What’s Wrong with This Fucking Country?

Ketika pertama kali pertanyaan itu diajuin ke gue, dengan nada yang emosional pula, gue agak tersinggung. Itu terlontar dari mulut pemuda kulit putih bernama Jesse setelah selang yang dia gunain nggak bekerja sesuai kemauannya. Dan itu aneh. Selang itu made in China.

Tapi kemudian orang-orang kulit putih lain yang gue kenal mulai ngajuin pertanyaan yang intinya sama (walaupun kata-katanya beda).

What's Wrong with This Fucking Country? | Controversy

Di Yogyakarta, beberapa kucing sodara gue dari Belanda sakit. Dia manggil dokter hewan, yang adalah orang Indonesia, ke rumah. Setelah meriksa, si dokter masukin bubuk obat ke dalam sepuluh pil. Mungkin karena grogi atau dia emang orangnya asal-asalan, jumlah bubuk yang dia masukin ke setiap pil itu nggak sama—ada yang penuh, ada yang setengah, ada yang seperempat. Hasilnya, kucing-kucing itu nggak sembuh. Sodara gue bilang ke gue dengan agak kesel, gimana dokter itu bisa tau pasti kadar obat yang dia kasih kalo dia masukin bubuknya ngaco gitu?

“Dulu, pas belasan taun, gue jualan obat-obatan,” katanya lagi. “Nggak pernah ada masalah pas masukin bubuk ke pil. Itu gampang banget. How old is this doctor?”

Pada waktu lainnya, sumur rumah dia kering dan mesti gali sumur baru. Ada beberapa orang datang untuk ngerjain itu. Orang-orang ini, saat diawasin, bagus kerjanya. Tapi kalo nggak diawasin, langsung ngaco.

Yang paling ngaco adalah pas mereka lagi masang pipa-pipa dari sumur ke tangki. Pipa-pipanya malang-melintang aja gitu tanpa meduliin tata letak, estetika, atau kepantasan visual. Sodara gue baru ngecek pas pengerjaannya udah setengah jalan. Ya langsung dia suruh bongkar. Dia instruksiin langkah per langkah, terperinci banget—mesti begini, mesti lewat sini, dan seterusnya.

Dia bilang ke gue, “How can somebody call himself a specialist if he works like that? Kalaupun dia bukan spesialis, itu adalah kerjaannya dan dia harus ngerti apa yang dia lakuin.”

Suatu hari sodara gue yang lain lagi—tapi sama-sama dari Belanda—bermasalah dengan telinganya. Gue anterin dia ke rumah sakit. Setelah ngecek, dokter ngasih tau dia obat yang mesti dibeli, berapa kali per hari mesti digunain, dan berapa takarannya.

Pas sodara gue nebus ke apotek rumah sakit itu, di kertas yang tertempel di bungkus plastik tertulis aturan pakai yang beda dengan anjuran dokter. Begitu dia buka kotak obatnya dan liat kertas instruksi resminya, beda lagi.

Sodara gue nemuin dokter itu lagi dan jelasin situasinya. Dokter itu liat instruksi resmi obat itu dan tiba-tiba anjurannya berubah jadi sesuai instruksi itu. Sodara gue cuma bisa geleng-geleng kepala karena menurut dia—dan menurut gue juga, dan pasti menurut lo juga—dokter ini ngomong bullshit aja.

Dokter itu jadi bahan ketawaan gue dan sodara gue dalam perjalanan pulang. Tapi itu sebenernya bukan momen yang sepenuhnya menyenangkan bagi gue. Dokter itu sebangsa ama gue. Harusnya gue belain dia, bukannya ngetawain dia bareng orang kulit putih, sekalipun dia sodara gue—oke, gue rasis, tapi kalo lo menyetujui rasa persaudaraan satu ras, berarti lo rasis juga. Tapi mau gimana, kasus dokter ini emang mustahil dibela. Dia bener-bener dokter yang ngaco, setidaknya pas nanganin sodara gue.

Gue masih punya banyak contoh lain, terutama dari pengalaman gue tinggal di Bali, tapi contoh-contoh di atas udah cukup mewakili apa yang mau gue sampein.

Sering kali kita protes ke pemerintah atas segala hal yang terjadi dan nggak beres-beres. Pemerintah Indonesia nggak becus ngurusin ini dan itu dan lain-lain. Tapi sebelum kita lanjutin protes kita, mendingan kita ngaca dulu: apa kita sendiri becus lakuin apa yang kita lakuin. Kalo nggak, kita nggak akan berbuat lebih baik misalkan jadi pemerintah. Tanya ama diri lo: what’s wrong with this fucking country? Apa yang salah ama diri lo sebagai warganya?

 

Gambar diambil dari sini.

Hilang di Sumba (Bagian Ketiga)

Dalam ceramahnya pada upacara podu, seorang rato berkata pemerintah daerah pilih kasih. Mereka mengalokasikan dana untuk bantu acara-acara keagamaan umat Kristen dan Katolik, tapi nggak untuk Marapu. Justru umat Katolik-lah yang sering bantu, dan dia berterima kasih untuk itu.

Dia bilang, dia tau paling sedikit tujuh puluh persen orang Sumba adalah pemeluk Marapu. Cuma tiga puluh persen yang Kristen, Katolik, dan Islam. Itu berlawanan dengan statistik, tentu saja, yang nyebutin pemeluk Marapu cuma tiga puluh persen, sementara sisanya yang lainnya. Marapu dianggap aliran kepercayaan tradisional aja, bukan agama.

Dalam obrolan mabuk gue dengan Bapak Dion suatu malam, dia bilang Marapu harusnya diakui sebagai agama. Para pemeluk Marapu di Sumba itu nyata. Bahkan mereka yang ngaku Kristen pun nggak (sepenuhnya) lepasin kepercayaan mereka terhadap Marapu.

Itu emang bener.

Gue liat sendiri dan jadi bertanya-tanya karena lumayan banyak ajaran Kristen yang bertentangan dengan Marapu. Contoh, ada argumen yang bilang penghormatan pemeluk Marapu kepada leluhur nggak bertentangan dengan ajaran Kristen karena menghormati nggak sama dengan nyembah.

Tapi berdasarkan apa yang gue denger dan baca-baca di beberapa situs online, Marapu ngajarin pemeluknya untuk hormatin leluhur karena mereka udah meninggal, jadi ada di posisi yang lebih deket dengan Tuhan daripada orang-orang yang masih hidup.

Buat gue, itu jelas bertentangan dengan ajaran Kristen. Di Kristen, begitu seseorang meninggal, rohnya akan tidur dan nunggu untuk dibangkitin pada hari penghakiman terakhir. Jadi, mereka nggak ada di posisi yang lebih dekat dengan Tuhan daripada orang-orang yang masih hidup. Kristen juga nggak bicara soal penghormatan ke leluhur karena Tuhan pencemburu dan cuma dia yang boleh ditinggiin.

Contoh lain, Marapu mengenal benda-benda keramat seperti gong, ubbu (liat entri sebelumnya), tanduk kerbau, dan lain-lain. Dalam ajaran Kristen, manusia dilarang untuk mengeramatkan benda atau apa pun. Yang keramat hanya Tuhan.

Gue liat, secara umum, orang-orang Kristen di Sumba tetep hormatin para leluhur, nganggep benda-benda tertentu keramat, dan jalanin sejumlah pantangan pada bulan pamali (wulla podu), yang adalah bulan suci Marapu.

Gue sejujurnya bisa ngerti itu karena sepertinya Marapu dan adat Sumba adalah dua hal yang nyatu banget. Bisa dibilang, kalo lo nggak lakuin sebagian ajaran Marapu, lo membangkang dari adat Sumba.

Gue belum bisa mastiin itu sebenernya. Hal-hal yang gue sebut di atas lebih merupakan pertanyaan-pertanyaan dan persepsi pribadi gue terhadap apa yang gue liat di sana daripada kesimpulan yang pasti kebenarannya.

Kalo ada kesempatan ke sana lagi, mungkin gue perlu ngobrol ama pendeta, rato, dan orang yang bener-bener paham adat Sumba supaya pertanyaan-pertanyaan gue terjawab dan gue bisa hasilin tulisan yang matang.

 

Gue nyampein sesuatu yang agak provokatif ke Bapak Dion. Gue bilang, pengakuan negara terhadap sebuah agama itu nggak dilandasin kepedulian untuk mengakomodasi suara pemeluknya atau fakta bahwa agama itu ada dan berjalan. Ada banyak agama dan aliran kepercayaan yang nggak diakui di Indonesia, sehingga pemeluknya mesti cantumin satu dari agama-agama yang diakui di KTP-nya.

Alasan diakui atau nggaknya sebuah agama bersifat politis. Kata temen gue, yang pengalaman traveling-nya lumayan, ada satu agama yang selalu direkomendasiin untuk dipilih karena kalo seseorang milih itu sebagai agama resminya, urusannya bakal dipermudah dalam hal karier dan segala macem.

Bapak Dion, mabuk, bilang ke gue, sebaiknya kita nggak mikir gitu. Bapak-ibunya, kakek-neneknya, dan para leluhurnya selalu berpesan agar kita nggak membenci, nggak nyakitin orang lain. Segala sesuatu yang bisa nyulut kebencian lebih baik diabaikan aja.

Hilang di Sumba (Bagian Kedua)

Alasan utama Eyang Tuti dan Eyang David ngajak gue ke Sumba adalah mereka pengen gue liat Upacara Podu. Mereka nggak ngasih gue banyak penjelasan tentang itu; mereka cuma bilang, itu berkaitan dengan agama tradisional Sumba: Marapu.

Waikabubak, dari balkon rumah kerabat Eyang Tuti dan David

Waikabubak, dari balkon rumah kerabat Eyang Tuti dan David

Begitu sampe di Sumba, setelah mendarat di Bandara Tambolaka dan tinggal di rumah Opa Kris di kota Waikabubak, gue tanya orang-orang soal upacara itu. Tentu saja gue nggak berondong mereka dengan sejuta pertanyaan. Santai aja. Sambil nongkrong, sambil makan babi hutan, sambil minum Peci.

Intinya, Upacara Podu diselenggarakan setiap wulla podu, bulan suci agama Marapu, yang jatuh sekitar bulan Oktober sampe November. Wulla berarti ‘bulan’, podu berarti ‘pahit’. Bulan pahit. Atau disebut juga ‘bulan pamali’ karena sepanjang bulan itu ada banyak pantangan dan ritual yang harus dijalanin.

Misalnya, pada entri sebelumnya gue bilang gue pengen liat gimana orang Sumba bunuh anjing, tapi nggak sempet karena gue cuma sebentar di sana. Itu bener, tapi yang lebih bener lagi adalah karena saat itu lagi wulla podu. Mereka nggak bunuh anjing pada bulan pamali.

Gimana kalo ada orang meninggal pada wulla podu? Dia nggak akan langsung dikubur. Dia akan disimpan dan penguburan baru dilakuin setelah wulla podu. Orang-orang boleh aja ngelayat, tapi mereka nggak boleh nangis. Atau kalo terlanjur nangis, nggak boleh meraung-raung.

Itu baru pantangan, tepatnya sedikit dari pantangan-pantangan yang ada.

Mengenai ritual (upacara-upacara), ada banyak banget yang mesti dilakuin selama bulan itu. Tujuan utamanya adalah mohon berkat, walaupun ada juga yang menggunakannya untuk bersyukur, bercerita tentang nenek moyang (agama Marapu sangat hormatin nenek moyang), dan nerangin proses penciptaan manusia.

Sepanjang wulla podu banyak orang berburu babi hutan. Mereka berangkat dalam kelompok—bisa dua puluh orang, tiga puluh, empat puluh, berapa aja. Mereka bawa banyak anjing karena hewan-hewan itu udah terlatih mencium keberadaan babi hutan.

Kata Yanto, tamo gue, mereka masuk ke hutan sore menjelang malam, bawa tombak dan tanpa alas kaki, terus naik-turun bukit ngikutin tuntunan anjing-anjing mereka. Biasanya mereka bermalam di hutan dan baru balik besoknya.

Pas seekor babi hutan muncul, nggak peduli ukurannya (besar atau kecil), harus dibunuh. Nggak boleh, misalnya, nunggu yang besar dan biarin yang kecil jadi besar untuk dibunuh taun depan. Itu kayak nolak berkat.

Yang menarik buat gue adalah cara bunuhnya. Salah satu dari para pemburu itu, biasanya yang jaraknya paling deket dengan babi itu, akan lemparin tombaknya dan harus kena pada percobaan pertama. Kalo nggak, hewan itu bisa nyerang balik dan gigit. Itu jelas nggak gampang, apalagi penerangan mereka cuma cahaya bulan.

Setelah dapet babi, mereka akan bawa itu ke lokasi upacara. Gue liat satu upacara di Kampung Tarung, sebuah kampung adat di tengah kota Waikabubak. Malam itu sebenernya nggak ada upacara dalam rencana. Tapi karena sekelompok orang dateng sambil bawa babi hutan dan nyanyi, upacara digelar.

Hewan hasil buruan itu dibawa ke natara podu (halaman suci utama yang terletak di tengah kampung) dan diserahin ke Rato (pemimpin spiritual). Para pemburu kemudian bicara dengan Rato dalam bentuk kajalla (pantun adat berisi tanya-jawab untuk mempertanggungjawabkan suatu perbuatan).

Gue dikasih tau kalo babi hutan pertama yang ditangkep adalah indikator hasil panen. Babi jantan: hasil panen akan memuaskan. Betina dan lagi hamil: hasil panen kurang baik. Kalo babi itu nyerang balik dan gigit pas diburu: bakal ada hama tikus.

Gue liat upacara lagi besok malemnya. Itu upacara yang udah direncanain, jadi rame banget. Ratusan orang dateng ke Kampung Tarung. Ritual awal yang dilakuin sama dengan sebelumnya. Tapi kemudian seorang Rato berdiri di tempat tinggi dan bicara. Semua orang dengerin. Gue nggak ngerti apa-apa karena beliau bicara dengan bahasa daerah.

Setelah itu, acara dilanjutin dengan ronggeng sampe matahari terbit. Lada talla, kerangka bambu untuk gantung gong sakral, didiriin. Ada yang mukul ubbu, gendang keramat yang hanya digunain pada ritual ini (setaun sekali). Menurut Bapak Epo, lapisan atas ubbu terbuat dari kulit manusia, yang mana itu dibenarkan ama beberapa orang lain. Apa emang bener-bener gitu atau nggak, gue mesti cari tau lebih jauh.

Ya udah, acara berjalan kayak gitu. Dengan iringan musik sederhana, seseorang bernyanyi. Begitu capek, digantiin ama orang lain. Siapa aja bisa nari di natara podu itu. Gue nonton dari pinggir bareng Suzanne. Dia bilang, semua itu luar biasa. Apa yang dia liat di Sumba kayak berasal dari dunia lain.

Terus gue mabuk.

Nggak tau lagi Suzanne di mana.

Yang jelas, gue ada di dunia lain.