Underground dan Ego Manusia

Pada 20 Maret 1995, sebuah aksi terorisme, yang kini disebut Tokyo Subway Sarin Attack, dilancarkan oleh sebuah organisasi religius bernama Aum Shinrikyo di sejumlah kereta di Tokyo. Dua belas orang meninggal, lima puluh menderita efek yang parah, dan hampir seribu mengalami gangguan penglihatan sementara. Itu adalah serangan paling serius yang terjadi di Jepang sejak Perang Dunia II berakhir.

Sarin adalah semacam gas pelumpuh saraf yang diciptakan ilmuwan-ilmuwan Jerman pada tahun 1930-an sebagai bagian dari persiapan Adolf Hitler menghadapi Perang Dunia II. Pada 1980-an, gas ini juga digunakan Irak dalam perang melawan Iran dan orang-orang Kurdi. Ini adalah senjata yang mematikan. Hanya perlu setitik saja, seukuran kepala peniti, untuk membunuh satu orang.

Setelah Tokyo Subway Sarin Attack terjadi, dari Januari sampai Desember 1996, Haruki Murakami, penulis ternama Jepang, mewawancarai para korban dan kemudian menuangkannya ke dalam sebuah buku. Underground.

Dia merekam kata-kata mereka, kemarahan mereka, tuduhan-tuduhan mereka, dan penderitaan mereka. Pada setiap awal wawancara, dia selalu bertanya tentang latar belakang mereka—di mana mereka lahir, gimana keluarga mereka, apa pekerjaan mereka, dan lain-lain. Tujuannya, dia bilang, adalah untuk memberi wajah dan individualitas pada tiap cerita.

“I try not to hate Aum. I leave them to the authorities. I’ve already gone beyond hatred. The fear, the mental wounds are still with me, of course, but there’s no way to flush them out of my system. I already knew society had got to the point where something like Aum had to happen.” –Toshiaki Toyoda

“I might easily have died there. I’m still nervous going out alone. It’s not even whether or not to take the subway; just to go out walking scares me now. So now whenever I go out, I try to go with my husband. Is this a psychological after-effect?” –Tomoko Takatsuki

 Setelah para korban, Murakami mewawancarai sejumlah anggota Aum. Dia juga menanyai latar belakang mereka, gimana ceritanya sampe mereka bergabung dengan Aum, gimana pandangan mereka tentang aksi terorisme yang organisasi mereka lakukan, dan seterusnya.

“I’m still a member of Aum, but the people who have left Aum don’t think Aum is 100 percent bad, and those who remain don’t think it’s 100 percent correct. So it’s not like the media reports it, that the remaining members are all dogmatic believers. Most of the really dogmatic devotees of the leader have left.” –Mitsuharu Inaba

“Some former Aum members have completely discarded the Aum experience and don’t read the papers or watch any reports on it. They close their eyes to it, but that doesn’t help you learn anything from your mistakes.” –Hajime Masutani

Kadang, di tengah wawancara, Murakami ngasih komentar dan nyelipin pandangan-pandangannya tentang berbagai hal. Banyak hal menarik yang dia bilang. Salah satunya—dan ini yang paling gue suka—adalah gimana dia ngeliat ego manusia.

Dia bilang, ego itu penting. Saat kita ganti ego kita dengan narasi lain, yang kita percayai gitu aja tanpa berpikir kritis, saat itulah banyak kebodohan dan tindak kejahatan berpotensi untuk terjadi, termasuk terorisme. Manusia tanpa ego jauh lebih berbahaya daripada manusia dengan ego.

Ini buku keren, banyak bikin kita mikir tentang isu-isu kayak kemanusiaan, mana yang lebih penting antara ego dan penghambaan. Kalo lo tanya gue, dengan yakin gue bakal jawab, ego lebih penting. Kita bisa mikir untuk diri kita sendiri. Kenapa malah nggak mikir dan iya-iya aja sama pikiran-pikiran dari luar?

Hotel K dan Neraka di Bali

Bali nggak cuma menyajikan paradise. Bali juga menyajikan neraka. Itu yang disampein Kathryn Bonella lewat bukunya yang keren, Hotel K—atau Hotel Kerobokan. Kenapa keren? Karena sebagai karya non-fiksi, yang jelas ditunjang riset memadai—termasuk wawancara dengan ratusan narapidana—buku ini ditulis dengan gaya yang asik, ngalir, bahkan alur yang nagih.

Hotel K ngasih kita gambaran tentang keadaan LP Kerobokan (keadaannya secara fisik, apa yang pernah terjadi di sana pada waktu berbeda-beda, gimana kelakuan penjaga-penjaganya, dan lain-lain) dan kehidupan para tahanannya (sebelum dipenjara, selagi dipenjara, apa yang menanti mereka di masa depan, dan gimana perasaan mereka).

Right now I’m empty, lost, and numb. I used to have a clear fresh sparkle radiating within, showing through my laugh and my eyes. Lately now, two years on from that fatal date, and after repeated blows, I’m finding a confusing, distant reflection in the mirror; it’s dull, my eyes don’t seem to speak any more, they’re lifeless, as though my soul is drying up. Where have I gone, where am I going? I can feel I’m gradually losing the essence that makes me me. It’s strange and it hurts, indescribably, to become aware of your own fading soul reflected through your eyes each time you look in the mirror.” –Schapelle Corby

Ini bukan buku yang sentimental, tapi sepanjang gue baca, beberapa kali gue ngerasa sedih. Ada orang yang kena hukuman mati, hukuman seumur hidup, ada yang dipenjara lima belas tahun cuma karena ketangkep tangan dengan narkoba yang jumlahnya nggak seberapa. Di mana penghargaan kita terhadap kehidupan dan masa depan seseorang?

Jujur aja, gue termasuk orang yang berpendapat hukuman dalam kasus narkoba itu lebay. Gue ngerti kalo pembunuh, pemerkosa, atau bandar narkoba dihukum berat. Tapi kalo cuma orang biasa dengan jumlah narkoba yang sedikit (apalagi yang nggak adiktif)?

Mungkin karena kita berasal dari negara yang nggak maju-maju, yang pemerintahnya korup dan nggak pernah bisa ngasih peningkatan dalam hal pendidikan dan taraf hidup buat rakyatnya, penghargaan kita terhadap kehidupan jadi rendah. (Dari dulu toh kita miskin, biasa susah, nggak pernah mimpin dalam skala internasional. Apa istimewanya hidup. Gitu, kan?) Kita jadi gampang ngasih hukuman yang membunuh masa depan dan jiwa seseorang.

“It’s a mental camp. In this place, you get worse, not better.” –Mick, tahanan asal Australia

Gue nggak bilang pemberian hukuman itu semuanya lebay dan salah. Ada juga yang menurut gue pas. Misalnya apa yang diterima Juri Angione, pemuda 24 tahun asal Italia. Dia ditangkep di Bandar Udara Ngurah Rai dengan lima kilogram kokain. Sebelumnya dia udah puluhan kali nyelundupin narkoba ke berbagai negara. Walaupun kokain yang dia bawa relatif nggak banyak—banyak orang nyelundupin sepuluh sampe lima belas kilo sekali jalan—total kejahatan dia besar.

Yang menarik adalah, terlepas dari umurnya yang muda, dia cukup bijaksana ngeliat keadaannya pas diwawancara Kathryn. Dia bisa nerima karena sadar dia emang salah.

“How many times would you have gone through an international airport with drugs… ten times?”

“More. Twenty, thirty times.”

“And you’ve never got caught before?”

“Never.”

“Why did you get caught this time, do you think?”

“It was my time.”

Ada banyak cerita lain tentang tahanan-tahanan yang asalnya dari berbagai belahan dunia. Pemancung kepala orang, pemerkosa, teroris, pecandu narkoba, sampe copet—mereka semua tinggal di satu penjara, saling berbagi sel. Banyak juga cerita dari penjara wanitanya. Dalam setahun terakhir, ini termasuk salah satu buku non-fiksi yang proses membacanya paling gue nikmatin.

Buku Karya Paul Arden dan Penghargaan

“The more strikingly visual your presentation is, the more people will remember it. And, more importantly, they will remember you.”

Buku bisnis nggak pernah jadi jenis buku favorit gue. Kebanyakan jelek dan ditulis dengan ngebosenin. Tapi ketika buku bisnis dikemas dengan kreatif, apalagi kalo penulisnya praktisi advertising, kadang gue tertarik juga. Selain karena dulu gue kuliah advertising—walopun nggak kelar—orang kreatif itu selalu punya ide aneh-aneh.

Kali ini gue mau bahas buku menarik karya Paul Arden.

It’s not how good you are, it’s how good you want to be.

Sebenernya gue kebetulan aja bersentuhan sama itu buku. Gue lagi main ke tempat sodara gue dan itu buku ada di mejanya. Gue iseng buka. Kata-kata di lembar pertamanya aja udah keren, paling nggak buat gue.

“Just as Sun Tzu’s Art of War is read as a lesson in business strategy rather than fighting in a military sense, or Machiavelli’s The Prince is written about government but used as a guide to management, so this book uses the creative processes of good advertising as a metaphor for business practice.”

Beberapa halaman gue baca, ada foto Victoria Beckham dan secuil cerita tentang dia. Dulu, sebelum jadi apa-apa, dia pernah bilang dia pengen sepopuler Persil Automatic. Yang menarik, dia nggak jadiin popstar zaman itu, misalnya George Michael atau Michael Jackson, sebagai target. Persil Automatic adalah detergen nomor satu di Inggris.

Gue baca lagi sekian halaman dan ketemu tulisan gini: When it can’t be done, do it. If you don’t do it, it doesn’t exist. Paul Arden kasih penjelasan dan contoh secara ringkas. Intinya, dia mau bilang, kalo elo nggak berusaha wujudin ide lo karena keliatannya mustahil, itu akan jadi salah satu ide yang berakhir di kotak ‘ide-ide yang nggak pernah terjadi’.

“You may have to beg, steal, and borrow to get it done. But that’s for you to work out how you do it. It’s exciting. It’s difficult and it’s fun. If it was easy, anyone could do it.”

Yang paling menarik adalah pendapat dia soal awards. Dia sediain kutipan dari Charles Ives, yang bunyinya gini: awards are merely badges of mediocrity. Begini argumen dia:

“Awards are judged in committee by consensus of what is known. In other words, what is in fashion. But originality can’t be fashionable because it hasn’t as yet had the approval of the committee. Do not try to follow fashion. Be true to your subject and you will be far more likely to create something that is timeless. That’s where the true art lies.”

Intinya, sebagai buku bisnis, It’s Not How Good You are, It’s How Good You Want to Be ini keren. Gaya nulisnya asik, dikemas dengan dinamis dan visual supaya enak dibaca dan nggak bikin ngantuk.

Kalo lo nggak demen buku bisnis tapi pengen coba-coba, mulai aja dengan yang satu ini. Kalo lo baca nonstop, setengah jam juga kelar.