Hilang di Sumba (Bagian Pertama)

Gue mau cerita tentang proses penamaan dan kebiasaan minum orang Sumba di artikel ini. Tentu saja pengetahuan gue lebih banyak didapet di jalanan, hasil nongkrong di sana-sini, jadi nggak akan sedetail atau selengkap, katakanlah, buku-buku antropologi.

Seorang pria, gue, dan Yanto

 

Di Sumba, untuk alasan yang lupa gue tanya, umumnya orang punya dua nama—nama resmi dan nama Sumba. Misalnya, salah satu sodara gue di sana bernama resmi Yanto dan bernama Sumba Lele Leba Ari. Dia punya anak perempuan bernama resmi Puan Maharani dan bernama Sumba, kalau nggak salah, Lali Lala Tewu.

Saat lo udah punya anak, orang-orang makin jarang manggil lo dengan nama lo—mereka manggil lo sebagai bapak atau ibu dari seseorang. Yanto, misalnya, hampir selalu dipanggil ‘Bapak Puan’ atau ‘Ama Lali’ (ama berarti bapak atau ayah). Istri Yanto, Marlin Ngara, dipanggil ‘Mama Puan’ atau ‘Mama Lali’. Katanya, itu sedikit-banyak berhubungan dengan status sosial—untuk jelasin dengan baik, sekarang gue belum bisa, mesti bergaul dan neliti lebih banyak lagi.

Alhasil, hampir semua orang yang gue temuin di sana, gue justru tau nama anak mereka, bukan nama asli mereka. Bapak Masker, Bapak Crespo, Bapak Dion, Bapak Rio, Mama Angel, Mama Benny, dan lain-lain.

Banyak orang Sumba juga punya nama yang luar biasa. Salah satu saudari gue di sana bernama Ina—kependekan dari Wilhelmina. Ada anak kecil yang dipanggil Epo—nama aslinya ‘Crespo’. Gue juga bertemen ama pemuda bernama Guterrez. Masih banyak lagi nama-nama hebat kayak gitu.

 

Beda dari di Jawa, minum minuman keras secara umum dilakuin semua orang di Sumba. Itu bukan sesuatu yang secara khusus dianggep buruk (walaupun kalo lo minum kebanyakan, mabuk, terus bikin onar, ya jelas itu buruk). Kurang-lebih sebaliknya, minuman keras dianggep lambang persaudaraan.

Jam berapa pun lo ke luar rumah, setiap dua puluh atau tiga puluh meter (di dalam kota), lo bakal liat orang minum. Yang nggak punya kerjaan minum sambil main kartu. Yang lagi istirahat dari kerja minum sambil ngobrol. Bahkan mereka yang kerja di sawah mesti minum dulu, atau kerja sambil minum, supaya semangat—gue ngerti itu karena kalo kerjaan lo ngebosenin, keadaan mabuk bantu lo untuk tetep bergerak.

Ada dua jenis minuman di sana: minuman Jokowi dan minuman Prabowo. Minuman Jokowi adalah Peci, kependekan dari Penaraci. Disebut begitu karena harganya murah, merakyat, cuma sepuluh ribu per botol, jadi siapa pun bisa beli. Minuman Prabowo adalah minuman dari Flores bernama Moke (atau Sopi). Lebih keras, emang, tapi mahal, empat puluh sampai lima puluh ribu per botol. Karena alesan itu, Peci dikonsumsi tiap hari, sementara Moke sesekali aja.

Biasanya orang sana minum sambil makan daging babi atau babi hutan atau anjing (yang disebut rintek wuuk alias RW). Selama di sana, setiap hari, dari malem sampe pagi, gue mabuk sambil makan babi atau babi hutan—sekali daging bebek, yang dipotong hidup-hidup di depan mata gue, ngucurin darah, terus dibakar.

Babi hutan abis diburu

Babi hutan abis diburu

Sekali gue minum sambil makan RW dan gue nggak kuat. Setelah dua-tiga jam, badan gue berasa terlalu panas dan gue muntah. Muntahan gue masih berbentuk potongan-potongan utuh RW. Gue jadi salut ama orang-orang sana. Kok bisa mereka kombinasiin minuman keras ama daging anjing?

Tuntutan yang tinggi terhadap daging anjing bikin anjing-anjing di sana sering dicuri. Opa Kris, misalnya, pernah kemalingan dua anjing. Si pencuri cuma perlu jual anjing tangkapannya ke pembuat RW. Pasti laku. Itu bisnis panas.

Gue sebenernya pengen liat gimana mereka bunuh anjing, tapi nggak sempet karena gue nggak lama di sana. Pada kunjungan gue berikutnya, itu sesuatu yang mesti gue lakuin. Bukan karena gue nggak berperasaan—gue penyayang binatang, terutama anjing dan kucing—tapi karena gue pengen memahami orang Sumba lebih dalam.

Katanya, mereka melakukannya dengan ngasih seekor anjing makan. Saat perhatian si anjing teralihkan, seseorang akan mukul kepalanya kuat-kuat pake kayu. Harus kuat, karena kalo nggak, anjing itu nggak akan langsung mati dan menderita.

 

Kalo orang dari Sumba suka ama lo, dia akan membagi namanya ke lo. Saat dia mutusin untuk lakuin itu, itu berarti dia nganggep lo sodara, akan jaga dan perhatiin keadaan dan kebutuhan lo.

Contoh: seorang Sumba bernama Lewu seneng bergaul dan ngerasa deket ama lo. Dia nggak akan ragu untuk membagi namanya ke elo. Lo jadi Lewu juga. Lo jadi sodaranya. Itulah yang disebut tamo. Artinya, sodara yang dikasih nama sama.

Yanto, atau Lele Leba Ari, membagi namanya ke gue. Gue jadi Lele Leba Ari. Gue adalah sodaranya. Dia adalah sodara gue. Dia manggil gue tamo. Gue manggil dia dan istrinya tamo. Kalo gue punya istri, mereka akan manggil dia tamo juga.

Hilang di Sumba (Pengantar)

Beberapa bulan yang lalu, gue berkesempatan pergi ke Sumba. Gue nggak lama di sana, cuma dua minggu, tapi pengalaman yang gue dapet berkesan banget. Pengalaman yang liar sekaligus hangat, dinamis sekaligus kontemplatif. Bisa dibilang, itu salah satu pengalaman travel terbaik dalam hidup gue.

 

Sumba adalah pulau yang sunyi. Luasnya 11.153 kilometer persegi, jumlah penduduknya 685.186 (berdasarkan sensus tahun 2010). Bandingin ama Bali. Luasnya 5.780 kilometer persegi, penduduknya 4.225.000.

Dateng ke Sumba kayak masuk ke alam liar. Into the wild. Kalo di pulau Jawa kota-kota dan desa-desa seperti ngepung hutan, di Sumba justru sebaliknya: hutan ngepung kota dan desa.

Jangan bayangin kota di sana kayak Jakarta, Yogyakarta, atau Denpasar. Kota di sana masih jauh tertinggal, belum dikembangin dengan baik. Di banyak area nggak ada lampu jalan, sehingga suasana gelap gulita pada malam hari. Salah satu sumber uang terbesar adalah kalo elo kerja di SPBU Pertamina. Nggak ada kafe yang nyajiin berbagai jenis kopi dan muter musik jazz. Nggak ada bar dengan band-band blues. Nggak ada klub malam yang bising dan muntahin para pemabuk.

Tapi itulah keistimewaannya.

Segalanya murni, murni banget, sampe tahap yang bisa ngubah perspektif lo.

Yang lebih istimewa lagi, Sumba adalah satu-satunya tempat di dunia di mana penguburan megalithic (batu besar) masih jadi tradisi kuat yang dijalanin sepenuh hati ama masyarakatnya. Itu menarik minat para akademisi dari seluruh dunia sejak lama. Contoh kecil, di sana gue temenan ama Suzanne Villeneuve, akademisi dari Simon Fraser University di Kanada, yang ngunjungin Sumba untuk ketiga kalinya dalam rangka penelitian. Taun depan, katanya, dia mau ngurus pendanaan untuk kelanjutan risetnya dan tinggal dua-tiga bulan.

 

Kepergian gue ke Sumba sebenernya kebetulan aja. Waktu itu gue masih tinggal di Bali. Kedua eyang gue dari Australia, Tuti Gunawan dan David Mitchell, dateng ke Bali dan ngundang gue ke hotel mereka di Ubud. Gue maen ke sana. Terus kita pergi makan malem di satu restoran India dan nonton Festival Seni dan Budaya Desa.

Pada satu titik dalam percakapan kita selama dua-tiga jam itu, mereka bilang mereka mau ke Sumba dan ngajak gue. Gue iyain. Kenapa nggak?

Eyang David bukan orang asing di pulau itu. Dia Kepala Dinas Kesehatan pertama di sana. Bareng Eyang Tuti, dia dateng ke Sumba pertama kali taun 1969 dan ngobatin orang-orang sakit.

Eyang Tuti sendiri seorang antropolog. Banyak tulisannya bicara seputar Sumba. Tesisnya, Hierarchy and Balance: A Study of Wanokaka Social Organization, dibukuin dan jadi sumbangan berarti dalam dunia antropologi.

Dateng ke Sumba ama mereka dan diperkenalkan sebagai cucu mereka, gue kayak pake jalur khusus. Penerimaan yang gue dapet baik banget dan hangat. Eyang Tuti dan Eyang David emang udah lama diangkat secara adat sebagai angua (saudara) dari Pak Kris, warga asli Sumba, sehingga gue otomatis jadi cucu Pak Kris—gue manggil beliau ‘opa’ sekarang.

Dalam waktu singkat, gue dianggep dan diperlakukan sebagai keluarga. Hebatnya, semuanya kerasa murni dan tulus banget—itu sesuatu yang orang Jawa masa kini (terutama orang Jakarta), yang budayanya secara umum udah luntur akibat westernisasi, mungkin nggak bisa bayangin.

Sumba adalah kebalikan dari Jawa.

At least itu yang gue rasain selama di sana.

Di sana gue dapet pengalaman-pengalaman hebat yang bikin gue mikir ulang tentang human nature, tanggung jawab sosial, dan macem-macem. Gue akan bahas semua itu di artikel-artikel berikutnya.

Please Leave a Review on TripAdvisor

Kalo lo makan di daerah-daerah wisata di Bali, satu hal jelas banget: mereka sangat ngandelin TripAdvisor. Hampir di tiap restoran atau kafe, ada tulisan yang intinya minta lo cerita ke temen lo atau tinggalin ulasan di situs itu kalo lo punya kesan dan pengalaman positif.

Dan itu strategi yang jitu.

Area Kuta, Bali

Bali adalah tempat yang penuh turis dan traveler—orang-orang yang hari ini ada, besok belum tentu. Beriklan secara konvensional nggak ada gunanya. Mereka nggak nonton program TV lokal, nggak baca koran atau majalah setempat.

Selain itu, sebagian besar mereka adalah anak muda. Generasi internet. Generasi yang liat Google Maps saat mau pergi ke suatu tempat, ngecek TripAdvisor saat mau cari makan, nongkrong, atau party.

Gue jadi inget buku Purple Cow karya Seth Godin. Di situ Godin bicara tentang era Before Advertising, During Advertising, dan After Advertising.

Before Advertising, there was word of mouth. Products and services that could solve a problem got talked about and eventually got purchased. The best vegetable seller at the market had a reputation, and her booth was always crowded.

During Advertising, the combination of increasing prosperity, seemingly endless consumer desire, and the power of television and mass media led to a magic formula: if you advertised directly to the consumer (every consumer), sales would go up. A partnership with the right ad agency and the right banker meant you could drive a company to be almost as big as you could imagine.

After Advertising, we’re almost back where we started. But instead of products succeeding by slow and awkward word of mouth, the power of our new networks allows remarkable ideas to diffuse through segments of the population at rocket speed.

Buku Seth Godin

Salah satu poin yang Godin sampein dalam buku itu adalah kita udah tiba di era After Advertising. Iklan emang belum bener-bener mati, tapi giginya udah keropos. Dan itu terlihat jelas di daerah-daerah turistik di Bali, yang crowd-nya didominasi generasi muda—generasi kita. Restoran burger favorit gue di Bali, misalnya, rame hanya karena TripAdvisor, padahal lokasinya nggak ideal, agak susah dicari.

Di masa depan nanti generasi orangtua kita, Generasi TV, bakal lewat. Generasi kita akan sepenuhnya dominan. Mungkin segalanya bisa dibangun di atas prinsip itu: please tell your friends or leave a review on TripAdvisor (dan media sosial secara umum, tentu saja).