Otak kita, katanya, untuk alasan-alasan praktis, bekerja dengan prinsip asosiasi dan kita sulit mendobrak dan melampaui prinsip itu. Saat kita punya ide, otak kita akan lepasin serangkaian ide di kepala kita yang berhubungan dengan ide itu.

“We are more likely to make assumptions than maintain a mind that is open to all possibilities. The effect is subtle, but very powerful. By simply hearing a word or seeing an image, the mind unlocks a whole string of associated ideas, each one connecting to another.”

Kemudian dia bilang efek negatifnya:

“These chains of association are efficient—they help us to assess situations quickly and to take appropriate action—but they also carry costs. They inhibit our ability to think broadly. We do not question assumptions as readily; we jump to conclusions faster and create barriers to alternate ways of thinking about a particular situation.”

Menurut Johansson, salah satu teknik yang bisa kita gunain untuk lepasin diri dari asumsi otomatis itu, juga supaya kita bisa liat semua kemungkinan dalam sebuah situasi, adalah dengan merancang skenario yang persis berkebalikan dengan asumsi-asumsi itu.

Contoh: di mana-mana bank pengen dapet nasabah sebanyak-banyaknya. Tapi anggaplah  ada bank yang ngerasa udah cukup dengan jumlah nasabah yang mereka punya. Apa yang harus mereka lakuin untuk menjauhkan ketertarikan orang pada mereka? Apa yang harus mereka lakuin supaya nggak terlihat mencurigakan dan tetap punya nama baik walaupun nolakin semua orang?

Hal-hal kayak gitu jarang dipikirin karena itu di luar asumsi kita terkait hal-hal yang mungkin terjadi. Di luar sadar kita, itu membatasi pemahaman kita tentang sesuatu. Kita harus secara aktif menantang prakonsepsi kita tentang sesuatu (nggak berarti hasilnya harus selalu direalisasikan). Itu salah satu jalan menuju kreativitas. Itu poin Johansson.

Dan berhubung gue penulis, itu poin yang menurut gue keren.

Dalam dunia nyata, kita nggak bisa selalu realisasiin tantangan kita terhadap prakonsepsi karena kita berhubungan langsung dengan realitas orang lain dan mereka belum tentu segila kita. Tapi dalam dunia fiksi semuanya bebas. Kita bisa lakuin segala jenis eksplorasi dan orang bakal terima-terima aja karena itu cuma cerita.

Tantangan terhadap Prakonsepsi | Controversy

Ini yang bisa lo lakuin dalam penulisan kreatif:

Gimana kalo lo bikin novel beralur mundur? Gimana kalo lo bikin novel tanpa alur (artinya segala sesuatu yang terjadi nggak punya maksud apa-apa, nggak mengarah ke mana-mana)? Gimana kalo lo bikin novel tanpa ada sesuatu pun terjadi, atau sedikit banget yang terjadi (sebagian besar hal terjadi hanya di dalam diri si narator, seperti imajinasi, perenungan, dan segala macem)? Gimana kalo lo bikin novel tanpa karakterisasi (artinya, semua tokoh nggak dibatasi apa pun, bisa lakuin apa pun, absurd, di luar logika standar)?

Itulah pentingnya tantangan terhadap prakonsepsi. Itu nggak selalu datengin hasil yang menyenangkan, sih. Kalo lo penulis dan punya naskah semacam itu, kemungkinan besar akan ditolak karena editor penerbit (setidaknya editor yang kurang canggih), dengan segala prakonsepsi tentang berbagai hal di kepalanya, nggak ngerti. Tapi lo mesti jelasin gini ke dia: kalo sebuah gitar disetem dengan cara berbeda dari standar, bahkan Carlos Santana pun akan kembali jadi pemula. Gimana kalo kita semua belajar ulang?

 

Gambar diambil dari sini.

Semua Mungkin dengan Jamming Econo

Pada tulisan sebelumnya, gue bahas tentang pentingnya penulis (dan pekerja seni secara umum, terutama yang indie, atau yang gagal ngepop terus ngaku-ngaku indie) untuk merancang model bisnis yang tepat dan masuk akal. Tapi sering kali, sehebat apa pun model bisnis kita, tetep susah buat bikin duit yang mencukupi. Ada banyak hal yang bisa dilakuin untuk nyiasatin itu, tapi gue cuma mau bahas satu, taktik kesukaan gue: jamming econo.

Semua Mungkin dengan Jamming Econo | Controversy

Ada banyak variasi terkait definisi jamming econo, tapi sebenernya intinya cuma gini: hidup seirit-iritnya dan menerima batasan-batasan lo. Dalam buku Our Band Could Be Your Life: Scenes from the American Indie Underground 1981-1991 karya Michael Azerrad, gini penjabaran jamming econo:

Corporate rock was about living large; indie was about living realistically and being proud of it. Indie bands didn’t need million-dollar promotional budgets and multiple costume changes. All they needed was to believe in themselves and for a few other people to believe in them, too. You didn’t need some big corporation to fund you, or even verify that you were any good. It was about viewing as a virtue what most saw as a limitation.

Band The Minutemen memperluas penjabaran itu:

The Minutemen called it ‘jamming econo’. And not only could you jam econo with your rock group—you could jam econo on your job, in your buying habits, in your whole way of living. You could take this particular approach to music and apply it to just about anything else you wanted to. You could be beholden only to yourself and the values and people you respected. You could take charge of your own existence.

Di Amerika ada band indie keren bernama Deerhoof. Ed Rodriguez, gitaris mereka, bikin satu artikel dan bilang gini di salah satu paragraf:

We survive by not further dividing an already tiny pie into even tinier pieces. We have no manager. Each of us in the band takes on specific duties. I book hotels and find the cheapest, cleanest places. Each of us has spent over a decade sleeping on people’s floors. Our guitarist John books rental vehicles, drives and calls venues before shows to check that everything is going as planned. Our drummer Greg makes sure the club’s lighting is done how we’d like and is the front line for correspondence with the public and our label. Our singer-bassist Satomi books flights and does the accounting. The many other jobs we handle as a team. And people are still shocked when they see us working our own merch table.

Itu jamming econo banget, meski juga terdengar seperti DIY. Tapi tentu saja dua hal itu berkaitan erat. Lo nggak mungkin jamming econo kalo males dan bayar orang buat lakuin hal-hal yang bisa lo lakuin sendiri.

Itu salah satu taktik bertahan hidup yang bisa diterapkan pekerja seni, termasuk penulis, untuk nyiasatin pendapatan yang nggak seberapa. Pikir apa pengeluaran-pengeluaran lo yang nggak perlu, gimana lakuin segala sesuatu dengan lebih efisien, gimana mangkas budget untuk ini-itu, dan seterusnya.

Mungkin lo mikir jamming econo hanya bisa diterapin kalo lo belum berkeluarga. Tapi kalo band bisa nerapin itu, kenapa keluarga nggak bisa? Apa bedanya? Justru dengan jamming econo lo bisa bangun gaya hidup yang nggak konsumtif, yang nggak hambur-hamburin uang tanpa ada perlunya.

 

Gambar diambil dari sini.